Jakarta, Energindo.co.id – Kebutuhan energi bersih yang terus meningkat dan ketergantungan pada energi fosil menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Menjawab persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Xiamen (XMU) mematangkan rencana pembangunan XMU-BRIN Green Energy International Innovation Center atau Pusat Inovasi Energi Hijau Internasional.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN, Widya Fatriasari, menyampaikan, Pusat Inovasi Energi Hijau Internasional dirancang menjadi laboratorium kelas dunia yang berfokus pada pengembangan energi hijau, penyimpanan energi, dan material energi baru.
“Kita akan mendirikan pusat inovasi ini di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan bandara, dan memiliki lahan sekitar 400 hektar. Kita sudah mengusulkan ruang sekitar 3.000 meter persegi untuk pusat ini,” jelas Widya, pada kegiatan penandatanganan Nota Kesepahaman, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (13/10/20).
Ia memaparkan, desain laboratorium akan dibagi menjadi dua lantai. Lantai pertama seluas minimum 1.600 meter persegi akan digunakan untuk bengkel biorefinery, laboratorium pirolisis, ekstraksi, persiapan biomassa, persiapan kimia, serta laboratorium baterai dan penyimpanan energi. Sementara, lantai kedua seluas minimum 1.500 meter persegi, akan difokuskan pada laboratorium material katoda dan anoda, lini pilot pouch/cylindrical, spektroskopi, kromatografi, fisikokimia, serta ruang perakitan dan verifikasi sel koin.
“Kerangka kerja manajemen pusat inovasi ini akan melibatkan komite pengarah bersama dari Xiamen dan BRIN, dengan dukungan dari Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Iptek, serta Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi. Adapun fungsi-fungsi yang akan dijalankan meliputi koordinator riset dan inovasi, manajemen fasilitas dan infrastruktur, bakat dan pendidikan, serta kemitraan dan hubungan industri,” paparnya.
Untuk arah riset dan pengembangan, ia memproyeksikan Pusat Inovasi Energi Hijau Internasional akan menghasilkan produk antara dan produk akhir. Produk antara meliputi penyimpanan energi seperti anoda dari biomassa, baterai litium atau natrium, superkapasitor, karbon berpori, serta bahan bakar cair dan gas seperti biodiesel, bioetanol, biometanol, dan bahan bakar aviasi berkelanjutan.
“Produk akhirnya antara lain kendaraan listrik (EV), biodiesel B50, bioetanol E20, bahan bakar hidrokarbon, diesel terbarukan, dan hidrogen,” tambah Widya.
Kepala PRBB BRIN, Akbar Hanif Dawam A., menyampaikan BRIN terus mempercepat pembentukan pusat inovasi ini. Keputusan mengenai pengembangan pusat riset ini akan difinalisasi tahun ini, sehingga berbagai persiapan harus segera dilakukan. “Fokus utama kita saat ini adalah energi, pangan, dan air, sehingga pengembangan energi hijau menjadi sangat krusial,” ungkap Hanif.
Terkait fasilitas, ia memastikan pusat inovasi ini akan memanfaatkan gedung yang sudah tersedia di KST B.J. Habibie. Renovasi gedung akan segera dilakukan dengan menyesuaikan desain laboratorium dan kebutuhan fasilitas riset, dengan target penyelesaian pada 2027.
“Gedungnya sudah ada di KST B.J. Habibie dan tinggal kita kembangkan. Kami juga telah berkoordinasi dengan Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN yang telah mengidentifikasi beberapa pilihan bangunan yang siap dialokasikan untuk program ini,” pungkas Hanif. (ea, fr/ed: tnt)









































































