Jakarta, Energindo.co.id – Proyek Strategis Nasional (PSN) Ubadari, Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS), and Compression (UCC) di Lapangan Tangguh, Papua Barat, resmi dimulai dengan tajak (spud) sumur pengembangan UBA-01 pada Minggu, 1 November 2026 pukul 06.15 waktu setempat. Demikian diungkapkan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto pada Minggu (1/11/2026) pukul 21.58 WIB.
“Alhamdulilah Proyek PSN UCC Tangguh senilai +/- 6 Miliar USD telah mencapai 54%, pada tanggal 1 November 2026 – Kegiatan pengeboran Proyek UCC (Ubadari, CCUS, and Compression) resmi dimulai dengan tajak (spud) sumur pengembangan UBA-01 pada Minggu, 1 November 2026 pukul 06.15 waktu setempat,” kata Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto.
UBA-01 merupakan sumur pertama dalam kampanye pengeboran proyek strategis nasional yang dioperasikan oleh bp selaku operator KKKS Tangguh di bawah pengawasan SKK Migas.
“Pada tahap awal operasi, dasar laut (seabed) berhasil di-tag pada kedalaman sekitar 201 ftMD dengan beban 5 klbs,” terang Djoksis.
Proyek UCC merupakan pengembangan terintegrasi yang mencakup tiga komponen utama. Ketiganya adalah, yaitu:
Pertama, pengembangan Lapangan Gas Ubadari (Ubadari Field Development). Kedua, pembangunan fasilitas Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS), dan ketiga pembangunan fasilitas kompresi gas di darat (Onshore Compression).
Integrasi ketiga komponen tersebut, lanjut Djoksis, dirancang untuk mengoptimalkan produksi dan perolehan gas Tangguh, sekaligus menurunkan intensitas emisi karbon dari kegiatan operasinya.
Lebih jauh eks Plt. Dirjen Migas mengutarakan bahwa pengembangan Lapangan Ubadari mencakup 5 ( lima ) sumur pengembangan yang dibor dari dua platform lepas pantai, yaitu UBA dan UBB.
“Laju produksi awal setiap sumur diperkirakan berkisar antara 117 hingga 194 MMSCFD,” ujarnya.
Sumur UBA-01 merupakan bagian dari program batch drilling tiga sumur di platform UBA, bersama sumur UBA-02 dan sunur UBA-03, yang masing-masing dijadwalkan mulai dikerjakan pada 7 dan 10 November 2026. “Ketiga sumur di platform UBA ditargetkan menghasilkan produksi kumulatif 632 Bcf gas,” ujarnya. Setelah ketiga sumur tersebut selesai, kampanye pengeboran akan berlanjut ngebor 2 (dua) sumur pengembangan di platform UBB pada 2027.
Setelah itu, lanjut Djoksis, sumur injeksi CO₂ di platform EGR akan dibor pada 2028.
“SKK Migas akan terus melakukan pengawasan, koordinasi, dan evaluasi bersama KKKS Tangguh terhadap setiap tahapan operasi. Tujuannya agar kegiatan pengeboran berjalan dengan mengutamakan keselamatan, keandalan operasi, dan efisiensi biaya, serta mencapai target sesuai rencana,” tegas Djoksis.
Progres 54 persen
Sebelumnya pihak Tangguh UCC menyampaikan kepada Kepala SKK Migas perkembangan terbaru mengenai Proyek Tangguh UCC. “Saat ini, proyek telah mencapai progres sebesar 54%, atau 4% lebih cepat dari target AFE. Yang tidak kalah penting, proyek ini telah mencatatkan lebih dari 26 juta jam kerja aman (safe work hours) dengan melibatkan lebih dari 8.000 pekerja di Tangguh dan berbagai fabrication yard,” tulis tim Tangguh UCC.
Pihaknya juga terus menunjukkan kemajuan yang baik di berbagai area pekerjaan utama. Jacket UBA dan UBB telah berhasil dipasang, sementara pemasangan jacket EGR telah memasuki tahap penyelesaian akhir.
Dilaporkan pula bahwa pekerjaan Horizontal Directional Drilling (HDD) untuk jalur pipa telah selesai, dan saat ini sedang berlangsung pekerjaan pembesaran lubang pengeboran (hole enlargement).
Tim juga sedang melakukan berbagai persiapan untuk memulai operasi pemasangan pipa (pipelay operation) di Teluk Bintuni pada bulan November. Proses pelapisan pipa (pipeline coating) di Gresik kini telah selesai. Sementara itu, pekerjaan konstruksi darat (onshore construction) serta fabrikasi modul di Batam dan Bintan terus mengalami kemajuan. Rig Valaris 106 juga telah tiba di lokasi dan siap untuk memulai pengeboran (spud in). Seiring dengan meningkatnya intensitas pelaksanaan proyek, prioritas utamanya tetap pada keselamatan kerja dan kualitas hasil pekerjaan.
Di samping itu, pihak Tim Tangguh UCC juga terus melakukan pengelolaan secara cermat terhadap risiko rantai pasok (supply chain) dan proses impor.














































































