Jakarta, Energindo.co.id – Alunan solawat dan seruan untuk segera bangun terdengar dari pengeras suara musholla di lingkungan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta. Saat itu jarum jam pendek dan panjang yang terpasang di dinding, kompak mengarah ke angka 04.00 WIB.
Nazwa dan kawan-kawan sesama penghuni asrama di SRMP 6 bergegas bangun, seusai dibangunkan oleh Wali Asuh. Mereka tampak sigap membereskan peralatan tempat tidur, mengambil air wudhu, mengenakan mukena dan segera beranjak ke musholla yang letaknya tidak jauh dari asrama.
Sebelum Adzan Subuh berkumandang, siswa dan siswi SRMP 6 telah duduk mengisi shaf shaf di musholla laki-laki dan perempuan mengisi deretan shaf-shaf yang terpisah. Antara jamaah laki-laki dan perempuan. Mereka bersiap tunaikan shalat Subuh berjamaah sesaat setelah adzan dikumandangkan. Rutinitas kegiatan pagi demikian berlangsung setiap pagi, sebelum siswa-sisiwi berasrama belajar di ruang-ruang kelas.
Nazwa Alyatul Janah, siswi kelas VII ini mengaku sulit bangun pagi, apalagi solat. “Sebelum sekolah di SRMP 6, saya susah bangun pagi. Sebelumnya sholat jarang-jarang. Sekarang tidak susah, rajin solat dan belajar,” kata Nazwa pada Energindo, Rabu siang (10/6/2026) di ruang Kepala Sekolah SRMP 6Jakarta.
Kini putri kedua dari pasangan Samhuri dan Israni mengaku dapat lebih mandiri. Padahal dia termasuk anak kolokan. “Sekarang sekolah berasrama yang berpisah dengan ortu. Terus saya belajar mengatur waktu lebih baik,” ujar peraih juara III di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi.
Menurutnya, tidak sedikit perubahan dirinya di sekolah berasrama ini. Dididik apa saja oleh Wali Asuh? “Diajari soal kepemimpinan dan memahami diri sendiri. Kebetulan saya jadi ketua kelas,” jawab Nazwa seraya menyebut nama Wali Asuhnya yang ia panggil Ibu Inna Yurifdila. Selain itu siswi kelahiran Jakarta Timur pada 18 Februari 2018 dapat belajar mengatur waktu untuk dirinya lebih baik.
Saat ditanyakan suasana belajar di kelas, pelajar yang bercita-cita ingin menjadi dokter ini menceritakan kondisi kelasnya yang lebih kondusif. Sebab, selain kelasnya sangat bersih dan nyaman, satu kelas hanya terdiri dari 25 murid. Di sekolah sebelumnya satu ruang kelas diisi 35 murid. “Gurunya lebih bisa menjelaskan pelajaran,” kata Nazwa yang terobsesi melanjutkan studinya di Sekolah Garuda.
Jamak diketahui, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi secara resmi memperkenalkan Sekolah Garuda, Rabu (8/10/2025). Program ini merupakan sebuah inisiatif terpadu yang terdiri dari dua skema utama, yaitu Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi. Keduanya dirancang secara sinergis untuk meningkatkan kualitas dan memperluas keseimbangan akses pendidikan di seluruh Indonesia, dikutip dari situs https://kemdiktisaintek.go.id/news/article/pemerintah-
memperkenalkan-sekolah-garuda-langkah-strategis-untuk-keseimbangan-akses-dan-akselerasi-talenta-berprestasi
Nazwa mengungkapkan dirinya merasa tidak terkekang bersekolah di asrama. “Enggak! Biasa ajah! Kan banyak teman-teman yang baik disini,” ucapnya sembari berharap SR tersebar ke pelosok negeri sehingga anak dari orangtua yang kurang beruntung secara mampu seperti dirinya bisa memperoleh pendidikan berkualitas.


Harapan serupa juga diutarakan oleh Ainiya Faida Azmi. Siswi yang duduk di kelas 7 SRMP 6 Jakarta punya harapan agar SR dapat dikembangkan lagi. “Terus bisa bantu anak-anak yang belum bisa sekolah,” kata Ainiya.
Dia sangat bersyukur dapat mengenyam pendidikan SR. Dididik agar memiliki skill kepemimpinan dan pengalaman baru. “Saya waktu SD orangnya tertutup banget. Setelah masuk SR, saya tahu punya bakat di Matematika. Dengan Wali Asuh saya dibimbing untuk mencari bakat-bakat saya. Di sini ditekankan untuk mencari jati diri dan jiwa kepemimpinan diasah,” ungkapnya.
Lebih lanjut Ainiya mengisahkan dirinya sering sulit untuk bangun pagi. “Dulu saya suka telat bangun, sholat dan bolos sekolah. Saya juga sering dibully di sekolah sehingga enggak nyaman. Tapi di SR nyaman dan teman-teman tidak membully lagi,” aku Juara 3 Olimpiade Matematika di Jakarta.
Dia menuturkan, kawan-kawannya solid. “Di sini dididik untuk selalu tepat waktu dan tidak bolos. Bahkan kami dibiasakan untuk sholat berjamaah 5 waktu,” kata siswi kelahiran Jakarta Timur pada 12 Juni 2013 ini.Bahkan, lanjutnya, dia justru baru menyadari mempunyai bakat ilmu Matematika saat berada di SR melalui bimbingan Wali Asuh. “Di sini ditekankan untuk mencari jati diri dan jiwa kepempinan diasah,” kata Ainiyah yang bercita-cita menjadi akuntan dan atlet basket.
Menurut putri dari pasangan Agus Kurniawan dan Dian Santi Paramita ini, dirinya sangat terbantu sekolah di SR. “Penghasilan ibu dari pekerjaan serabutan tidak menentu. Kakak saya pun juga dititipkan ke tante sehingga ibu bisa fokus pada pekerjaannya,” ucap Ainiya dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. Jadi, SR ini sangat membantu meringankan beban ekonomi orangtua dan keluarga.
Menjangkau invisible people dan muliakan martabat
Ungkapan Ainiya diamini oleh Miety Suwatno, ibu dari Joandra Taumeta Ramadhan, siswa kelas 7 SRMP 6 Jakarta. Menurutnya, keberadaaan SRMP 6 Jakarta yang terletak di Jalan PPA No. 1, RT/RW: 06/01, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, sangat dirasakan manfaatnya.
Dia menuturkan putra keempatnya diberikan kesempatan untuk belajar di SRMP 6 Jakarta. “Alhamdulillah, Sekolah Rakyat sangat membantu ekonomi keluarga. Bisa biaya untuk keperluan membeli alat tulis, buku, seragam, dan biaya hidup sehari-hari. Karena semuanya telah ditanggung negara,” katanya.
Saat ditanyakan persyaratan untuk dapat menyekolahkan putranya ke SRMP 6, Mama Joanda, sapaan akrab Miety Suwatno, mengungkapkan dirinya hanya menyiapkan sejumlah dokumen, seperti fotocopy KTP, KK, raport terakhir Joandra, dan ijazah. Hal itu diminta saat dirinya didata oleh pihak Dinsos (setelah diverifikasi pihak Diknas) yang mendatangi kediamannya.
“Ibu Ambar dari Dinsos yang mendata ke rumah saya,” kenang Mama Joanda, yang tak mengira putranya bisa memperoleh bantuan full cuma-cuma pendidikan, biaya hidup, makan 3x sehari hingga semua keperluan sekolahnya.
Dia tidak menampik kondisi ekonominya yang kurang menguntungkan. Apalagi hingga kini dirinya masih menumpang tinggal di rumah mertuanya. Sedang guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ia berjualan alat-alat tulis, seperti pensil, tas, buku, tempat pensil dan lain semacamnya. Peralatan itu ia pasarkan door to door maupun online kepada kerabat, tetangga maupun pihak lain.


Membentuk karakter
Lebih jauh Mama Joandra mengutarakan SRMP 6 menjangkau masyarakat yang belum tersentuh pendidikan. “Jangan bermimpi memperoleh pendidikan berkualitas bila ekonomi kita masih taraf Senin-Kamis,” kata Mama Joandra. Karena itu, lanjutnya, tidak berlebihan bila dikatakan Sekolah Rakyat dapat memuliakan martabat warga yang tidak terjangkau Pendidikan berkualitas, bahkan melahirkan anak-anak hebat dan berkarakter.
Buktinya? “Joandra, dulu saat masih di rumah sangat sulit bangun pagi, apalagi solat Subuh. Sekarang, setKepala Sekolah SRMP 6 Jakarta Regut Sutrasto. elah sekolah di asrama, ia bisa solat tepat waktu. Bahkan tahajud dan lancar baca Al-Quran,” tutur Mama Joandra. Jadi, ada perubahan sifat, kebiasaan, perilaku hingga karakter Joandra.
Pendidikan karakter memang menjadi keunggulan SRMP 6. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Sekolah SRMP 6 Jakarta Regut Sutrasto. Menurutnya karakter keagamaan yang dibentuk pertama dan diutamakan. “Kita menumbuhkan kesadaran solat berjamaah kepada peserta didik,” kata Pak Regut, panggilan akrab Regut Sutrasto. Kemudian membentuk karakter kebangsaan melalui lagu-lagu kebangsaan untuk menumbuhkan jiwa Patriotisme dan Nasionalisme.
Pihaknya mengundang anggota TNI untuk melatih kedisiplinan melalui latihan baris-berbaris kepada para siswa-siswi. Begitupun dengan disiplin dalam hal pola makan dan budi pekerti hingga akhlak.
Metode pembelajaran yang diterapkan seperti galibnya lembaga pendidikan lainnya. Namun di SRMP 6, setiap anak disediakan satu laptop. “Mereka juga dibiasakan belajar menggunakan smart board, di setiap kelas. Tersedia pula perpustakaan, dan laboratorium IPA,” kata Regut.
Dijelaskan Regut, Wali Asuh sebagai pengganti orangtua. Karena mereka diasramakan. “Wali Asuh ini yang mendidik karakter, perilaku, cara berpakaian, kebersihan hingga bakat. Satu wali asuh menangani 10 siswa/siswi. Saat ini ada 13 Wali Asuh, yang mengurus kebutuhan pelajar dari A hingga Z, ” paparnya sembari menyatakan SRMP 6 wujud mini Pesantren. Mereka disediakan asrama sebagai tempat tinggalnya.
Wulan dan Syifa, keduanya Wali Asuh yang sempat ditemui Energindo, mengamini amanah yang diberikan untuk membina karakter para anak didik dan mengurus semua kebutuhan anak didik. “Kami memang diberikan tugas mengawal, membina mental, karakter dan mengarahkan minat serta bakat anak didik di sini,” ujar mereka, hampir bersamaan.
Lebih lanjut Regut mengungkapkan, peserta didik tidak dikenakan biaya sepersen pun. “Kebutuhan hidup sehari-hari, mulai dari makan-minum, pakaian, seragam sekolah, Sepatu hingga peralatan kebersihan tubuh telah disediakan. Mereka selama 24 jam berada di asrama,” kata Regut seraya mengimbuhkan satu kamar diisi empat anak yang dilengkapi empat tempat tidur dengan empat kursi-meja belajar.
Untuk mengisi kegiatan, dijadwalkan pula beragam aktivitas sehari-hari. “Pada Rabu ada kegiatan Unjuk Kemampuan Anak. Setiap anak menunjukkan kemampuannya masing-masing. Seperti kemampuan ceramah agama, menari, kemampuan Bahasa Inggris dan lain semacamnya,” papar Regut.
Disamping itu, pihak sekolah memprogram kegiatan ekstra kurikuler sebagai wadah pencarian dan penelusuran minat-bakat siswa-siswi. Misalnya kegiatan menari, futsal, raga basket, sepak bola, kegiatan kursus Bahasa Jepang, Paskibra, Pramuka, OSN hingga baca tulis Al-Quran. Semua dilakukan selain sebagai upaya membentuk karakter juga wahana menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Dengan tingkat kepedean tinggi, siswa-siswi bisa berkompetisi dalam berbagai bidang akademik hingga ekstra kulikuler dengan lembaga pendidikan lainnya. “Terbukti, prestasi gemilang ditorehkan anak didik di ajang OSN dan kontestasi menari,” tegas Regut, penuh rasa bangga.












































































