Suara mesin penggiling kacang dan sambal memecah kesunyian pagi. Di sebuah sudut Kota Bekasi, di hadapan tumpukan cabai dan kacang tanah, Paini tersenyum sembari mengawasi proses produksi usaha kulinernya, Bumbu Pecel Yuk Ni. Bunyi mesin itu adalah nyanyian perubahan hidup.
Bertahun-tahun lalu, perempuan setengah baya itu berkali-kali menghadapi berbagai penolakan saat mencari pekerjaan. Tubuhnya yang kecil dan kondisi fisik yang tidak sempurna kerap menjadi alasan pintu kesempatan tertutup di hadapannya. “Saya sering ditolak karena dianggap tidak mampu bekerja,” kenangnya.

Ibu Paini bersama rekan-rekan
Ia tak menyerah dengan membuka usaha sambal pecel rumahan. Namun seperti banyak pelaku usaha mikro lainnya, keterbatasan modal dan alat produksi membuat usahanya berjalan lambat. Produksi sambal hanya bisa dilakukan dalam jumlah kecil sehingga sulit memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah.
Rumah BUMN Bekasi
Titik balik itu datang ketika Paini bergabung dengan Rumah BUMN Bekasi di mana Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi pengampu dan penanggung jawab. Melalui program pembinaan dan bantuan alat produksi yang diberikan BNI, kapasitas usahanya meningkat drastis.
“Dulu saya hanya bisa memproduksi sambal sedikit. Tapi sekarang, dengan bantuan dari BNI, saya bisa menggiling sambal minimal 10 kilogram setiap dua hari sekali,” ujarnya.
Yang lebih penting, keberhasilan Paini tidak berhenti pada dirinya sendiri. Di dapur produksi sederhana itu, ia kini melibatkan sejumlah perempuan di lingkungan tempat tinggalnya. Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga. Beberapa lainnya adalah sesama penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan serupa dalam memperoleh pekerjaan formal.
Mereka tidak sekadar membantu mengolah sambal. Mereka sedang membangun kembali rasa percaya diri dan kemandirian ekonomi yang selama ini sulit diraih.
“Melalui usaha ini, kami ingin membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berkarya,” kata Paini.
Pelaku UMKM lain yang mendapatkan manfaat dari Rumah BUMN Bekasi Wida Farida mengakui betapa besar pengaruh pendampingan dari BNI pada usahanya sehingga produknya Kue Cincin Mpok Wida semakin berkembang pesat bahkan sampai ke mancanegara.
“Banyak pengetahuan baru yang diperoleh dari pembinaan BNI, mulai dari teknik pengemasan produk yang lebih menarik, cara menghitung harga pokok produksi (HPP), strategi pemasaran dan penjualan terutama secara online, hingga teknik berjualan yang efektif saat mengikuti pameran dan bazar,” ungkapnya.
Kisah Paini dan Wida menggambarkan pendampingan dari BNI, juga dari BUMN lain, sangat penting untuk meningkatkan kemandirian kaum perempuan.
Fasilitator Rumah BUMN Bekasi Rezzas Razzes Al Farabi menjelaskan bahwa BNI sangat berjasa dalam mengembangkan pelaku UMKM, antara lain mengadakan pelatihan formal maupun informal 20 kali setiap tahun.
“Manfaat yang dirasakan oleh umkm terutama yang menjadi binaan Rumah BUMN Bekasi mereka mendapatkan fasilitas berupa kegiatan pelatihan, pendampingan dan literasi yang mengarah kepada pengembangan usaha terutama dalam meningkatkan penjualan,” ungkapnya.
Bahkan bagi pelaku UMKM yang memenuhi persyaratan bisa mendapatkan bantuan permodalan dengan biaya yang murah karena memakai skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Bantuan permodalan yang telah digelontorkan BNI dengan skema KUR kepada UMKM yang bergabung dalam Rumah BUMN Bekasi lumayan besar. Ratusan juta Rupiah,” lanjut Rezzas.
Nyaman untuk Pelaku UMKM Perempuan
Secara nasional, berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UMKM, terdapat 64,5 juta UMKM. Sekitar 59 persen hingga 64,5 persen dari keseluruhan UMKM itu dikelola kaum perempuan. Angka itu menunjukkan bahwa perempuan bukan lagi sekadar pelengkap dalam kegiatan ekonomi, melainkan menjadi aktor utama yang menopang ketahanan ekonomi keluarga sekaligus perekonomian nasional.
Sejak didirikan pada 2017, Rumah BUMN BNI Bekasi telah menjadi rumah kedua bagi lebih dari ribuan pelaku UMKM. Di tempat ini, para pelaku usaha memperoleh pelatihan, pendampingan bisnis, penguatan pemasaran, hingga dukungan pengembangan produk.
Menurut Rezzas Razzes Al Farabi, pada 2025-2026 penerima manfaat di lembaganya sudah mencapai 700 pelaku usaha, 80 persen dari mereka atau sekitar 550 lebih dikelola kaum perempuan. “Ini menunjukkan semangat tinggi kaum perempuan untuk membantu kemandirian ekonomi keluarga,” ungkapnya.
Rumah BUMN Bekasi lebih banyak mengadakan pertemuan bersifat bincang santai, diskusi tanpa merasa menggurui, dan curhat pendapat, sehingga pelaku UMKM bisa langsung menyampaikan kendala dan hambatan dalam berusaha.
“Kebetulan, owner atau pemilik usaha yang kebanyakan merupakan kaum perempuan atau ibu-ibu pengusaha merasa sangat terbantu dengan cara itu dan bisa merasakan langsung dampaknya karena memberikan solusi terhadap persoalan yang muncul,” ungkap Rezzas bangga.
Menurut Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, sebagaimana dikutip dalam laman bni.co.id, keberadaan Rumah BUMN merupakan bentuk nyata peran BNI sebagai agent of development yang hadir langsung di tengah masyarakat. Program tersebut membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.
“Kadang-kadang perubahan lahir dari ruang pelatihan sederhana, dari percakapan antara mentor dan pelaku usaha, atau dari sebuah alat produksi yang memungkinkan seseorang meningkatkan kapasitas usahanya,” ujarnya.
Perempuan Berdaya, Komunitas Berkembang
Di Indonesia, perempuan sering kali menjadi pengelola keuangan rumah tangga sekaligus pencari nafkah tambahan. Ketika mereka memperoleh akses terhadap pengetahuan, modal, dan kesempatan, manfaatnya selalu mengalir pada seluruh keluarga dan bahkan masyarakat sekitar. Anak-anak memperoleh pendidikan yang lebih baik, kesejahteraan meningkat, dan lingkungan sekitar mendapatkan peluang kerja baru. Pada akhirnya, ekonomi lokal pun bergerak.
Di tengah gejolak ekonomi nasional, kisah Paini dan Wida menjadi pengingat bahwa pembangunan harus menyentuh relung terdalam kemanusiaan, dengan menciptakan kesempatan, kepercayaan, dan uluran tangan yang membantu seseorang untuk bangkit.
Melalui Rumah BUMN Bekasi, BNI menunjukkan bahwa inklusi ekonomi bukan sekadar slogan korporasi, walakin merupakan kisah nyata seorang perempuan yang berhasil mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Ketika seorang perempuan berdaya, yang tumbuh dan berkembang adalah sebuah kawasan dan sekelompok komunitas.















































































