Jatijajar, Energindo.co.id – Angin malam masih berdesir. Pelan, desirannya menerpa kulit. Terlihat seorang laki-laki paruh baya memegang senter sedang memeriksa panel-panel energi surya di areal terminal Jatijajar Depok.
Senter di tangannya di julur-julurkan agar sinarnya tepat mengarah pada panel energi surya yang tersemprot otomatis melalui pompa. Pompa menyemprotkan air, membersihkan kotoran yang menempel di panel-panel hingga bersih.
Laki-laki itu bernama Wanto. Pria kelahiran Jatijajar ini tidak saja mengontrol kebersihan panel, ia juga memastikan energi aliran dayanya tersimpan secara maksimal ke baterai.
Lokasi baterai hanya berjarak kurang lebih 7 meter dari panel-panel surya. ASN ini sehari-hari memang bertugas sebagai teknisi PLTS, air dan infrastruktur Terminal Jatijajar Kota Depok Jawa Barat. “Perawatan PLTS tidak susah ya,” kata Wanto.
Urusan pemeliharaan dan perawatan tak luput dari perhatian Pengawas Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Terminal Jatijajar, Rafik Hidayat. Apalagi sejak 2025 dan 2026 (imbas kebijakan efisiensi Pemerintah Pusat) tidak lagi menjalin kerjasama antara Kementerian Perhubungan dalam hal ini BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek) dengan pihak ketiga, yang semula menangani pemeliharaan maupun perawatan PLTS. “Perawatan kami lakukan secara mandiri sebatas yang minor-minor saja, seperti pencucian panel PLTS, memotong rumput yang tumbuh liar di sekitar area PLTS atau bila terjadi error panel. Kalau yang mayor kami belum punya ilmunya, seperti perbaikan elektronik,” kata Rafik yang didampingi Suryadi, Humas terminal pada Energindo.co.id Rabu (17/6/2026) di ruang kerjanya, kantor Terminal Jatijajar Depok.
Beroperasinya PLTS di lingkungan terminal yang dibangun oleh Kementerian Perhubungan, manfaatnya sangat dirasakan. Utamanya untuk memenuhi kebutuhan terminal, kendati belum bisa disalurkan ke warga sekitar terminal karena belum sepenuhnya memenuhi seluruh kebutuhan terminal. Jadi, PLTS belum bisa menggantikan listrik dari PLN tetapi dapat menghemat energi yang dibutuhkan setiap hari. “Penghematannya sekitar 20% hingga 30% per bulan. Sebelum PLTS beroperasi biaya bulanan listrik PLN meroket dari Rp50 juta hingga 60 juta per bulan. Saat ini, dengan fasilitas PLTS, biaya listrik PLN maksimal Rp40 juta per bulan,” ungkap Rafik yang dikenal publik sebagai Kepala Terminal. Dengan kata lain, beroperasinya PLTS berdampak efisiensi. Apalagi Pemerintahan Prabowo Subianto sedang gencar-gencarnya menggalakkan efisiensi. Implementasinya di terminal Jatijajar terbukti dari efisiensi anggaran biaya listrik PLN dan efsiensi dalam pemanfaatan energi.
Pembangunan PLTS
Jamak diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat ini sedang mengampanyekan infrastruktur transportasi ramah lingkungan (go green).
Oleh sebab itu, dipilihlah terminal Jatijajar sebagai pilot project pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Pasalnya, areal terminal sangat luas, mencapai 9,8 hektar. Selanjutnya, pihak kementerian menggandeng BPTJ untuk membangun sekaligus mengelolanya. Proyek energi bersih ini mulai dibangun sejak Agustus 2023. Kini praktik operasionalnya menginjak tahun ketiga.
Proses pembangunan energi baru terbarukan (EBT) memakan waktu sekitar 6 bulan. Namun ketika ditanya nilai budget pembangunan, Rafik menjelaskan pihak terminal tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengadaan maupun pembangunan. “Kami hanya pihak penerima dan memanfaatkan. Semua ditentukan dari pusat,” ungkap Rafik.
Selain demi mengejawantahkan cita-cita sebagai simpul green transportation, PLTS difungsikan pula untuk memenuhi kebutuhan listrik terminal. Total kebutuhan dayanya mencapai 200 kWh. Sementara kapasitas daya energi berbasis sinar matahari ini mencapai 100 kWh. “Baru separuh daya terpenuhi,” kata Rafik.
Dia juga menjelaskan perihal sistem operasional PLTS. “Systemnya on grid. Bila listrik PLN menyala maka PLTS juga dapat mengalirkan daya. Tapi bila listrik PLN mati, PLTS tidak dapat menyalurkan daya namun bila kebetulan masih menyerap/menghasilkan daya energinya disimpan di baterai,” paparnya seraya berharap ke depan ada penambahan kapasitas daya lebih besar lagi.
“Setidaknya dari kebutuhan listrik terminal dapat terpenuhi semua melalui PLTS sehingga bisa melakukan penghematan yang cukup besar,” kata Rafik. Bila kapasitas daya PLTS besar, diharapkan nantinya menjadi pengganti listrik PLN. “Apalagi kasus pemadaman listrik terjadi hampir di seluruh wilayah Sumatra Utara. Belum lagi negeri ini rawan bencana, seperti banjir dan gempa. PLTS dapat menjadi pilihan alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi dan penerangan,” ungkap Rafik.
Intinya, PLTS sangat membantu operasionalisasi terminal sekaligus merealisasikan simpul green transportation melalui energi baru terbarukan. Dan Terminal Jatijajar sebagai salah satu pelopor infrastruktur transportasi hijau.











































































