Jakarta, Energindo.co.id – Kekeringan ekstrem Sungai Kapuas hingga level air mencapai 0,50 meter menjadi tantangan hebat bagi pelaut. Pasalnya, kapal laut yang dikhususkan mengangkut BBM tidak bisa lewat. Padahal nakhoda moda transportasi laut ini dituntut segera mendistribusikan BBM ke masyarakat, industri dan PT PLN (Persero) UP3 Sanggau di Sintang Kalimantan Barat (Kalbar). Capt. Galih Prabowo salah seorang nakhoda yang tergabung dalam Serikat Pekerja Forum Komunikasi Pekerja dan Pelaut Aktif Pertamina (SP FKPPA). membagikan pengalamannya ketika bertugas di Fuel Terminal (FT) Sintang pada periode 2024–2026. Menurutnya penurunan muka air sungai merupakan kondisi berulang saat musim kemarau, bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.
Jetty FT Sintang berada di Sungai Melawi, kondisi perairannya sangat dipengaruhi curah hujan. Ketika level air di jetty sekitar 4 meter, kapal dengan draft 2,6 meter sudah berisiko tidak dapat melintas akibat pendangkalan di sejumlah titik alur. Sebaliknya, ketika muka air melebihi 10 meter, kapal juga menghadapi keterbatasan ketinggian untuk melewati jembatan.
Menurut Galih, kondisi Sungai Kapaus semakin ekstrem sejak Juli 2026. Level air mencapai 0,50 meter, bahkan jalur menuju Sanggau berisiko tidak dapat dilalui kapal.
Menyusutnya debit air Sungai Kapuas telah disampaikan ke Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), PLN dan Gubernur. “Kita mengikuti prosedur dan meminta kebijakan Gubernur,” kata Galih pada Energindo.co.id Kamis sore (17/9/2026) di ruang rapat Kantor SP FKPPA Jakarta Utara. Bila BBM tidak disalurkan bakal terjadi inflasi harga dan terputusnya distribusi.
Selain itu, pihaknya mengklaim adanya emergency declair. “Kita cari jetty alternatif untuk dilakukan pembongkaran,” kata Capt. Galih. Sebagai solusi, distribusi dialihkan melalui Tayan Hilir dengan menggunakan skema pembongkaran langsung dari kapal ke mobil tangki. Kendati demikian, pendistribusian BBM melalui kapal laut lebih efektif dibandingkan menggunakan transportasi truck. Karena jumlah BBM yang diangkut lebih banyak dibandingkan truck. Truck paling besar mampu membawa BBM 24.000 KL.
Lebih jauh Capt. Galih mengungkapkan untuk menghadapi pendangkalan akibat kemarau, pihaknya bersama jajaran Pertamina segera melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk KSOP Pontianak, khususnya Capt. Dian Wahdiana, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Polda Kalbar, Polairud, serta pemerintah daerah terkait.
Langkah utamanya, mencari dan mengevaluasi alternatif lokasi sandar maupun pembongkaran BBM yang aman, kemudian melanjutkan distribusi melalui jalur darat. Menurutnya, seluruh keputusan tetap mempertimbangkan keselamatan pelayaran, kondisi perairan, kesiapan fasilitas, dan keamanan distribusi.
“Prioritas kami adalah menjaga ketersediaan BBM agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi serta mencegah terganggunya aktivitas ekonomi, transportasi, dan potensi kenaikan harga akibat hambatan pasokan energi,” tuturnya.
Pendistribusian BBM yang dilakukan Capt. Galih melalui jalur perairan di Kalbar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sintang dan wilayah sekitarnya, melalui FT Sintang. Sedangkan jenis BBM yang didistribusikan meliputi B40, B50, Pertalite, dan Pertamax, sesuai kebutuhan serta perencanaan pasokan.
Perjalanan kapal tanker yang dinakhodai Capt. Galih bermula dari Terminal Cargo Pontianak menuju Sintang. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar lima hari. Kapal tanker melayani distribusi BBM di wilayah operasionalnya memiliki kapasitas sekitar 1.200 kiloliter (KL) per kapal, dengan frekuensi kunjungan mencapai 27 kali dalam sebulan. Apabila seluruh kapal mengangkut muatan penuh, potensi distribusinya mencapai 32.400 KL atau 32,4 juta liter per bulan.
Tidak hanya sekali Capt. Galih mengalami tantangan menyusutnya muka air Sungai Kapuas. Pada September 2024 terjadi penurunan muka air sungai sehingga menyebabkan distribusi BBM dialihkan melalui Jobber Sanggau.
Pada Juli hingga September 2025, ketangguhan Capt. Galih kembali diuji. Sebab level air terendah mencapai 0,90 meter sehingga operasional kapal menuju FT Sintang terhenti. Tantangan kembali menghadang. Pada Januari hingga Mei 2026, Capt. Galih lagi-lagi harus menemui level air Sungai Kapuas yang kembali menurun hingga 1,42 meter.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kondisi susutnya debit air Sungai Kapuas sebagai dampak dari El Nino. “Yang jelas karena efek El Nino sangat kuat yang terjadi di tahun ini. Kekuatan El Ninonya secara Indeks ENSO sudah menyerupai kekuatan El Nino yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015,” kata Budi Harsoyo, peneliti dari BMKG pada Energindo.co.id Senin (16/10/2026) di Jakarta. Diprediksi debit air Sungai Kapuas akan naik pada bulan sebelas (Nopember) minggu kedua.
Fenomena alam yang tidak kondusif tersebut direspon oleh Ketua Umum SP FKPPA Capt. Gandha Febriansyah. Dia mengungkapkan seyogyanya Pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dapat memodifikasi cuaca sehingga dapat direkayasa turun hujan.
“Dalam kondisi force majeur seperti ini, kita tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya mencari truck pengangkut BBM yang membutuhkan waktu 18 – 24 jam untuk mencapai lokasi,” kata Gandha.
Merespon permintaan Capt. Gandha, peneliti BRIN F. Heru Widodo menjelaskan bahwa institusinya dapat melakukan modifikasi cuaca. “Bisa dengan teknologi modifikasi cuaca, namun perlu dikaji musim transisinya dimana mulai muncul awan-awan konvektif yang bisa disemai menjadi hujan,” kata Heru pada Energindo.co.id Rabu (21/10/2026) di Jakarta.
Menurutnya, TMC atau hujan buatan bukan membuat hujan namun pihaknya melakukan rekayasa awan agar cepat turun menjadi hujan. “Metode ini sudah sering dilakukan Pemerintah,” katanya.
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bukan barang baru bagi Indonesia. Sejak 1977, proyek yang dulu lebih dikenal dengan istilah hujan buatan itu sudah dimulai. Ide itu muncul, saat Presiden Soeharto melihat pertanian di negara Thailand cukup maju. Setelah diamati, majunya pertanian Thailand disebabkan karena supply kebutuhan air pertanian dibantu oleh modifikasi cuaca.
“Berawal dari itu, Presiden Soeharto mengutus Pak Habibie untuk mempelajari TMC ini, kemudian tahun 77 dimulai proyek percobaan hujan buatan yang waktu itu masih didampingi asistensi dari Thailand. Jadi memang awalnya dulu TMC ini dipelajari di Thailand dan diaplikasikan di Indonesia fokusnya untuk mendukung sektor pertanian dengan cara mengisi waduk-waduk strategis baik untuk kebutuhan PLTA atau irigasi,” papar Heru.
Kekeringan Sungai Kapuas juga diamini Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Menurutnya Sungai Kapuas mengalami pendangkalan disebabkan El Nino. “Karena terjadi pendangkalan, distribusi BBM sedikit mengalami gangguan. Tapi sudah kita ubah cara pendistribusiannya dengan menjadikan kapal sebagai penampungan. Setelah itu diangkut menggunakan mobil truck,” tutur Bahlil yang juga merangkap Menko Hilirisasi dan Transisi Energi.
Menurut catatan Wikipedia, Sungai Kapuas atau sungai Kapuas Buhang atau sungai Batang Lawai (Laue) merupakan sungai yang berada di Kalbar. Sungai ini merupakan sungai terpanjang di Pulau Kalimantan dan sekaligus menjadi sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang mencapai 1.143 km. Kapuas menjadi jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir. Sungai ini memiliki lebih dari 33 anak sungai Anak sungai Kapuas di bagian hulu terjauh berada di Pegunungan Muller di utara, mulai dari perbatasan Indonesia – Malaysia, menuju pesisir selatan Kalimantan hingga bermuara di Laut Jawa.
Nama sungai Kapuas diambil dari nama daerah Kapuas (sekarang Kapuas Hulu) sehingga nama sungai yang mengalir dari Kapuas Hulu hingga muaranya disebut sungai Kapuas.
Tantangan dan suka-duka
Tantangan utama bagi para nakhoda dalam menghadirkan energi di bumi Borneo tidak ringan. Tantangan bisa berupa arus sungai, cuaca, pasang surut, serta pendangkalan alur pelayaran. “Tantangan terberat adalah menghadapi cuaca buruk, arus sungai, pendangkalan, dan kondisi pasang surut yang sering kali menghambat perjalanan kapal,” tandasnya.
Disamping itu, sebagian wilayah Sungai Kapuas dan Sungai Melawi juga belum memiliki peta navigasi resmi dan informasi kedalaman yang memadai. Karena itu, kapal turut memanfaatkan bantuan pandu alam, yaitu masyarakat atau personel lokal yang memahami karakteristik dan kondisi alur sungai, dengan keselamatan navigasi tetap menjadi tanggung jawab nakhoda.
Selain faktor alam, para nakhoda dihadapkan pada risiko keamanan, khususnya di sekitar wilayah Tayan. Capt. Galih mengisahkan, kapalnya pernah mengalami perampokan ketika berlayar kembali menuju Pontianak dalam kondisi tanpa muatan BBM. Pelaku mengancam awak kapal dan mengambil uang tunai serta sejumlah barang pribadi. “Kami segera berkoordinasi dengan Aparat Penegak Hukum (APH) dan pihak keamanan terkait untuk meningkatkan pengawasan serta pengamanan jalur distribusi,” ungkapnya.
Pengalamannya menjadi pelajaran penting. Bahwa keberhasilan distribusi energi tidak hanya ditentukan oleh ketepatan waktu, tetapi juga keselamatan awak kapal, keamanan pelayaran, dan perlindungan muatan.
“BBM harus sampai kepada masyarakat, tetapi keselamatan jiwa manusia tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan,” tegas Capt, Galih tentang prinsip yang dipegang teguh para nakhoda demi menghadirkan energi untuk negeri.














































































