Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Tangan Ceu Elis masih menggenggam dadanya ketika tubuhnya perlahan rebah di pematang sawah di Desa Cibugel, Kec. Cisoka, Kab. Tangerang. Wajah perempuan 57 tahun itu pucat. Keringat dingin membasahi dahinya. “Emak… Emak…”, teriak anaknya sambil berlari meminta pertolongan. Dalam hitungan menit, warga berdatangan. Mereka menaikkannya ke motor tua yang sudah butut, Honda Revo 100 cc, Tahun 2007. Ceu Elis di tengah diapit pengemudi motor dan anak tertuanya yang duduk paling belakang. Sekitar 20 menit kemudian, mereka sudah sampai di Ruang Unit Gawat Darurat RSUD Balaraja, Kab. Tangerang.
Di ruang pemeriksaan, dokter bergerak cepat. Setelah serangkaian diagnosis pun akar persoalan diketahui. Ceu Elis mengalami serangan jantung akibat penyumbatan pembuluh darah koroner. Kondisinya membutuhkan tindakan segera berupa pemasangan ring jantung (stent) agar aliran darah kembali lancar menuju otot jantung.
Kalimat dokter itu sederhana. Namun bagi keluarga Ceu Elis, maknanya begitu berat. Mereka tidak hanya memikirkan keselamatan jiwa, tetapi juga biaya yang harus disiapkan. Sebagai keluarga petani dengan penghasilan yang bergantung pada musim, membayangkan pengobatan penyakit jantung saja sudah membuat sesak di dada.
Dokter menjelaskan bila tindakan itu dibiayai sendiri, fulus yang harus disiapkan bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bagi sebagian keluarga jumlah sebesar itu mungkin dapat dipenuhi. Namun bagi keluarga petani kecil, seperti Ceu Elis, angka tersebut bisa berarti hasil kerja bertahun-tahun, bahkan mungkin seluruh aset tak begerak yang dimiliki. “Sadikin: sakit menjadikan miskin,” demikian ungkap sebuah kelakar.
*** *** ***
Untunglah, Ceu Elis sekeluarga telah menjadi peserta BPJS Kesehatan. Di situ makna gotong royong menampilkan tampangnya yang paling nyata.
Selama puluhan tahun, gotong royong identik kerja bakti membangun jalan desa, memperbaiki jembatan, atau membersihkan lingkungan. Nilai itu tumbuh dari kesadaran bahwa pekerjaan yang berat akan menjadi ringan apabila dipikul bersama. “Hollopis kuntul baris,” demikian seruan dalam Bahasa Jawa untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan berat secara bersama-sama.
Sejak 1 Januari 2014, setelah sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) didirikan, semangat gotong royong hadir dalam bentuk yang berbeda. Ia diwujudkan melalui iuran yang dibayarkan secara rutin oleh jutaan peserta. Setiap orang memberikan kontribusi sesuai ketentuan, lalu dana yang terkumpul digunakan untuk membantu peserta yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Menelisik laporan resmi dari BPJS Kesehatan, sepanjang tahun 2014, iuran JKN yang terkumpul adalah Rp40,7 triliun. Walakin pada 2025, iuran JKN sudah mencapai Rp176,11 triliun. Pada 2026 ini, iuran itu ditargetkan meningkat menjadi Rp183,18 triliun.
Peningkatan dana yang terkumpul menunjukkan bahwa kekuatan kolektif masyarakat dalam membangun perlindungan kesehatan bersama semakin besar. Selain itu, peningkatan tersebut memperlihatkan kepercayaan masyakarat terhadap sistem JKN dan BPJS Kesehatan yang mengelola uang besar itu.
Konsep gotong royong dalam sistem JKN sangat sederhana. Ketika seseorang sedang sehat, ia tetap membayar iuran. Namun pada saat yang sama, iuran tersebut sedang membantu seorang ibu melahirkan dengan selamat, seorang anak menjalani operasi, seorang buruh mendapatkan kemoterapi, atau seorang petani seperti Ceu Elis memperoleh tindakan penyelamatan jiwa.
Begitulah gotong royong bekerja. Ia menolong siapa saja yang membutuhkan tanpa mempedulikan asal muasal, pofesi, maupun status sosial. Ia hadir karena ada jutaan orang yang bersedia memikul beban sebagian yang lain.
Filosofinya serupa dengan sapu lidi: sebatang lidi mudah patah dan mustahil untuk membersihkan halaman rumah dari dedauan atau sampah lainnya. Namun ketika puluhan batang lidi diikat menjadi satu, ia berubah menjadi alat yang kuat dan bermanfaat.
Demikian pula dengan jaminan kesehatan. Satu orang mungkin tidak sanggup membayar biaya pengobatan yang mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Tetapi ketika jutaan peserta menghimpun kekuatan melalui iuran, beban besar itu menjadi ringan karena dipikul bersama.
*** *** ***
Di ruang perawatan RSUD Balaraja, dan di 3.221 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, gotong royong itu terasa begitu nyata. Dokter menjalankan keahliannya dengan penuh tanggung jawab. Perawat mendampingi proses pemulihan dengan kesabaran. Keluarga bergantian menjaga di samping tempat tidur. Tetangga datang membawa buah tangan, menghibur keluarga, membantu mengurus sawah yang sementara ditinggalkan, hingga memanjatkan doa agar Ceu Elis segera pulih.
Semuanya bergerak dalam irama yang sama: menyelamatkan satu nyawa. Tindakan pemasangan ring jantung akhirnya berjalan lancar. Melalui prosedur kateterisasi, dokter memasukkan kateter dari pembuluh darah di pergelangan tangan menuju pembuluh darah koroner. Sebuah balon kecil dikembangkan untuk membuka sumbatan, kemudian ring logam dipasang agar pembuluh darah tetap terbuka dan aliran darah kembali normal. Prosedur itu berlangsung kurang dari satu jam, tetapi menjadi penentu kesempatan hidup baru bagi Ceu Elis.
Kini, ia memang masih harus menjalani masa pemulihan. Pola makan harus dijaga. Aktivitas fisik perlu disesuaikan. Obat harus diminum secara teratur. Kontrol rutin menjadi bagian dari kehidupannya.
Namun semua itu jauh lebih berarti dibanding kehilangan kesempatan untuk melihat matahari terbit di sawah yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
*** *** ***
Kisah Ceu Elis mengajarkan bahwa kesehatan merupakan buah dari solidaritas sosial. Di balik setiap tindakan medis yang menyelamatkan nyawa, ada jutaan orang yang pasti tidak saling mengenal, walakin saling tolong menolong dalam semangat gotong royong.
Di tengah kehidupan modern yang sering kali membuat manusia berprilaku nafsi-nafsi, kisah ini menjadi pengingat bahwa nilai luhur bangsa masih ada di bumi Nusantara. Ia hanya berubah bentuk, dari sistem tradisional menjadi sistem modern. Dari mengangkat batu bersama menjadi layanan kesehatan yang layak.
Ceu Elis pasti tidak pernah mengenal para peserta BPJS Kesehatan dari Sabang di barat hingga Merauke di timur, dari pulau Rondo di utara sampai pulau Pamana di selatan. Sebaliknya, mereka pun mungkin tidak pernah mendengar nama seorang ibu tani dari Cisoka itu. Tapi mereka semua seperti bangunan yang saling memperkuat dan memperokoh. “Yasyuddu ba‘ḍluhum ba‘ḍlan,” demikianlah guru di madrasah atau pesantren mengajarkan semangat gotong royong
*** *** ***
Beberapa minggu setelah keluar dari rumah sakit, Ceu Elis kembali berdiri di pematang sawah. Langkahnya lebih pelan. Dokter melarangnya bekerja terlalu berat. Tetapi pagi itu ia hanya ingin melihat hamparan padi yang mulai menguning. Ia tersenyum. Detak jantungnya kini dijaga oleh sebentuk ring kecil di dalam dada. Sesungguhnya, yang membuatnya tetap hidup adalah jutaan orang yang telah ikut membayar iuran JKN, sehingga seorang petani di Cisoka dapat memasang ring di pembuluh darahnya.
Gotong royong telah menjaga detak jantung bangsa Indonesia….!











































































