Suara mesin penggiling kacang dan sambal memecah kesunyian pagi. Di sebuah sudut Kota Bekasi, di hadapan tumpukan cabai dan kacang tanah, Paini tersenyum sembari mengawasi proses produksi usaha kulinernya, Bumbu Pecel Yuk Ni. Bunyi mesin itu adalah nyanyian perubahan hidup.
Bertahun-tahun lalu, perempuan setengah baya itu lima kali menghadapi berbagai penolakan saat mencari pekerjaan. Setiap kali pulang dari wawancara kerja, Paini selalu membawa pulang jawaban yang sama. Tubuhnya yang kecil dan kondisi disabilitas membuat banyak perusahaan ragu menerimanya. Di tempat tinggalnya yang sederhana, ia hanya bisa menatap anak-anaknya sambil bertanya dalam hati: dari mana biaya hidup bulan depan akan datan
Ia tak menyerah dengan membuka usaha sambal pecel rumahan. Namun seperti banyak pelaku usaha mikro lainnya, keterbatasan modal dan alat produksi membuat usahanya berjalan di tempat. Ada masa ketika Paini hanya mampu membeli beberapa kilogram kacang dan cabai. Pesanan datang, tetapi ia tak memiliki alat untuk memenuhi permintaan. Berkali-kali ia menolak pembeli karena stok tidak tersedia. “Kalau mengingat masa itu, rasanya ingin menangis lagi,” ungkapnya mengenang.

Ibu Paini (bergaun merah) bersama rekan-rekan
Di sudut lain Bekasi, perjuangan serupa dijalani Wida Farida. Beberapa tahun lalu, perempuan itu membuat kue cincin secara sederhana dari rumahnya. Produksi dilakukan dengan peralatan terbatas dan penjualan dilakukan di pinggir jalan.
Di tengah debu jalanan, kepulan asap kendaraan, suara bising knalpot, dan teriakan tukang parkir liar menjadi teman, Wida menjual kue cincin yang dibuatnya sendiri. Hasilnya tak banyak, sekitar Rp 400 ribu per-pekan.
Ada hari-hari ketika hujan atau gerimis turun sebelum seluruh dagangannya habis terjual. Dengan dada terasa sesak, Wida hanya bisa membawa pulang kue cincin yang tersisa sambil berharap esok pembeli datang lebih banyak.
“Kalau mengingat masa itu, rasanya sedih banget dan ingin menangis,” ungkapnya mengenang.
Pembinaan dari BNI
Titik balik itu datang ketika Paini bergabung dengan Rumah BUMN Bekasi di mana Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi pengampu dan penanggung jawab. Berkat BNI, ia mendapatkan toples, kardus kemasan, mesin jahit, dan mesin pembuat telur asin.
“Dulu saya hanya bisa memproduksi sambal sedikit. Tapi sekarang, dengan bantuan dari BNI, saya bisa menggiling sambal minimal 10 kilogram setiap dua hari sekali,” ujarnya.
Omsetnya pun meningkat dari ratusan ribu perminggu menjadi jutaan rupiah. Yang lebih penting, keberhasilan Paini tidak berhenti pada dirinya sendiri. Di dapur produksi sederhana itu, ia kini melibatkan sejumlah perempuan di lingkungan tempat tinggalnya. Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga. Beberapa lainnya adalah sesama penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan serupa dalam memperoleh pekerjaan formal. Tak terasa, jumlah mereka sudah mencapai 15 jiwa.
Mereka tidak sekadar membantu mengolah sambal. Mereka sedang membangun kembali rasa percaya diri dan kemandirian ekonomi yang selama ini sulit diraih. “Melalui usaha ini, kami ingin membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berkarya,” kata Paini.
Pengalaman serupa dirasakan Wida Farida. Berkat pembinaan dari BNI, Omsetnya juga meningkat pesat, sekitar 10-13 kali lipat dari saat memulainya. Bahkan kini, pembelinya datang dari mancanegara. Ia sudah melakukan pengiriman Dodol Ketan Hitam ke luar negeri sebanyak tiga kali, Kue Cincin sebanyak enam kali, Rengginang dan Peyek sebanyak tujuh kali, dan Bawang Goreng sebanyak tiga kali. Tak terhitung jumlah dan volumennya, warga Indonesia yang membeli produknya di Bekasi atau secara online lalu dikirim ke luar negeri
“Banyak pengetahuan baru yang diperoleh dari pembinaan BNI, mulai dari teknik pengemasan produk yang lebih menarik, cara menghitung harga pokok produksi (HPP), strategi pemasaran dan penjualan terutama secara online, hingga teknik berjualan yang efektif saat mengikuti pameran dan bazar,” ungkapnya.
Kisah Paini dan Wida menggambarkan pendampingan dari BNI, juga dari BUMN lain, sangat penting untuk meningkatkan kemandirian kaum perempuan.
Fasilitator Rumah BUMN Bekasi Rezzas Razzes Al Farabi menjelaskan bahwa BNI sangat berjasa dalam mengembangkan pelaku UMKM, antara lain mengadakan pelatihan formal maupun informal 20 kali setiap tahun.
“Manfaat yang dirasakan oleh umkm terutama yang menjadi binaan Rumah BUMN Bekasi mereka mendapatkan fasilitas berupa kegiatan pelatihan, pendampingan dan literasi yang mengarah kepada pengembangan usaha terutama dalam meningkatkan penjualan,” ungkapnya.
Bahkan bagi pelaku UMKM yang memenuhi persyaratan bisa mendapatkan bantuan permodalan dengan biaya yang murah karena memakai skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Bantuan permodalan yang telah digelontorkan BNI dengan skema KUR kepada UMKM yang bergabung dalam Rumah BUMN Bekasi lumayan besar. Ratusan juta Rupiah,” lanjut Rezzas.
Nyaman untuk Pelaku UMKM Perempuan
Secara nasional, berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UMKM, terdapat 64,5 juta UMKM. Sekitar 59 persen hingga 64,5 persen dari keseluruhan UMKM itu dikelola kaum perempuan. Angka itu menunjukkan bahwa perempuan bukan lagi sekadar pelengkap dalam kegiatan ekonomi, melainkan menjadi aktor utama yang menopang ketahanan ekonomi keluarga sekaligus perekonomian nasional.
Sejak didirikan pada 2017, Rumah BUMN BNI Bekasi telah menjadi rumah kedua bagi lebih dari ribuan pelaku UMKM. Di tempat ini, para pelaku usaha memperoleh pelatihan, pendampingan bisnis, penguatan pemasaran, hingga dukungan pengembangan produk.
Menurut Rezzas Razzes Al Farabi, pada 2025-2026 penerima manfaat di lembaganya sudah mencapai 700 pelaku usaha, 80 persen dari mereka atau sekitar 550 lebih dikelola kaum perempuan. “Ini menunjukkan semangat tinggi kaum perempuan untuk membantu kemandirian ekonomi keluarga,” ungkapnya.
Rumah BUMN Bekasi lebih banyak mengadakan pertemuan bersifat bincang santai, diskusi tanpa merasa menggurui, dan curhat pendapat, sehingga pelaku UMKM bisa langsung menyampaikan kendala dan hambatan dalam berusaha.
“Kebetulan, owner atau pemilik usaha yang kebanyakan merupakan kaum perempuan atau ibu-ibu pengusaha merasa sangat terbantu dengan cara itu, karena dianggap memberikan solusi terhadap persoalan yang muncul,” ungkap Rezzas bangga.
Menurut Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, sebagaimana dikutip dalam laman bni.co.id, keberadaan Rumah BUMN merupakan bentuk nyata peran BNI sebagai agent of development yang hadir langsung di tengah masyarakat. Program tersebut membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.
“Kadang-kadang perubahan lahir dari ruang pelatihan sederhana, dari percakapan antara mentor dan pelaku usaha, atau dari sebuah alat produksi yang memungkinkan seseorang meningkatkan kapasitas usahanya,” ujarnya.
Komunitas Berkembang
Saat sambal selesai digiling, seorang pekerja menyodorkan kemasan yang baru selesai direkatkan. Paini tersenyum. “Dulu saya mencari pekerjaan. Sekarang saya justru bisa memberi pekerjaan,” gumamnya.
Pada saat yang hampir bersamaan, di sebuah expo UMKM di Bali, Wida sibuk menawarkan kue cincinnya kepada pengunjung dari berbagai negara. Perempuan yang dulu berjualan di pinggir jalan itu kini berdiri sejajar dengan ratusan pelaku usaha dari seluruh Indonesia.
Dua perempuan dengan kisah berbeda. Namun keduanya membuktikan hal yang sama: ketika kesempatan dibuka, perempuan mampu mengubah hidupnya sendiri, sekaligus juga menggerakkan komunitas di sekitarnya.
Melalui Rumah BUMN Bekasi, BNI membuktikan kisah itu adalah kenyataan.














































































