Jakarta, Energindo.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong inovasi teknologi untuk mengatasi menipisnya cadangan minyak bumi dan meningkatnya emisi gas rumah kaca global.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kimia Molekuker BRIN, Dieni Mansur, menyatakan, pemanfaatan teknologi pirolisis terbukti mampu menyulap limbah biomassa dan sampah plastik menjadi senyawa kimia bernilai tinggi hingga bahan bakar alternatif.
Limbah biomassa dan plastik yang selama ini hanya berakhir di tempat pembuangan sesungguhnya menyimpan potensi besar. Melalui sentuhan sains dan teknologi, BRIN berupaya memaksimalkan nilai guna limbah tersebut menjadi produk baru yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Biomassa dan plastik sering kali kita buang begitu saja. Namun, pirolisis dapat mengembalikannya suatu hari nanti. Dengan teknologi dan sains, kita bisa membuat sesuatu yang baru, mengubah limbah menjadi nilai tambah bagi saya, anda, dan kita semua,” ungkap Dieni, dalam kegiatan The 12th International Symposium On Applied Chemistry (ISAC), di Gedung B.J. Habibie BRIN, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, dua masalah utama yang dihadapi dunia saat ini adalah krisis energi fosil dan tingginya emisi gas buang.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN memaksimalkan teknologi pirolisis, yaitu sebuah proses pemecahan materi organik melalui pemanasan suhu tinggi dalam kondisi tanpa atau minim oksigen. Keunggulan utama dari teknologi ini adalah kemampuannya mempercepat siklus produksi bahan bakar hanya dalam waktu reaksi sekitar dua hingga empat jam di dalam reaktor.
“Salah satu solusi untuk masalah tersebut adalah teknologi pirolisis yang dapat mengubah biomassa menjadi bahan bakar terbarukan dan senyawa kimia bernilai tinggi,” ujar Dieni.
Lebih lanjut, ia membedah bagaimana komponen dalam limbah biomassa, seperti hemiselulosa, selulosa, dan lignin dapat terurai secara termal pada suhu 200 hingga lebih dari 900 derajat Celsius. Riset BRIN telah menguji berbagai jenis limbah, mulai dari cangkang kelapa sawit, kayu cedar, kulit kakao, produk sampingan kapulaga, hingga sekam padi dan ranting kayu putih.
Dari proses pemanasan tersebut, dihasilkan tiga produk utama, yaitu gas, minyak hayati (bio-oil), dan arang hayati (biochar). Distribusi produk ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pemanasan. Pada pemanasan cepat (fast pyrolysis), produksi bio-oil bahkan bisa mencapai 70 persen.
Ia dan tim berhasil meningkatkan nilai kalor bio-oil dari cangkang kelapa sawit secara signifikan melalui proses hidrodeoksigenasi.
“Bio-oil yang berasal dari cangkang kelapa sawit memiliki nilai kalor sekitar 23 megajoule per kilogram. Kami kemudian mencoba meningkatkannya menggunakan katalis karbon rutenium dan karbon paladium. Hasilnya, fase minyak yang menjadi target kami mencapai nilai pemanasan hampir 30 megajoule per kilogram,” paparnya.
Selain bio-oil untuk bahan bakar, cairan hasil pirolisis juga menghasilkan asap cair (liquid smoke). Melalui teknik pemisahan dan pemurnian lebih lanjut, BRIN berhasil mengekstraksi bahan baku industri penting seperti aseton dan metanol yang berguna sebagai pelarut, serta fenol yang bisa digunakan sebagai bahan baku resin sintetis.










































































