Jakarta, Energindo.co.id – Film FOUFO dibuka dengan tayangan animasi perjalanan pesawat UFO (Unidentified Flying Object) atau dalam bahasa Indonesia disebut benda terbang tak dikenal, melintasi gugusan galaksi dan planet selain bumi. Meliuk-liuk dengan kecepatan super sonic. Namun tetap terhindar benturan dengan benda-benda langit. Melesat hingga batas tak terhingga.
Tayangan berkelindan ke planet bumi. Tampak adegan sekumpulan anak manusia tengah merayakan keberangkatan ibadah haji. Ada pembagian sedekah. Ada live musik religi. Dengan bahasa lokalitas, Madura. Ada kegembiraan. Diselingi gosip khas emak-emak. Bisik-bisik, bahkan cibiran jadi-tidaknya Ibu Saiqonah berangkat haji ke Makkah. Pasalnya, Saiqonah hanya seorang janda miskin dengan putra sulung berprofesi pengumpul rongsok besi tua.
Keinginan menunaikan haji inilah yang menjadi titik sentral perjuangan Muslim, putra sulung Saiqonah. Dengan modal kegigihan, kerja keras dan ditopang doa, Muslim berusaha dengan cara halal untuk memberangkatkan ibunda tercintanya.
Petualangan, semangat dan perjuangan Muslim, pedagang rongsok besi tua skala micro ini, yang dieksplorasi film garapan Bayu Skak (@moektito) ini.
Di tengah himpitan ekonomi dan kesulitan hidup adik kandung, ipar dan para keponakannya, Muslim dituntut untuk segera melunasi cicilan tabungan haji sang Ibunda. Sutradara yang dikenal jago mengangkat film tema lokalitas berhasil memotret keruwetan hidup Muslim tanpa terjatuh pada kecengengan picisan. Bayu Skak, si sutradara justru menampilkan kegetiran hidup dengan nada humor yang disertai dialek khas Madura dan Jawa Timuran yang mengocok perut penonton.
Mulai dari upaya meminjam ke perusahaan penyedia kredit, godaan menjual keris peninggalan ayahandanya, bujuk-rayu untuk mencuri rel kereta api di malam hari hingga pertemuan tidak sengaja dengan makhluk luar angkasa.
Kehadiran makluk luar angkasa, yang disebut FOUFO selain membantu mencairkan kebuntuan hidup tetapi juga meminta bantuan Muslim untuk menemukan kunci pesawatnya (hilang bersamaan saat pesawatnya terjatuh) sehingga dia bisa menerbangkannya kembali ke planet asalnya.
Disinilah dilema Muslim. Menyelamatkan hidup FOUFO yang nafas hidupnya dibatasi waktu atau segera melunasi cicilan biaya haji ibundanya?
Film bergenre komedi fiksi ilmiah dengan latar budaya Madura layak menjadi tontonan sekaligus tuntutan. Tuntunan bagaimana totalitas bakti seorang anak terhadap Ibundanya. Tuntunan bahwa hidup membutuhkan perjuangan, kerja keras tanpa lelah di tengah kerasnya kehidupan. Energi ke-madura-an sukses dibangun dan tampilkan oleh Bayu Skak lewat Tretan Muslim pemeran sosok Muslim.
Khusus di film Foufo, saat ditanya alasan memilih genre komedi fiksi ilmiah dan mengapa memilih Madura sebagai latar spesifiknya, Bayu Skak menjawab, “Ketika timbul pemikiran alien, nah ini unik, nih. Tapi aliennya mau digimanain biar komedi. Alien mau landing di Jogja, misalnya aliennya jalan-jalan ke Malioboro. Alien crash landing di Bandung, mungkin jalan-jalan ke Braga.
Alien crash landing di Madura, orang langsung ketawa tuh semuanya.”
Selain Tretan Muslim, film ini turut dibintangi oleh Husein bin Ja’far Al Hadar, atau lebih dikenal sebagai Habib Ja’far, da’ie GenZ keturunan Madura dan Inayah Wahid, putri bungsu Presiden Abdurrahman Wahid, yang bersuamikan pria asal Sumenep Madura. Peran kedua tokoh muda dengan kekhasannya masing-masing makin mengentalkan corak kemaduraan.
Selain menghadirkan premis yang unik, film ini juga menonjolkan identitas lokal dengan penggunaan bahasa Madura yang mendominasi sebagian besar dialog serta melibatkan banyak talenta asli Madura dalam proses produksinya. Jadi, Madura bukan sekadar karapan sapi.











































































