Foto: Novita Hermawan, Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, menemani para warga binaan mengolah pelepah pisang
Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Pukul 11.00 WIB, matahari menyengat halaman Rutan Kelas IIB Kebumen, Jawa Tengah. Yanto Firdaus (42 tahun), Hamdi Muluk (36 tahun), dan beberapa warga binaan menjejerkan pelepah pisang di atas bambu. Mereka membolak-baliknya, memastikan tidak ada bagian yang masih lembap. Keringat mengalir dari pelipis. Kulit mereka menjadi legam terbakar matahari.
Dulu, mereka dilanda kegalauan dan kebimbangan. Kembali ke dunia hitam menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia. Tetapi pelepah pisang telah memberinya satu kemungkinan: menjadi pengrajin. Pelepah pisang yang berstatus sebagai sampah bisa menjadi barang berguna, kenapa “mantan” sampah masyarakat tidak bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain?
Pelepah yang Penuh Berkah
Di balik tembok tinggi Rutan, tangan-tangan yang sedang menjalani hukuman itu sedang belajar membuat sesuatu yang bernilai. Pelepah pisang itu dipilih, dipilah, dibersihkan, dikeringkan, dikupas, lalu diubah menjadi serat. Dari serat menjadi tali. Dari tali menjadi anyaman. Dari anyaman, lahirlah keranjang, tas, kap lampu, hingga hiasan dinding.
Pekerjaan mengolah pelepah pisang tampak sederhana. Walakin harus ada ketelitian yang dipelajari. Pelepah yang dipilih harus cukup tua dan kuat. Setelah dipotong, bagian-bagiannya dikupas dan dibersihkan. Kemudian dijemur sampai benar-benar kering. Sedikit saja masih menyimpan kelembapan, serat bisa mudah rusak atau berjamur.
Di situlah warga binaan belajar sesuatu yang lebih penting daripada sekadar membuat kerajinan: mutu. Tidak semua pelepah bisa digunakan. Tidak semua anyaman bisa dijual. Setiap produk harus memenuhi standar tertentu.
Pada tahap awal, di masa pelatihan, satu ton bahan baku telah dikirim ke Rutan Kelas IIB Kebumen. Dari sekitar 251 warga binaan, sebanyak 31 orang memenuhi persyaratan sekaligus memiliki minat untuk mengikuti pengolahan pelepah pisang. Dari total kebutuhan bahan baku sekitar 15 ton per bulan, Rutan Kelas IIB Kebumen ditargetkan memasok tiga ton pada tahap awal. Jumlah itu diharapkan secara bertahap meningkat hingga sekitar 30 persen dari kebutuhan.
Yanto Firdaus (42 tahun), warga binaan dari Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, merasa senang dengan program ini. Selain itu mengisi waktu dengan hal positif, ia juga dapat membangun pola pikir positif agar tidak terjerumus dalam “kemaksiatan” untuk kedua kalinya. Ia mulai melihat masa depan yang cerah dan perlahan mulai melupakan kegelapan dunia jalanan dan premanisme.
“Sekarang saya berpikir, sampah berupa pelepah pisang saja bisa jadi barang bermanfaat, masak manusia tidak bisa berubah, meski pernah dicap sebagai sampah masyarakat,” ungkap warga binaan dengan penuh optimisme.
Dari pekerjaan itu, warga binaan yang produktif mendapatkan honorarium. Nilainya mungkin tidak seberapa dibandingkan upah di luar sana. Tetapi bagi seseorang yang sedang berada di balik jeruji, uang hasil kerja sendiri mempunyai arti yang berbeda.
Yang lebih penting dari penghasilan adalah karya. Ketika pintu rutan terbuka, ada keterampilan yang bisa dibawa pulang. Mengolah pelepah pisang juga tidak membutuhkan modal yang terlalu besar. Pekerjaan itu dapat dilakukan di rumah, sendiri maupun bersama keluarga.
Hamdi Muluk (36 tahun), warga binaan dari Gombong, Kabupaten Kebumen, menegaskan bahwa ia dan sebagian besar teman-temannya tidak terlalu memusingkan soal honor. Baginya yang penting memiliki keterampilan yang bisa dibawa pulang.
“Saya berharap ketika mati nanti, akan dikenang sebagai seorang pengrajin yang berhasil mengolah pelepah pisang menjadi karya berharga, bukan sebagai seorang narapidana,” ungkap warga binaan yang sudah 3 tahun menjalani masa tahanan, dengan raut muka menyembunyikan kesedihan.
Delapan bulan lagi Hamdi keluar dari Rutan Kebumen. Satu hal sudah berubah. Waktu yang ia habiskan di balik tembok tinggi mulai bernilai. Kini, tangannya tahu cara mengubah pelepah menjadi sesuatu yang berharga. Ia pun mulai optimis bahwa sisa hidupnya akan bermanfaat untuk keluarga, bangsa, dan negara.
Dari Kebumen ke Amerika Serikat
Ada satu hal yang menakjubkan. Produk hasil karya warga binaan tidak berhenti sebagai barang pajangan di ruang kantor Rutan. Karya itu ternyata mempunyai jalan menuju pasar mancanegara. Pencapaian itu tak lepas dari kerja keras PT Agrominafiber Java Indonesia.
Pada akhir 2025 lalu, PT Agrominafiber Java Indonesia melakukan ekspor perdana 9.455 unit keranjang ke Amerika Serikat melalui enam kontainer. Nilai ekspornya sekitar USD57.200. Sebagian keranjang dibuat dari pelepah pisang. Sebagian lainnya menggunakan eceng gondok.
Pada 2026, PT Agrominafiber Java Indonesia berhasil memperluas pangsa pasar internasionalnya ke Eropa, Afrika, dan Oseania. Tentu saja dengan nilai yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pasar yang lebih luas sedang dibidik. Pilihan terdekat adalah Chili dan Argentina.
Dengan demikian, ketika tangan-tangan di Rutan Kelas IIB Kebumen mengeringkan pelepah pisang, sebenarnya mereka sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mengisi waktu selama menjalani hukuman. Mereka sedang menyambungkan diri dengan pasar global. Dan, jarak antara sebuah Kebumen dan Amerika Serikat dapat ditempuh melalui seutas serat.
Hamdi mengaku sempat tidak percaya ketika mendengar keranjang yang ia anyam akan dikirim ke Amerika Serikat. Ia belum pernah keluar Pulau Jawa. Bahkan selama tiga tahun terakhir ia tidak pernah keluar tembok Rutan.
“Saya tidak bisa ke Amerika. Tapi ternyata hasil karya saya dan kawan-kawan bisa lebih dulu sampai ke negeri Paman Trump,” ungkapnya bangga.
Keberhasilan perusahaan yang berdiri sejak 2021 itu dalam mengembangkan pelepah pisang tak lepas dari peran PT Pertamina (Persero) yang membinanya dari usaha mikro dan kecil menjadi usaha menengah yang mampu menembus pasar ekspor.
Novita Hermawan, Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, menjelaskan bahwa usahanya berkembang berkat pelatihan dan pembinaan dari PT Pertamina (Persero). Sebelum dibina PT Pertamina (Persero), usahanya hanya mengandalkan pasar dalam negeri dan pameran.
“Namun bagi masyarakat Indonesia, kerajinan dari pelepah pisang kurang nendang, karena dianggap kurang prestisius,” ujarnya dengan sedikit prihatin.
Namun, setelah menjadi binaan PT Pertamina (Persero) dan mengikuti Program Pertapreneur Aggregator, usahanya bisa menembus pasar luar negeri. Kini, pekerja yang terlibat di dalam usahanya lebih dari 100 pekerja, 31 di antaranya warga binaan di Rutan Kelas II B Kebumen.
Dalam membangun kolaborasi antara pihaknya dengan Rutan Kelas IIB Kebumen, PT Agrominafiber Java Indonesia mendapatkan asesmen secara langsung dari PT Pertamina (Persero), melalui upaya pendampingan dan pembinaan bagi Usaha Mikro Kecil (UMK) agar bisa tumbuh bersama dalam sebuah ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
“Terima kasih kepada Pertamina atas dukungan dan fasilitas yang telah membawa PT Agrominafiber Java Indonesia berkembang dengan baik, sekaligus memperkuat dampak sosial bagi para pengrajin binaan kami,” ungkapnya penuh semangat. Pernyataan serupa ini diungkapkan kembali oleh Novita secara publik melalui media sosialnya. Ini menegaskan bahwa ia betul-betul berterima kasih atas pembinaan dan pendampingan PT Pertamina (Persero) pada usahanya.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menegaskan bahwa kolaborasi dan sinergi antara Rutan Kelas IIB Kebumen dengan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam Program Pertapreneur Agregator sangat menantang. Fokus utama kerja sama diarahkan pada pemberdayaan warga binaan pemasyarakatan melalui pengolahan pelepah pisang menjadi serat alami ramah lingkungan yang memiliki nilai jual dan peluang pasar hingga skala global.
“Melalui pendampingan intensif, Pertamina berharap model kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi yang tidak hanya berdaya saing secara bisnis, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan,” jelas Baron melalui rilis yang disampaikan pada awak media.
Dalam kolaborasi ini Rutan Kelas IIB Kebumen menyediakan tempat dan warga binaan, PT Agrominafiber Java Indonesia membawa pengalaman usaha sekaligus standar produksi, sedangkan Pertamina melalui Porgram Pertapreneur Aggregator mengisi ruang pendampingan, perluasan jejaring usaha, dan penguatan bisnis.
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Heri Mujiono, menyampaikan bahwa meskipun kerja sama ini masih tergolong baru, respons yang muncul sudah sangat positif. Warga binaan Rutan Kelas IIB Kebumen menyambut dengan antusias.
“Alhamdulillah, walaupun belum genap satu bulan, kondisi di lapangan menunjukkan perkembangan yang baik.” Ujar pria gagah yang menjabat menjadi Kepala Rutan sejak 13 April 2026.
Bagi Heri, ada hal yang lebih penting lagi, yaitu perubahan perilaku warga binaannya yang semakin hari semakin baik. Mereka menjadi pribadi yang lebih produktif, memiliki keterampilan, dan yang terpenting berlatih membangun pola pikir yang positif.
Kegiatan pengolahan pelepah pisang bersama PT Agrominafiber Java Indonesia, lanjut Heri, menjadi salah satu bentuk pembinaan nyata di mana warga binaan belajar mengolah bahan sederhana menjadi bernilai guna dan memiliki potensi ekonomi.
“Kami berharap keterampilan ini dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” ungkapnya penuh bahagia.
Kesempatan Kedua
Perjalanan pelepah serupa dengan sirah warga binaan. Pelepah pisang terlihat tak berharga, bahkan cenderung dianggap sampah. Walakin, setelah melalui berbagai proses, ia menjelma menjadi barang ekspor sampai ke Amerika Serikat.
Warga binaan pun sedang menjalani proses yang tidak jauh berbeda. Mereka pernah melakukan kesalahan, sehingga kadangkala sering disebut sebagai sampah masyarakat. Mereka ini mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi ke depan, mereka berkesempatan besar untuk berguna bagi bangsa dan negara.
Di balik tembok Rutan Kebumen, pelepah-pelepah itu terus berubah. Sebagian menjadi serat, sebagian menjadi anyaman, lalu menjadi karya yang bernilai tinggi.
Tubuh warga binaan itu masih terkurung di balik tembok tinggi Rutan. Tetapi karya tangan mereka sudah melewati samudera yang luas.









































































