Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Pagi itu, Endra (33 tahun) tampak serius memperhatikan setiap materi yang disampaikan instruktur di ruang pelatihan Sensus Ekonomi 2026, di Hotel Ibis, Gading Serpong, Tangerang, 7-9 April 2026. Sesekali ia menunduk mencatat, lalu membuka kembali aplikasi pendataan di telepon genggamnya untuk memastikan setiap langkah pencacahan dipahaminya dengan benar.
Pria yang sudah tiga kali menjadi petugas Sensus Ekonomi merasa memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar: menjadi mata yang merekam perubahan wajah perekonomian Indonesia. Dulu, seseorang membuka toko berarti memiliki bangunan fisik yang bisa didatangi pembeli. Kini, banyak usaha lahir tanpa jejak papan nama.
*** *** ***
Revolusi digital mengubah wajah usaha di kota maupun desa. Warung kopi menerima pembayaran QRIS, toko kelontong membuka etalase di marketplace, dan pelaku UMKM memperoleh pelanggan melalui media sosial.
Karena itulah Badan Pusat Statistik (BPS) menyelenggarakan Sensus Ekonomi 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memotret perubahan struktur ekonomi Indonesia akibat digitalisasi.
Namun secanggih apa pun instrumen sensus, keberhasilannya tetap bergantung pada manusia yang berada di garis depan: petugas sensus. “The man behind the gun,” demikian ungkap sebuah pepatah.
Kesadaran itulah yang terus terngiang di benak Endra dan kawan-kawannya selama mengikuti pelatihan, siang malam, selama 3 hari. Ada gambaran jelas bahwa masyarakat kini menjalankan usaha dengan berbagai cara yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.
Pelatihan membekali petugas sensus dengan konsep dasar, definisi, metodologi, penggunaan aplikasi pendataan berbasis Computer-Assisted Personal Interviewing (CAPI), serta tata cara wawancara sesuai standar BPS, serta seluk beluk usaha berbasis digital.
Semua materi itu diperlukan untuk menggali bagaimana sebuah usaha dijalankan? Apakah penjual menerima pembayaran melalui QRIS? Apakah promosi dilakukan melalui Facebook, Instagram, atau TikTok? Apakah pelanggan datang langsung ke toko, atau justru berasal dari aplikasi pesan-antar? Apakah pembukuan masih menggunakan buku tulis, atau sudah memakai aplikasi digital? Jawaban-jawaban seperti itulah yang menurutnya akan memperlihatkan bagaimana transformasi ekonomi benar-benar terjadi.
*** *** ***
Pagi, 24 Juli 2026, Endra kembali berangkat ke Desa Karangharja, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, tempat ia harus melakukan sensus ekonomi. Tak terasa sudah hampir dua bulan ia menjalankan tugasnya. Dengan motor setengah tua, ia terus menjalankan tugasnya dengan serius. Ratusan pintu sudah diketuk, dengan segala konsekwensinya. Ada yang menyambut ramah, ada pula yang menolak dengan wajah masam.
Suatu siang, di tanggal berbeda, Endra menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah yang sekaligus menjadi tempat usaha. Di teras tampak beberapa paket siap kirim bertumpuk di samping mesin pencetak label pengiriman.
“Permisi, Pak. Saya dari Badan Pusat Statistik, sedang melaksanakan Sensus Ekonomi 2026,” sapa Endra sambil memperlihatkan kartu identitas petugas. Pemilik usaha hanya melirik sekilas. “Maaf, saya lagi sibuk. Kalau soal pajak, saya nggak mau jawab.”
Endra tersenyum tipis. “Bukan untuk pajak, Pak. Data ini hanya untuk kepentingan statistik.”
“Lha, semua juga bilang begitu.”
Suasana mendadak canggung. Endra tidak buru-buru membuka aplikasi pendataan. Ia justru memperhatikan tumpukan paket di sudut teras.
“Ramai juga kirimannya, Pak.”
Pria itu mengangguk singkat. “Lumayan.”
“Dikirim lewat marketplace?”
Kini sang pemilik usaha menatap Endra. “Kok tahu?”
Endra tersenyum. “Label pengirimannya kelihatan. Berarti usahanya sudah berkembang.”
Raut wajah pria itu mulai mencair. “Iya, awalnya cuma jualan ke tetangga. Sekarang pesanan datang dari mana-mana.”
“Kalau boleh tahu, pembayarannya masih tunai atau sudah pakai QRIS juga?”
“Macam-macam. Ada transfer, QRIS, kadang lewat aplikasi.”
Percakapan yang semula kaku perlahan berubah menjadi obrolan ringan. Endra baru membuka aplikasi pendataan ketika responden mulai bercerita dengan sendirinya.
“Saya kira Bapak mau tanya omzet untuk pajak,” ujar pria itu sambil tertawa kecil.
“Bukan, Pak. Saya hanya ingin memastikan usaha seperti milik Bapak ikut tercatat. Biar pemerintah punya gambaran bagaimana usaha sekarang berkembang.”
Pria itu mengangguk. “Kalau begitu, silakan. Mau ngopi dulu?”
Endra tersenyum. Penolakan yang beberapa menit lalu terasa seperti tembok perlahan runtuh oleh percakapan sederhana. Di layar telepon genggamnya, satu demi satu isian mulai terisi. Namun yang lebih penting, di balik angka-angka itu tersimpan kisah sebuah usaha kecil yang tumbuh mengikuti perubahan zaman.
Di sinilah tantangan terbesar seorang petugas sensus. Tidak semua responden akan langsung mengatakan bahwa usahanya telah terdigitalisasi. “Saya cuma jualan biasa, gak layak dipajakin.” Kalimat sederhana itu mungkin sering terdengar. Namun apabila petugas berhenti sampai di situ, potret ekonomi digital bisa menjadi kabur.
Seorang pedagang mungkin menganggap dirinya “jualan biasa”, padahal setiap hari menerima pesanan melalui WhatsApp, memasarkan produk lewat Facebook, dan menerima pembayaran menggunakan dompet digital. Karena itu, kemampuan menggali informasi atau probing menjadi sama pentingnya dengan memahami kuesioner. Namun di lapangan, kemampuan menggali informasi sering kali lebih menentukan daripada sekadar memahami kuesioner.
Menurut Endra, keakraban antara petugas sensus dan responden menjadi kunci. Ketika kepercayaan tumbuh, responden tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan, tetapi mulai bercerita tentang usahanya.
“Jika sudah akrab, masyarakat tidak hanya memberikan data yang akurat, melainkan juga mengeluarkan kopi dan kue”, ungkapnya mengenang.
*** *** ***
Persiapan BPS melalui pelatihan, pedoman, dan aplikasi digital telah menjadi fondasi yang kuat. Namun perkembangan teknologi berlangsung jauh lebih cepat sehingga peningkatan kapasitas petugas perlu terus dilakukan.
Karena itu, peningkatan kapasitas petugas menjadi investasi yang tidak kalah penting dibandingkan penyempurnaan instrumen sensus. Semakin luas wawasan petugas mengenai dinamika ekonomi digital, semakin kaya pula informasi yang dapat direkam dari lapangan.
Ketika petugas sensus mengetuk pintu demi pintu, menyapa para pelaku usaha, lalu mengisi setiap isian pada aplikasi sensus, muncul kesadaran bahwa mereka sedang merekam jejak perubahan bangsa.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 tidak diukur dari data yang dikumpulkan, melainkan dari kemampuannya menangkap denyut revolusi ekonomi yang terjadi.
Yang terpenting, data yang terkumpul akan membantu pemerintah menyusun kebijakan pengembangan UMKM, ekonomi digital, infrastruktur, hingga investasi yang lebih tepat sasaran.
*** *** ***
Ketika sore tiba, Endra menutup aplikasi pendataan. Hari itu ia hanya mendata belasan usaha. Namun di balik formulir digital itu tersimpan potret perubahan besar ekonomi Indonesia. Di tangan petugas-petugas sensus, angka-angka statistik adalah jejak perubahan zaman. Pemerintah harus mengantisipasinya dengan kebijakan yang tepat dan akurat, sehingga pelaku usaha di Indonesia menjadi maju dan berkembang.












































































