Foto: Kementerian KKP
Fortune Business Insight, perusahaan riset pasar global yang bermarkas di India, menjelaskan bahwa market produk perikanan global menyentuh USD605,46 miliar pada tahun 2029 nanti. Sementara itu, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menjelaskan bahwa sampai 2024, market share Indonesia di pasar global baru mencapai 16,4% untuk rumput laut, lalu 9,7% untuk tilapia, dan 6,7% untuk udang, 1,9% untuk kepiting rajungan, dan 0,5% untuk lobster.
Jadi, masih ada jarak antara potensi yang tersedia dengan kemampuan bangsa Indonesia dalam merealisasikan potensi tersebut.
Untuk meningkatkan investasi di sektor kelautan dan perikanan, Pemerintah telah menyiapkan sejumlah insentif fiskal. Di antaranya tax allowance berupa keringanan pajak penghasilan (PPh) sebesar 5% dari nilai investasi per tahun selama 6 tahun. Lalu investment allowance berupa pengurangan laba bersih sebesar 10 persen pertahun atau 60 persen dari total nilai investasi selama 6 tahun.
Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mempermudah dalam pengurusan perizinan berusaha melalui sistem terintegrasi secara elektronik serta melalui penyederhanaan prosedur, efisiensi, dan transparansi terkait perizinan.
Realisasi investasi kelautan dan perikanan masih sangat potensian untuk terus dikembangkan. Pada 2024, investasi pada sektor ini mencapai Rp7,9 triliun. Investasi terbesar berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp2,85 triliun, diikuti oleh kredit investasi Rp2,49 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp2,45 triliun. Secara umum, pengolahan perikanan menjadi bidang usaha terbesar dalam menyerap investasi (38,56%), disusul budi daya (26,63%), perdagangan (20,25%), penangkapan (12,41%), dan jasa terkait perikanan (1,97%).
Dukungan lainnya adalah pengembangan infrastruktur Ocean Big Data. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengaku tengah membangun infrastruktur data terintegrasi. Data ini penting untuk pembangunan dan investasi di sektor kelautan dan perikanan Indonesia.
“Kami sedang mengembangkan infrastruktur Ocean Big Data yang bertujuan untuk pengawasan, monitoring, penyediaan data yang update, dan penyusunan decision support system,” kata Trenggono sebagaimana siaran pers yang diunggah melalui www.kkp.go.id.
Ocean Big Data dikembangkan melalui perangkat berbasis teknologi yang ditempatkan di daerah pesisir, laut, dan udara. Teknologi ini seperti radar, sensor pengukur kualitas air laut, drone bawah air (AUV), drone udara, dan satelit nano untuk memetakan aktivitas laut, serta kondisi dan habitat laut.
Selanjutnya, Ocean Biga Data akan tersambung pada Ocean Accounting sebagai sistem pengolahan data spasial dan non-spasial yang terintegrasi. Melalui perangkat itu, informasi kelautan Indonesia lengkap dengan dinamika perubahan neracanya akan mudah diperoleh.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memastikan bahwa infrastruktur di atas sangat mendukung program hilirisasi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen. Komoditas potensial seperti udang, rumput laut, tilapia, dan tuna siap ditingkatkan produksinya. “KKP mendukung program hilirisasi yakni dengan meningkatkan produksi perikanan di hulu yang bersumber dari perikanan tangkap maupun budidaya,” ungkapnya melalui siaran pers yang berbeda.
Ya, dengan Ocean Big Data, peningkatan produksi perikanan di hulu akan terlihat jelas. Dari situlah, investor akan memudah memilih hilirisasi perikanan yang mana yang menjadi minatnya. Hilirisasi sangat tergantung pada ketersediaan produksi di tingkat hulu.
Pada tahun 2025, hilirisasi sektor perikanan yang sudah dan sedang berjalan adalah revitalisasi garam nasional, modernisasi kapal perikanan, dan penguatan industri budidaya kepiting.
Hasilnya, capaian ekspor produk perikanan Indonesia pada triwulan I 2025 melampaui target, dengan nilai ekspor “Produk Perikanan Lainnya” mencapai 105,93% dari target. “Produk Perikanan Lainnya” merujuk pada berbagai hasil perikanan selain ikan, seperti udang, kepiting, cumi-cumi, kerang, rumput laut, dan teripang. Kategori ini juga meliputi produk olahan dari ikan dan hasil sampingannya seperti kecap ikan, jambal roti, peda, bekasang, bakso ikan, nuget ikan, dan kulit ikan.
Ini menunjukkan bahwa berbagai insentif dan dukungan dari Pemerintah pada investasi di sektor perikanan mulai menampakan hasil. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekspor produk perikanan di kuartal pertama tahun 2025 adalah sebesar 6,5%, yang didorong oleh peningkatan volume ekspor sebesar 2,3% menjadi 430.000 ton. Dari sisi fulus, nilai ekspor itu mencapai US$1,94 miliar (lebih dari Rp 30 triliun) yang berarti tumbuh 6,5% dibanding kuartal yang sama tahun lalu senilai US$1,82 miliar.














































































