Aroma gula merah, perpaduan karamel yang manis dengan sedikit wangi kelapa panggang yang lembut, menyeruak dari penggorengan sederhana di Gang Rawa, Kota Bekasi. Di bawah terik matahari, Wida Farida, seorang ibu rumah tangga berdiri di balik lapak sederhana di pinggir jalan, menawarkan makanan khas Bekasi, kue cincin, kepada siapa saja yang lewat.
Saat itu, kalender menunjukkan Tahun 2016. Kota Bekasi masih semrawut, juga penuh carut marut. Setiap kali kendaraan melintas, debu jalanan beterbangan. Deru mesin truk dan sepeda motor yang tidak berada di jalur yang tertib bersahut-sahutan sepanjang hari. Teriakan tukang parkir liar menambah kebisingan kota.
Wida Farida, perempuan setengah baya itu hanyalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA). Modal besar tak ada, jaringan bisnis juga nihil. Pilihannya tak banyak, berdagang di pinggir jalan. Kadang dagangannya laris, kadang harus pulang membawa banyak sisa. Omzet yang diperoleh pun masih sangat kecil, hanya sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per minggu.
Bisa apa dengan uang sejumlah itu? Seringkali tebesit di hati untuk berhenti berjualan lalu bekerja sebagai pembantu di rumah gedongan. Opsi itu membuat Wida akan berstatus sebagai babu dalam waktu yang lama yang berakibat pada perilaku rendah diri pada anak-anaknya. Ia pun memilih bertahan. Di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga, ia terus belajar memperbaiki kualitas produk, mencari tahu selera konsumen, dan memikirkan cara agar makanan khas Bekasi bisa diterima lebih luas.
Harapannya sederhana: membantu perekonomian keluarga sambil mempertahankan kuliner tradisional khas daerahnya tidak hilang ditelan arus perubahan zaman.
“Yang penting terus jalan dulu. Kalau produknya bagus dan kita mau belajar, pasti ada jalannya,” ujar Wida mengenang masa-masa sulit ketika memulai usahanya.
Dari Bekasi ke Jepang dan Australia
Tahun 2023, Trans Studi Mall, Jl. Imam Bonjol, Pamecutan, Denpasar, Bali, penuh dengan lalu lalang para turis lokal dan mancanegara. Ada pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari beberapa daerah di Nusantara. Kota Bekasi mengirimkan perwakilan dan Wida menjadi salah satunya.
Berawal dari mata, lalu jatuh ke mulut. Sejumlah turis dari Australia dan Jepang penasaran dengan kue cincin yang bulat dan mungil. Donut bukan, ban bekas juga pasti bukan. Mereka mencicipinya serta menikmat aroma yang wangi dan rasa yang unik yang tidak pernah mampir di lidahnya sepanjang hayat, kecuali saat jalan-jalan di area pameran saat itu.
“Saat mengikuti pameran di Bali, kami mendapat pembeli dari Jepang dan Australia. Setelah mencoba produk kami, mereka kembali melakukan pemesanan dari negara masing-masing,” kata Wida.
Sejak saat itu, produk-produknya mulai menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi lautan. Dodol ketan hitam khas Bekasi telah dikirim tiga kali ke luar negeri. Kue cincin dikirim enam kali. Rengginang dan peyek sudah tujuh kali dikirim. Bawang goreng pun telah tiga kali menyeberang ke mancanegara.
Belum termasuk berbagai pesanan dari warga Indonesia yang membeli produknya secara langsung maupun melalui platform digital untuk kemudian dibawa atau dikirim ke luar negeri.
Bagi Wida, setiap paket yang berangkat di dalamnya ada kebanggaan karena makanan tradisional khas Bekasi dapat dinikmati oleh masyarakat di negara lain. Dalam kondisi seperti ini, keuntungan materi menjadi nomor sekian.
“Pencapaian ini membuktikan bahwa makanan tradisional khas daerah tetap memiliki peluang besar untuk diterima pasar global apabila diproduksi secara higienis, ada inovasi rasa, dikemas, dan dipasarkan dengan baik,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca penuh kebanggaan.
Pameran di Bali merupakan pameran paling berkesan dalam perjalanan hidupnya, melebihi pameran di Jakarta, Medan, atau di tempat lain yang diikutinya.
Naik Kelas Berkat Pembinaan BNI
Selasa, 4 Maret 2025, Kota Bekasi mengalami banjir besar, setelah hujan ekstrem mengguyur sejak sehari sebelumnya. Berbagai media menyebutnya sebagai salah satu banjir terparah yang merendam pusat kota, permukiman warga, hingga area perekonomian. Wida tidak luput dari peristiwa naas itu. Dua motor, satu mobil, dan semua peralatan produksi terendam. Toko rusak, bahkan pakaian sehari-hari pun hanyut entah ke mana.
“Dalam situasi seperti itu, ya hanya menangis dan berdoa yang bisa dilakukan. Mau apalagi?,” ucapnya mengenang kepiluan di masa itu.
Dalam situasi sulit itulah BNI datang, memberikan tempat pengungsian, alat kebersihan, dan bantuan lain sehingga ia dapat memulai produksi lagi, lalu bangkit sampai sekarang. Tentu saja tabungan sendiri yang ada di BNI juga sangat membantu Wida untuk melanjutkan usahanya.
Sejak tahun 2020-an, hubungan Bank Negara Indonesia (BNI) dan Wida sudah terjalin, melalui pelatihan pengembangan UMKM di Rumah BUMN Kota Bekasi. Sponsor utama pelatihan itu adalah BNI. Wida berkesempatan mengikutinya. Dengan tekun ia mempelajari bagaimana menghitung harga pokok produksi (HPP) yang berfungsi utama sebagai dasar penentu harga jual produk agar pelaku usaha untung, bukan buntung. Di sisi lain, konsumen merasa harga yang dibayarkan sesuai dengan kualitas dan kuantitas barang yang diterimanya.
HPP mencakup seluruh biaya langsung yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang atau jasa sampai siap dijual. Dengan memahami HPP, kita dapat menjual produk dengan harga yang tepat. Tidak kemahalan, tidak kemurahan. Pedagang untung, konsumen senang.
“Kita dapat menentukan harga yang sedang-sedang saja,” ungkapnya bangga sembari menirukan lagi dangdut yang hits di masa mudanya.
Berkat BNI juga, Wida juga belajar cara pengemasan yang higienes dan menarik. Kemasan memang hanya bersifat zahir saja, sementara intinya adalah aroma dan rasa sebuah makanan. Persoalannya, sebelum menikmati aroma dan rasa, yang pertama kali dilihat oleh calon pembeli adalah kemasan.
“Di zaman modern ini aroma dan rasa makanan yang enak harus dikemas dengan menarik agar pembeli ingin mencoba, lalu membeli kembali,” ungkapnya penuh semangat.
Yang sangat penting juga, berkat BNI, Wida belajar teknik pemasaran secara online, teknik penjualan secara offline, serta cara menghadapi konsumen saat mengikuti pameran dan bazar. Pemasaran dan penjualan harus dilakukan berdasarkan ilmu tertentu sehingga calon pembeli tertarik untuk membeli sebuah produk.
“Dulu saya takut dagangan tidak habis. Sekarang saya takut tidak sanggup memenuhi pesanan,” tuturnya.
Pengetahuan-pengetahuan tersebut menjadi bekal penting untuk membawa usahanya naik kelas. Perubahan mulai terlihat. Kemasan produk menjadi lebih modern. Kualitas produksi semakin terjaga. Jangkauan pemasaran meluas. Kepercayaan konsumen meningkat. Kesempatan mengikuti pameran-pameran besar pun semakin sering diperoleh.
Kini, berkat bantuan BNI, ia sudah dapat mempekerjakan tetangganya, minimal 5 orang. Namun jika pesanan banyak, pekerja yang terlibat dalam lini produksi lebih banyak lagi. Bisa dua atau tiga kali lipatnya. Sang suami tercinta kini juga fokus membantu usahanya, tanpa harus bekerja di tempat lain.
Selain itu, usaha yang dulu hanya menghasilkan ratusan ribu rupiah per minggu kini mampu mencatat omzet sekitar satu juta rupiah setiap hari.
“Tanpa bantuan BNI, rasanya sulit untuk naik kelas dan berkembang seperti sekarang,” kata Wida.
Berinovasi Tanpa Merusak Warisan Nenek Moyang
Meski bisnisnya berkembang pesat, Wida tidak ingin kehilangan ruh utama dari usahanya: melestarikan makanan tradisional Bekasi. Karena itu, ia memilih berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas produknya.
Kue cincin yang dahulu identik dengan satu rasa gula merah kini hadir dalam berbagai varian yang lebih dekat dengan selera generasi muda. Selain rasa Original (Gula Merah), tersedia juga rasa Wijen, Pandan, Kopi, hingga Red Velvet.
Seluruh produk dibuat secara higienis tanpa bahan pengawet, dengan tekstur yang tetap empuk serta perpaduan rasa manis dan gurih yang seimbang.
“Harapannya generasi sekarang mau mencoba makanan tradisional. Bahkan kalau bisa, mereka ketagihan dengan makanan peninggalan nenek moyang,” ujarnya.
Tidak hanya kue cincin, Mpok Wida juga memproduksi berbagai kuliner khas Bekasi lainnya seperti dodol ketan hitam, kembang goyang, keripik bawang, rengginang, peyek, hingga paket hantaran dan parsel khas Bekasi.
“Dulu saya menghitung uang hasil dagang setiap malam. Kadang hanya cukup untuk belanja besok pagi. Sekarang saya bersyukur hasil produksi orang Bekasi bisa dinikmati sampai Jepang dan Australia,” ungkapnya.
Menatap Pasar yang Lebih Luas
Kini, perjalanan yang dimulai dari lapak sederhana di pinggir jalan itu terus bergerak maju.
Kue Cincin Mpok Wida telah memiliki tiga gerai, salah satunya di Metropolitan Mall Bekasi, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Bekasi.
Pada 24 Juni 2026, Mpok Wida dijadwalkan mengikuti pameran di Batam, wilayah yang menjadi salah satu pintu masuk wisatawan mancanegara, termasuk dari Singapura.
Bagi Wida, setiap pameran bukan hanya kesempatan berjualan, melainkan juga peluang memperkenalkan kuliner tradisional Indonesia kepada pasar yang lebih luas.
Ia tahu perjalanan masih panjang. Namun pengalaman selama satu dekade mengajarkannya bahwa usaha yang dimulai dari tempat sederhana sekalipun dapat tumbuh jauh melampaui bayangan awal, selama dijalani dengan kerja keras, kemauan belajar, dan keberanian untuk terus berinovasi.
Kini, di dapur yang mulai tertata rapi, aroma gula merah masih tercium kuat, sama seperti sepuluh tahun lalu. Yang berbeda hanyalah tujuan perjalanan kue-kue itu. Dulu berhenti di tangan warga sekitar Bekasi, namun kini sebagian menempuh ribuan kilometer menuju Jepang dan Australia.













































































