“. ….memberi di kala sulit adalah investasi yang tidak tercatat di buku besar, tetapi selalu membayar di saat yang tak terduga._
Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukanlah kecerdikan menghindar, melainkan keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah sistem yang semakin transaksional.
Dan mungkin, di negeri yang lupa cara percaya ini, kebaikan sederhana seperti pasir untuk masjid—diberikan oleh tangan yang justru tidak beriman pada masjid itu—adalah doa yang paling jujur: semoga kita semua masih layak disebut saudara.”
“Masa depan teknologi dunia ada di China”, Kalimat itu pernah diucapkan oleh KH. Imam Jazuli dari Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. Saya mendengarnya pertama kali dalam sebuah forum, dan waktu itu saya menganggapnya berlebihan, apalagi mengetahui beliau merekomendasikan anak-anak melanjutkan pendidikan ke sana. Hari ini, saat duduk di gerbong Whoosh yang melaju 350 kilometer per jam dari Jakarta menuju Bandung, kalimat itu terasa seperti ramalan yang sudah menjadi kenyataan.
Beberapa waktu lalu, saya menulis tentang cermin di KRL : tentang pandangan yang bisa menjadi hak, dosa, dan betapa siapa pun bisa jadi korban di ruang publik yang penuh sesak. Tulisan itu lahir dari kegelisahan sederhana: di dalam gerbong yang berdempetan, kita sebenarnya sedang apa? Kita rapat, tapi mampukah saling melindungi ?
Hari ini, saya membawa cermin itu ke tempat yang berbeda: ke gerbong Whoosh, kereta cepat Jakarta–Bandung, yang melayang di atas rel dengan teknologi maglev—bukan sekadar cepat, tapi nyaris tanpa gesekan.
Di Dalam Perut Naga
Pukul 08.45. Stasiun Halim. Saya menaiki Whoosh dengan koper kecil dan pikiran yang tidak ringan. Begitu pintu geser terbuka, udara dingin menyambut. Karpet biru gelap, kursi abu-abu berbaris rapi seperti kelas bisnis pesawat. Layar digital di setiap ujung gerbong menampilkan suhu, kecepatan, dan rute: Halim–Padalarang–Tegalluar.
Tepat pukul 09.00, kereta bergerak. Hampir tanpa suara. Tidak ada hentakan, tidak ada decit roda di rel. Hanya getaran halus di telapak kaki, seperti dengkuran mesin yang tertahan. Di luar jendela, Jakarta menyusut cepat: siluet gedung-gedung tinggi, atap-atap rumah padat, lalu hamparan sawah yang berubah menjadi garis-garis hijau kabur.
Di layar, angka kecepatan terus melompat: 180, 240, 310, 350. Penumpang di sekitar saya sibuk dengan ponsel masing-masing. Seorang ibu memotret layar kecepatan. Seorang pria berjas mengetik email. Dua remaja berswafoto dengan latar jendela.
Tapi di dalam kepala saya, justru melambat. Dan berhenti pada satu ironi: saya baru saja mendengar cerita tentang transaksi yang tidak akan pernah tercatat di sistem.
Dolar Singapura, Notaris, dan Distrust yang Diam-diam Membunuh
Beberapa hari sebelum menaiki Whoosh, seorang kawan menceritakan caranya membeli aset di sebuah daerah. Detailnya sederhana, nyaris rutin, dan justru karena itu menakutkan.
Di hadapan notaris lokal, ia membayar “seperlunya”—angka yang cukup untuk membuat akta terlihat wajar di mata hukum. Berapa? Ia tidak menyebut. Tapi dari caranya tersenyum, saya tahu angka itu jauh di bawah nilai sebenarnya.
Sisanya? Dibayar tunai dalam dolar Singapura, diserahkan di Bandung.
“Dolar Singapura lebih aman,” katanya. “Nggak mudah dilacak, nilainya stabil, dan nggak kena pajak.” Ia mengucapkannya dengan nada datar, seperti seorang akuntan yang sedang menjelaskan strategi legal, bukan seorang warga negara yang sedang mengakui penggelapan.
Saya mendengar cerita itu tanpa terkejut. Bukan karena saya pikir itu benar, melainkan karena saya tahu persis: ini bukan pengecualian. Ini pola. Pajak dianggap beban, bukan kontribusi. Sistem formal dianggap musuh, sehingga yang informal—bahkan yang abu-abu—justru dianggap sebagai “jalan keselamatan.”
Persis seperti penumpang KRL yang memilih diam saat melihat pelecehan, karena tidak percaya sistem akan melindunginya jika ia bersuara. Persis seperti pedagang kecil yang lebih percaya pada koperasi harian dan arisan ketimbang bank. Persis seperti pengusaha yang menyimpan dolar di brankas, bukan rupiah di rekening.
Sementara itu, dari balik jendela Whoosh, saya melihat negeri ini melaju. Tapi di dalam kepala, saya mendengar cerita lain: tentang pengusaha pasir Tionghoa, non-muslim, yang baru pulang kuliah dari Amerika. Tentang usaha yang nyaris kolaps. Tentang utang. Dan tentang sebuah telepon yang menyelamatkan nyawanya.
Pasir, Masjid, dan Bromocorah
Cerita itu disampaikan langsung oleh sang pengusaha pasir kepada saya, suatu malam, dengan suara yang tenang tapi matanya basah.
Ia bercerita tentang dirinya yang baru pulang kuliah dari Amerika. Ayahnya menyerahkan usaha pasir yang nyaris kolaps. Nol penghasilan, penuh utang.
Di titik terendah ekonominya, panitia pembangunan masjid di kawasan Gandus meminta bantuan pasir. Yang meminta bahkan digerakkan oleh seorang yang disebut-sebut sebagai “bromocorah besar”—preman kelas kakap.
Ia tidak menghitung untung rugi. Ia setuju, dengan satu syarat: panitia ambil sendiri ke lokasi.
Itu bukan persyaratan dagang. Itu batas kemampuan. Di tengah kesulitan yang mencekik, ia memberi. Tulus. Tanpa pamrih.
Ironis, bukan? Negara dan sistem formal ia hindari dengan dolar cash, tapi kebaikan sosial justru ia utamakan tanpa kalkulasi. Di KRL, kita belajar bahwa pandangan bisa menjadi dosa. Di Whoosh, saya belajar bahwa kecepatan bisa menjadi ilusi—kita merasa maju, padahal jiwa kita masih tertinggal di transaksi-transaksi abu-abu.
Waktu terus berjalan, kondisi tetap pas-pasan. Suatu hari, armada pasirnya menuju proyek di pedalaman. Dicegat penduduk lokal. Pulang dengan tangan hampa. Esoknya dikawal aparat “bayaran”—tetap gagal. Logika bisnis bilang: berhenti. Tapi ia perintahkan awaknya tetap bertahan di sana, karena biaya mobilisasi dua kali sudah membengkak. Ini bukan keras kepala; ini perhitungan eksistensial—kalau pulang, mati perlahan.
Ketika penduduk dan “bromocorah lokal” berkumpul di pinggir kota minta bertemu, ia pergi sendiri. Uang di saku tinggal cukup untuk makan. Wajah-wajah asing, warna kulit berbeda, raut beringas. Bayangan paling kelam seorang pengusaha minoritas di tengah “wilayah orang lain.”
Dialog pun terjadi:
“Kalau kau benar punya usaha di Gandus, pasti kau kenal A?”
“Benar.”
Telepon berdering. Di ujung sana, si A—tokoh yang dulu dibantu pasir untuk masjid—menjawab:
“Iya, dia saudara kita. Jangan diganggu.”
Seketika, lautan manusia mencair. Pasir pun melaju.
Daya Magnetis yang Tidak Masuk Buku Besar
Saat Whoosh terus melaju menembus terowongan-terowongan gelap, saya merenungkan apa yang sebenarnya terjadi dalam kisah itu. Bantuan pasir untuk masjid—di tengah kesulitan—tidak pernah dibayar dalam dolar Singapura. Ia terbayar dalam bentuk trust, jaringan sosial, dan akhirnya keselamatan usaha di saat kritis.
Saya menyebutnya daya magnetis. Bukan dalam arti fisika, tapi dalam arti sosial: kekuatan tak terlihat yang membuat orang-orang—bahkan para bromocorah—secara refleks melindungi seseorang yang pernah berbuat baik.
Seperti Whoosh yang melayang di atas rel tanpa menyentuhnya, pengusaha pasir itu “melayang” melewati rintangan. Ia tidak menyentuh rel formal yang rusak. Ia tidak bersentuhan dengan hukum yang tumpul, aparat yang bisa disewa, atau premanisme yang siap menghadang. Ia digerakkan oleh medan magnet sosial yang dibangun dari satu tindakan sederhana: memberi pasir tanpa pamrih.
Tapi di sinilah ironi terbesarnya. Whoosh adalah puncak teknologi China—dibangun dengan infrastruktur presisi: rel khusus, sistem kontrol canggih, stasiun megah. Daya magnetisnya bekerja karena sistemnya dirancang untuk itu.
Sebaliknya, daya magnetis dalam kisah ini justru bekerja di tengah infrastruktur yang nyaris runtuh. Aparat bayaran gagal mengamankan. Hukum tidak berbunyi. Kontrak tidak berlaku. Yang bekerja hanyalah memori kolektif sebuah kampung tentang seseorang yang pernah memberi.
Di KRL, saya pernah menulis bahwa siapa pun bisa jadi korban. Di Gandus, saya menemukan sisi lain dari kalimat itu: siapa pun bisa jadi penyelamat. Bahkan seorang Tionghoa non-muslim yang sedang nyaris bangkrut, bahkan seorang bromocorah yang oleh sistem justru dianggap sampah masyarakat.
Cermin yang Sama, Kecepatan yang Berbeda
KH. Imam Jazuli mungkin benar: masa depan teknologi dunia ada di China. Saya merasakannya langsung di dalam Whoosh ini. Tetapi kalimat itu juga menyimpan pertanyaan yang lebih dalam: teknologi apa yang akan menyelamatkan kita dari diri kita sendiri?
China mengajarkan bahwa kepercayaan pada sistem—seburuk apa pun awalnya—adalah prasyarat lompatan. Mereka membangun institusi, menegakkan aturan main, dan menciptakan ekosistem yang memungkinkan inovasi tumbuh. Whoosh yang saya tumpangi ini adalah buktinya: teknologi yang lahir dari sistem yang bekerja.
Kisah pengusaha pasir ini justru mengajarkan sebaliknya: ketika sistem gagal, kepercayaan antar-oranglah yang menjadi infrastruktur terakhir. Ini bukan pilihan ideologis. Ini realitas darurat yang dijalani jutaan orang Indonesia setiap hari—dari pedagang kecil yang mengandalkan koperasi harian dan arisan, hingga pengusaha yang selamat karena “orang dalam,” hingga penumpang KRL yang hanya bisa berdoa agar tidak menjadi korban berikutnya.
Di KRL, infrastruktur terakhir itu bernama keberanian untuk bersuara saat melihat pelecehan. Di Gandus, infrastruktur itu bernama memori kebaikan yang disimpan oleh orang-orang yang bahkan tidak kita kenal.
Cermin yang Pecah di Pejompongan
Namun saat menulis ini, saya teringat pada seorang lelaki bernama Bambang Setiyawan. Usianya 59 tahun. Pekerjaannya: pedagang cermin.
Ia meninggal pada malam 27 Agustus 2026, di kawasan Pejompongan, setelah ratusan ribu suara membubung di depan Gedung DPR/MPR. Senja berganti malam yang kelam, dan di tengah kerumunan itu, Bambang meregang nyawa.
Di titik lain, di Slipi, sesosok figur kontroversial turun dari kendaraannya—Rozario de Marshall, yang lebih dikenal sebagai Hercules, memimpin rombongan ormas GRIB Jaya.
Dua titik. Satu malam. Dan pertanyaan yang menggantung: apakah kematian seorang pedagang cermin dan kehadiran seorang “bromocorah besar” terhubung dalam rantai peristiwa yang sama?
GRIB Jaya membantah keterlibatan. Hercules, kata mereka, turun justru untuk membubarkan massa perusak, bukan peserta demonstrasi. Tapi publik dan aktivis HAM tak mudah percaya. Usman Hamid dari Amnesty International Indonesia mengingatkan pada trauma lama: Pam Swakarsa, di mana warga sipil diadu dengan sesama sipil.
Saya tidak akan menghakimi. Tapi saya ingin bertanya: di mana bedanya bromocorah yang menyelamatkan pengusaha pasir di Gandus, dengan bromocorah yang kini membuat publik ketakutan di Jakarta?
Jawabannya, saya kira, bukan pada siapa mereka, melainkan pada relasi apa yang mendahului kehadiran mereka.
Di Gandus, kehadiran bromocorah didahului oleh kebaikan: pasir untuk masjid, diberikan tanpa pamrih. Maka yang lahir adalah perlindungan.
Di Jakarta, kehadiran bromocorah tidak didahului oleh relasi kemanusiaan, melainkan oleh panggilan kekuasaan. Maka yang lahir adalah ketakutan.
Inilah pelajaran yang paling pahit: ketika negara mundur, ruang kosong itu tidak pernah benar-benar kosong. Ia diisi oleh siapa saja—kadang oleh kebaikan personal yang menyelamatkan, kadang oleh kekerasan terorganisir yang menghancurkan.
Dan di antara dua kemungkinan itu, seorang pedagang cermin bernama Bambang Setiyawan menjadi korbannya.
Penutup: Dari Gerbong ke Gerbong, Dari Cermin ke Cermin
Pukul 09.42. Whoosh melambat memasuki Stasiun Padalarang. Perjalanan Jakarta–Bandung terasa seperti satu tarikan napas. Penumpang mulai beranjak, meraih koper, merapikan jaket. Saya tetap duduk sejenak, menatap layar yang kini menampilkan kecepatan nol.
Saya pernah bertanya “bisakah kita saling melindungi di ruang publik yang semakin rawan?” Kisah dari Gandus ini, bagi saya, adalah jawaban yang tidak terduga.
Kita bisa. Meski sistem gagal, meski hukum tumpul, meski preman berkuasa—kita masih bisa saling menyelamatkan. Bukan lewat aturan, bukan lewat aparat, tapi lewat ingatan sederhana: bahwa orang ini pernah baik kepada kita, maka ia layak disebut saudara.
Maka, ketika kita sibuk mengatur aliran dolar agar luput dari pajak, dan terpesona oleh loncatan teknologi asing—termasuk Whoosh yang melayang di atas rel—jangan lupakan local wisdom paling tua: memberi di kala sulit adalah investasi yang tidak tercatat di buku besar, tetapi selalu membayar di saat yang tak terduga.
Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukanlah kecerdikan menghindar, melainkan keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah sistem yang semakin transaksional.
Dan mungkin, di negeri yang lupa cara percaya ini, kebaikan sederhana seperti pasir untuk masjid—diberikan oleh tangan yang justru tidak beriman pada masjid itu—adalah doa yang paling jujur: semoga kita semua masih layak disebut saudara.
Cermin di KRL mengajarkan kita untuk melihat. Cermin di Whoosh mengajarkan kita untuk berhenti sejenak. Cermin di Gandus mengajarkan kita untuk dikenang. Cermin di Pejompongan mengajarkan kita bahwa cermin bisa pecah, bersama manusia yang menjualnya.
Whoosh mengajarkan bahwa daya magnetis bisa menggerakkan kereta tanpa menyentuh tanah. Kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan bisa menyelamatkan nyawa tanpa menyentuh sistem. Dan Bambang Setiyawan mengajarkan bahwa ketika kebaikan itu tidak hadir, yang tersisa hanyalah pecahan kaca yang melukai.










































































