Jakarta, Energindo.co.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam menggenjot hilirisasi mineral. Sebut saja misalnya melalui aksi anak usaha Antam yaitu PT Gag Nikel (PTGN) mengakuisisi 30% saham PT Jiu Long Metal Industry (JLMI), anak usaha Eternal Tsingshan Group dari Tiongkok, senilai Rp1,6 triliun. Akuisisi dilakukan pada 3 Oktober 2024 yang ditinjaklanjuti dengan penandatanganan shareholders agreement bahwa Antam masuk ke dalam komitmen hilirisasi dari PT Gag Nikel.
Apalagi perusahaan plat merah ini menangguk keuntungan bersih Rp6,91 triliun pada semester I 2026. Laba ini meningkat 34 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,14 triliun.
Menurut Direktur Utama Antam Untung Budiharto capaian tersebut menjadi pijakan perusahaan untuk mengembangkan kinerja di luar sekadar keunggulan operasional.
“Pada semester I 2026, perusahaan mampu mempertahankan kinerja keuangan yang positif, didukung oleh penguatan kinerja operasional serta penerapan disiplin pengelolaan modal kerja, arus kas, dan likuiditas secara konsisten hingga aksi akuisisi terhadap saham JLMI,” ujar Untung dalam keterbukaan informasi Antam, Jumat (28/8/2026).
Tinjauan energi dan ekonomi
Menurut Rafly Ruben, analis energi, akuisisi saham 30% terhadap JLMI membuat Antam dapat mengadopsi teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik smelter Tsingshan Group.
“Teknologi ini dikenal efisien dalam pengolahan bijih nikel laterit menjadi NPI (Nickel Pig Iron). Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan energi secara optimal dengan efisiensi termal tinggi, sehingga konsumsi energi per ton nikel berkurang,” ungkap Rafly dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Menelaah Strategi Hilirisasi PT Antam Melalui Rencana Akuisisi Smelter Tsingshan Group, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Rafly melanjutkan, terkait kebutuhan energi untuk operasional smelter pasca-akuisisi, smelter Tsingshan itu membutuhkan rata-rata energi listrik hingga 30–50 MW untuk kapasitas produksi 28.000 ton NPI per tahun.
“Untuk sumber energi yang optimal, nantinya gas alam bisa digunakan sebagai bahan bakar utama karena dapat menurunkan emisi karbon hingga 50% dibandingkan batubara,” ujar Rafly.
Sedangkan M. Farhan, peneliti muda dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyatakan, akuisisi smelter Tsingshan Group oleh Antam menciptakan dampak signifikan pada perekonomian regional dan nasional, terutama melalui kebijakan hilirisasi nikel.
“Peningkatan produksi di kawasan operasional smelter, seperti Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dengan multiplier effect pada sektor logistik, konstruksi, dan lapangan pekerjaan lokal,” ujar Farhan.
Farhan melanjutkan, di tingkat global, akuisisi ini memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok nikel dunia,
terutama untuk industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik.
“Sejalan dengan visi Making Indonesia 4.0, akuisisi ini mendukung transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam
yang bernilai tambah tinggi. Meski demikian, volatilitas pasar global, regulasi lingkungan yang ketat, dan risiko geopolitik menjadi faktor eksternal yang dapat memengaruhi keuntungan jangka panjang,” tambahnya.
Dalam kesempatan berbeda, Anggota DPR-RI Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) menyatakan bahwa akuisisi itu penting dalam rangka mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia. “Tsingshan ini berpengalaman dalam produksi baterai kendaraan listrik di China,” ujar Gus Falah.
“Sehingga akuisisi akan menguntungkan Antam dan Indonesia, karena kita menguasai smelter dari perusahaan yang teruji dalam produksi baterai kendaraan listrik,” tambahnya.
Dalam buku “Membangun Fondasi Pertambangan Yang Bertanggung Jawab
Audit HAM pada Perusahaan Sektor Nikel di Maluku Utama” yang diterbitkan
Pustaka Masyarakat Setara pada Agustus 2026 di halaman 84 disebutkan dalam konteks hilirisasi nikel, segmen operasi nikel Antam di Maluku Utara, telah membentuk perusahaan patungan (Joint Venture), PT Feni Haltim, sebuah pabrik RKEF untuk menghasilkan feronikel Kawasan Industri di Buli sejak tahun 2023. Total nilai investasi pada tahun 2025 mencapai 3,066 triliun rupiah (40%). PT Feni Haltim merupakan entitas asosiasi yang bergerak dalam bidang Kawasan Industri, Industri Pembuatan Logam Dasar Bukan Besi, dan Aktivitas Pelayanan Kepelabuhanan Laut. Saat ini, pabrik RKEF masih dalam proses konstruksi dan direncanakan akan beroperasi pada tahun 2028. Secara kapasitas produksi, pabrik RKEF PT. Feni Haltim ditargetkan memiliki kapasitas produksi sebesar 13.500 ton Feronikel per tahun.
Dalam buku tersebut juga diterangkan, keterlibatan langsung Antam pada segmen hilirisasi nikel pada operasionalisasi, telah dilakukan sejak tahun 2025 dengan beroperasinya 3 (tiga) unit smelter feronikel (FeNi II, III dan IV) dengan 4 (empat) lini produksi berkapasitas gabungan sebesar 27.000 TNi per tahun yang dikelola dan dioperasikan oleh UBP Nikel Kolaka.
Dengan demikian, masih menurut buku tersebut, profil usaha langsung Antam di Maluku Utara, terkhusus di Buli masih berpusat pada pertambangan, sementara posisi hilirnya lebih berupa partisipasi strategis melalui investasi dan kemitraan. Struktur ini tetap memberi Antam pengaruh terhadap pengembangan hilirisasi, tetapi belum menunjukkan diferensiasi operasional dan inisiatif Responsible Mining lintas rantai nilai yang setara dengan perusahaan yang mengelola tambang, smelter, dan refinery secara terintegrasi di bawah satu kendali. Dengan demikian, inilah jalan terjal Antam mendukung program hilirisasi Presiden Prabowo Subianto.





































































