Foto: Dokumen Jakarta UKhub
Oleh Zubairi Hasan, Guru dan Jurnalis
Sesaat setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa, Panglima Armada Demak Fatahillah mengganti namanya menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan yang gemilang. Selain kemenangan dari Portugis, juga merupakan kemenangan ilmu pengetahuan yang dipadukan dengan sinergi dan kolaborasi.
Untuk menggapai “Jayakarta”, Falatehan, demikian sumber sejarah lain menyebutnya, membawa 20 kapal besar dengan 1500 pasukan. Dalam konteks ini saja, Sang Komandan harus memiliki ilmu pengetahuan mendalam soal navigasi, arah angin, arus ombak, logistik, dan lain sebagainya. Selain itu, ia juga membangun sinergi dan kolaborasi dengan kompatriotnya dari Banten dan Cirebon.
Ketika Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo meresmikan Jakarta Urban Knowledge Hub (UKHub) pada 8 Juni 2026 di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Kota ini sedang mengirimkan pesan baru kepada dunia bahwa semangat “kemenangan yang gemilang” yang berbasis ilmu pengetahuan, sinergi, dan kolaborasi akan dihadirkan kembali di sana. Maklumlah, setelah aspal dan beton menghiasi pemandangan, ada satu hal yang terasa hampa, yaitu kekurangan ilmu pengetahuan yang berkelindan dengan sinegi dan kolaborasi untuk menghasilkan inovasi dan kreasi.
“Jakarta Urban Knowledge Hub akan memperkuat Jakarta sebagai kota berbasis riset, ilmu pengetahuan, inovasi, sinergi, dan kolaborasi,” demikian ungkap Mas Pram yang juga teknokrat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Ruang Publik
Perpustakaan, sekolah, atau perguruan tinggi memang menjadi pusat bersemainya ilmu pengetahuan. Tapi bagaimana sebuah ilmu itu berjalan lalu berwujud nyata menjadi inovasi, kreasi, seni budaya, ekonomi kreatif, perlawanan terhadap kezaliman penguasa, dan seterusnya, maka ruang publik menjadi episentrumnya.
Pada abad ke-5 sebelum Masehi, Athena menjadi kota yang dikenang karena ruang publiknya. Di Agora, pasar sekaligus ruang warga, perdagangan berjalan berdampingan dengan perdebatan gagasan. Di sana filsafat, politik, seni, dan ilmu pengetahuan tumbuh dari kebiasaan sederhana: orang-orang bertemu dan berbicara.
Athena mengajarkan bahwa kota yang legendaris adalah kota di mana ide, gagasan, dan ilmu pengetahuan menjadi bermakna. Bermakna artinya menghasilkan sesuatu yang konkrit, bukan sekadar omon-omon biasa saja.
Pada abad ke-7 Masehi, setelah hijrah, langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah mengubah nama Yastrib menjadi Madinah yang berarti kota berperadaban. Peradaban yang dimaksud Nabi Muhammad adalah komunitas yang berbasis pada kebebasan berpendapat dan berkarya. Ide mempunyai nilai yang tinggi, meski berasal dari seorang budak. Ide itu kemudian menjadi ilmu pengetahuan yang bermakna.
Ketika usulan strategi pertahanan kota datang dari Salman al-Farisi, seorang mantan budak dari Persia, Nabi Muhammad tidak bertanya siapa yang berbicara. Yang diperhatikan adalah kualitas gagasannya. Terlihat jelas, Nabi ingin membangun peradaban berdasarkan kesetaraan ide. Kesetaraan ide itu biasanya lahir di ruang publik yang bebas dari sekat kekuasaan, kebangsawanan, dan hirarki sosial lain.
Athena dan Madinah mengingatkan kita semua bahwa pusat pengetahuan ditentukan oleh ekosistem percakapan yang bermakna yang bebas dari intimidasi kekuasaan dan sekat hierarki sosial.
Ironi Besar
Di Jakarta UKHub, lantai enam Gedung Nyi Ageng Serang diisi Urban Hub Openbooks, Urban Hub Cinema, Urban Hub Podcast, dan Urban Hub Acoustic. Semua terdengar modern, juga keren. Walakin, ide di baliknya sangat tua: manusia selalu membutuhkan ruang untuk mendengar dan didengar yang kemudian melahirkan aneka macam inovasi dan kreasi.
Dari sinilah muncul ironi besar. Kota yang didirikan Kerajaan Demak ini sudah penuh dengan ruang rapat, seminar, forum diskusi, dan konferensi. Badan Pusat Statistik DKI Jakarta merilis angka fantastis bahwa pada 2025, perputaran uang dari ekonomi kreatif di wilayah ini mencapai Rp 450 triliun atau sekitar 11,53 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Maklumah, selama 50 tahun Indonesia dibangun dengan sentralisasi kekuasaan dan ekonomi, dengan Jakarta sebagai episentrumnya. Jakarta menjelma menjadi pusat bagi media, film, musik, desain, teknologi digital, dan periklanan.
Persoalannya, sebagian besar ekonomi kreatif itu lahir secara liar di “jalanan”, bukan di lembaga yang diinisiasi Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.
Hallo, apa kabar Taman Ismail Marzuki (TIM) yang sibuk bersolek dengan gedung-gedung tinggi? Maaf, film yang ditonton lebih 10 juta pemirsa berjudul “Agak Laen: Menyala Pantiku” tak lahir di sana. Hallo, apa kabar Forum Dinamika Jakarta (FDJ) yang diinisiasi Wakil Gubernur DKI Jakarta “Tidak Semua Laki-Laki Bersalah Padamu” Basofi Soedirman?
Ada harapan besar agar Jakarta UKHub tidak terjerembab dalam kesalahan yang sama dengan lembaga-lembaga sebelumnya. Mereka berharap agar wadah ini mampu menjadi ekosistem yang menghubungkan berbagai ekonomi kreatif sehingga terus tumbuh dalam skala nasional, bahkan juga internasional.
Kesimpulan penting yang harus diperhatikan oleh manajemen Jakarta UKHub adalah pusat kreativitas dan inovasi Pemerintah gagal karena tidak mampu menciptakan komunitas yang otonom dalam berpendapat maupun dalam berkarya, bukan karena pendanaan. Rezim represif dan anti perubahan sering merusak independensi komunitas itu.
Pusat Pertemuan Ide
Untuk itulah, Jakarta UKHub harus mampu menjadi inkubasi kelahiran insan kreator dan inovator yang terus menerus. “Mudawamah,” demikian meminjam istilah kitab klasik Islam. Institusi yang berada di kawasan elit ini harus menjadi tempat lahirnya kolaborasi kreator, peneliti, dan inovator sampai mereka menghasilkan karya atau produk nyata.
Jakarta UKHub juga harus menjadi jembatan antara kekuatan ide dari berbagai komunitas, apakah itu komunitas universitas, laboratorium perkotaan, dan pusat inovasi dunia, agar kreator dan inovator yang ada terus berkembang dan yang baru lahir segera mendapatkan perawatan sampai tumbuh dewasa.
Tak salah jika pusat pengetahuan kota ini perlu mendapatkan pendanaan memadai dari Pemda DKI Jakarta, sebagai salah satu provinsi terkaya di Indonesia, sehingga dapat menyediakan urban innovation fund atau skema micro-grant agar ide kecil dapat hidup meski masih berupa embrio.
Perlu juga ada upaya agar setengah saja dari Rp 450 triliun (perputaran uang di dunia ekonomi kreatif DKI Jakarta pada 2025) untuk ikut “bermain-main” di Jakarta UKHub, sehingga kreator dan inovator yang belum stabil mendapatkan tetesannya? Meminjam bahasa ekonomi agar tejadi “trickle-down effect” dari yang sudah mapan kepada yang masih merintis.
Terakhir, tentu saja “bayi” yang baru lahir beberapa hari lalu ini perlu menetapkan indikator keberhasilan secara transparan. Antara lain berapa kolaborasi lahir, berapa karya tercipta, berapa usaha tumbuh, dan berapa nilai ekonomi yang dihasilkan. Tanpa ukuran seperti ini, ia berisiko menjadi ruang yang ramai di awal, lalu perlahan kehilangan percakapan bermaknanya.
Dalam konteks ini, kita perlu belajar dari Knowledge Quarter di London yang telah melahirkan sekitar 6000-an ekonomi kreatif dengan jutaan orang yang mendapatkan manfaat secara langsung atau tidak langsung.
Untuk sampai pada tahapan di atas, Knowledge Quarter London mempertemukan lebih dari 100 institusi, mulai dari universitas, perpustakaan, museum, hingga perusahaan teknologi. Lembaga itu benar-benar membangun jejaring kolaborasi untuk menghasilkan ribuan usaha kreatif dan inovasi baru.
Akhirnya….
Pengalaman Athena, Madinah, dan juga London menunjukkan satu pelajaran yang sama: peradaban lahir ketika pemerintah merestui kebebasan untuk mempertemukan gagasan. Karena itu, masa depan Jakarta UKHub akan ditentukan oleh satu hal yang sangat mendasar: apakah ia berani menjaga kemerdekaan berpikir dan berkarya orang-orang yang beraktivitas di dalamnya?















































































