Jakarta, Energindo.co.id – Pekan kedua Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 resmi dibuka hari ini. Diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta dengan mengusung tema “Sustainability for Industrial Transformation”, IEE Series – Engineering Week 2026 menghadirkan delapan sektor industri strategis dalam satu rangkaian penyelenggaraan, yang menjadi wadah bagi para pelaku industri untuk bersama-sama melihat perkembangan teknologi, kebutuhan infrastruktur, pengelolaan sumber daya, hingga bagaimana menghadapi tantangan ketahanan yang kelak turut membentuk arah industri ini di Indonesia.
Gelaran IEE Series – Engineering Week 2026 dipadati 1.694 perusahaan dari 34 negara dan kawasan dengan total area pameran mencapai lebih dari 88.000 meter persegi, termasuk pemanfaatan pertama hall baru JIExpo Kemayoran yang siap mempertemukan pelaku industri dan menjawab tantangan transformasi.
Dibuka oleh Lia Indriasari, selaku Country General Manager Pamerindo Indonesia, dan menegaskan bahwa keberagaman sektor dan skala partisipasi tersebut mencerminkan perubahan kebutuhan industri yang semakin terhubung.
“Bagi kami Engineering Week, yang membawa tema Sustainability for Industrial Transformation merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus berupaya menyediakan platform yang dapat mempertemukan berbagai sektor industri, terlebih manakala kebutuhan antarindustri semakin saling terhubung. Kami berharap forum ini akan melahirkan kemitraan strategis, solusi yang inovatif, dan komitmen bersama yang dapat langsung diimplementasikan di lapangan pada berbagai sektor. Ini bisa diwujudkan melalui kolaborasi antarpemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan masyarakat,” ujar Lia.
Keterhubungan tersebut tercermin dalam delapan sektor yang dihadirkan dalam Engineering Week 2026. Pada sisi pengolahan sumber daya dan material, Mining Indonesia merepresentasikan sektor sumber daya dan pertambangan; Oil & Gas Indonesia berperan dalam ekosistem energi dan industrial operations; sementara GIFA Indonesia & METEC Indonesia membawa teknologi pengecoran logam, pengolahan logam, dan metalurgi yang mendukung peningkatan nilai tambah material dan manufaktur.
Rangkaian tersebut kemudian diperkuat oleh sektor-sektor yang menopang pembangunan dan keberlangsungan aktivitas industri. Construction Indonesia dan Concrete Show South-east Asia-Indonesia merepresentasikan kebutuhan pembangunan infrastruktur serta teknologi material konstruksi; Water Indonesia berfokus pada pengelolaan air dan utilitas; sementara ADEXCO (Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference) membawa perspektif manajemen bencana, keselamatan sipil, kesiapsiagaan, dan ketahanan. Kehadiran delapan sektor tersebut dalam satu rangkaian memperlihatkan keterkaitan antara ketersediaan sumber daya dan energi, pengolahan material, pembangunan infrastruktur, pengelolaan utilitas, hingga kesiapan menghadapi risiko.
Keterhubungan antarsektor tersebut pada akhirnya menempatkan keberlanjutan bukan sebagai agenda yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari cara industri merencanakan dan menjalankan pembangunan. Karena itu, penguatan ekosistem industri membutuhkan kolaborasi yang mampu mempertemukan berbagai kepentingan, sumber daya, dan kapasitas yang ada. Hal ini menjadi salah satu perhatian Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Febrian Alphyanto Ruddyard, yang menekankan pentingnya kolaborasi antarinstitusi untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik. Menurutnya, kualitas pembangunan ditentukan dari bagaimana kita merencanakan, berinvestasi, membangun, dan mengukur kemajuan. Demi mendukung kolaborasi antarsektor tersebut, beliau menekankan, “jadi tantangan saat ini bukanlah sekadar menciptakan lebih banyak kebijakan, kerangka kerja, atau lembaga. Elemen-elemen tersebut sudah kita miliki. Tantangannya adalah membuat semuanya bekerja sama, bekerja bersama menuju sistem pertanggungjawaban bersama dan mendukungnya melalui informasi yang terpadu, pembiayaan yang terkoordinasi, serta akuntabilitas bersama,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut juga menjadi penting ketika industri dihadapkan pada kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus menjaga efisiensi dan daya saing. Selaras dengan agenda pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan ketahanan industri nasional, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, turut menegaskan pentingnya efisiensi berbasis teknologi dalam sambutan pembukaannya. “Transformasi industri Indonesia perlu didukung oleh peningkatan kapasitas produksi dan pengolahan yang disertai dengan penguatan teknologi, infrastruktur, dan efisiensi. Potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia harus dapat diterjemahkan menjadi nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri. Karena itu, pengembangan industri ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi, tetapi juga bagaimana memperkuat rantai nilai, meningkatkan daya saing, dan memastikan sumber daya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dari perspektif tersebut, keberlanjutan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya meningkatkan kinerja dan daya saing industri. Efisiensi penggunaan energi dan material, peningkatan produktivitas, pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab, keselamatan operasional, pengelolaan air, hingga kemampuan menghadapi risiko menjadi bagian dari kebutuhan industri yang semakin mendesak. Dengan demikian, transformasi industri tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas dan adopsi teknologi, tetapi juga dengan kemampuan membangun sistem industri yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan.
Tidak hanya sekadar pameran teknologi, rangkaian IEE Series Engineering Week juga menghadirkan berbagai forum diskusi yang diisi oleh para thought leader di bidang masing-masing. Di sektor utilitas, menghadirkan Indonesia Water Forum (IWF) 2026. Forum yang diselenggarakan PERPAMSI dibuka dengan keynote speech oleh Nazib Faizal S.T., M.Sc, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, membahas mengenai arah tata kelola air minum untuk mewujudkan swasembada air menuju Indonesia Emas 2045, serta pembahasan mengenai transformasi tata kelola air minum dan air limbah di Indonesia.
Dimensi ketahanan juga hadir melalui ADEXCO dan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026. Ketika GFSR 2026 mempertemukan pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas penguatan ketahanan berkelanjutan, ADEXCO menghadirkan berbagai pelaku industri yang terfokus pada pengelolaan bencana, perlindungan sipil, mitigasi, dan pemulihan. Kehadiran keduanya melengkapi perspektif IEE Series – Engineering Week bahwa pembangunan industri perlu mempertimbangkan bukan hanya kapasitas dan efisiensi, tetapi juga kemampuan menghadapi risiko dan menjaga keberlangsungan operasional.
Melalui delapan sektor yang dipertemukan dalam satu platform, IEE Series – Engineering Week 2026 menunjukkan bahwa transformasi industri membutuhkan keterhubungan antara sumber daya, energi, material, infrastruktur, utilitas, teknologi, dan ketahanan. Pendekatan tersebut sejalan dengan tema “Sustainability for Industrial Transformation”, yang menempatkan efisiensi, inovasi, pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab, ketahanan, dan kolaborasi sebagai bagian dari upaya membangun nilai industri dalam jangka panjang.
IEE Series – Engineering Week 2026 berlangsung pada 9-12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, menghadirkan delapan pameran industri beserta rangkaian seminar, forum, business networking, dan program pendukung. Informasi mengenai rangkaian acara dan agenda Engineering Week 2026 dapat diakses melalui www.iee-series.com.






































































