Unsur tanah jarang (Rare Earth Elements / REE) merupakan komponen penting dalam produksi produk teknologi-tinggi, seperti telepon genggam, loud-speakers, kendaraan listrik, wind turbines, motor listrik, bahkan motor listrik pada rudal dan laser untuk militer. Saat ini pemasok unsur tanah jarang dunia didominasi oleh China.
Satu-satunya perusahaan yang memproduksi senyawa rare earth elements secara komersial di luar China adalah Lynas, sebuah perusahaan Australia di Malaysia. Lynas menggunakan teknologi proses dari China. Saat ini China melarang ekspor teknologi proses pembuatan senyawa unsur tanah jarang. Terkait larangan pemerintah china tsb dikonfirmasi pada saat kunjungan tim industrialisasi unsur tanah jarang PT TIMAH Tbk ke perusahaan BUMN pengolah LTJ di China.
Sementara teknologi proses yang digunakan perusahaan di USA, molycorp, tidak menunjukkan financial performance yang layak, sehingga perusahaan tutup.
Saat ini Lynas sedang membangun fasilitas pengolahan yang memproduksi unsur tanah jarang baru di Seadrift, Texas, dalam rangka pengembangan pasokan domestik unsur tanah jarang bagi perusahaan manufaktur produk komersial dan pertahanan di AS.
Pemerintah AS memasok dana bagi Lynas USA LLC melalui U.S. Department of Defense (DoD) untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas pengolahan yang memproduksi unsur tanah jarang.
Teknologi proses berbasis bahan baku hasil tambang tidak berkembang di eropa, karena tidak ada cadangan mineral yang mengandung unsur tanah jarang. Sehingga tidak ada teknologi proses untuk menghasilkan unsur tanah jarang yang telah beroperasi komersial di eropa berbasis pada bahan tambang. Teknologi proses skala komersial yang beroperasi di eropa berbasis bahan baku scrap.
Untuk memastikan ekstraksi dan pemrosesan unsur tanah jarang yang berkelanjutan, stabil, dan aman di Eropa, sebuah kemitraan antara perusahaan Norwegia Yara dan REEtec, serta lembaga riset SINTEF, telah mendapatkan dukungan sebesar EUR 12,5 juta dari program Horizon 2020 Uni Eropa.
Saat ini pabrik unsur tanah jarang yang mengolah bahan baku menjadi produk unsur tanah jarang sedang berupaya untuk mematuhi ISO 23664:2021 terkait ketertelusuran dalam rantai-pasok mulai dari penambangan hingga produk unsur tanah jarang individu. Standard tersebut tentu akan berpengaruh pada upaya perbaikan proses di penambangan hingga produk berbasis unsur tanah jarang, yang bertujuan untuk meminimasi dampak kesehatan dan lingkungan pada tahapan proses dari hulu ke hilir.
Mengingat adanya proteksi teknologi proses skala komersial yang telah proven oleh pemerintah china dan saat ini Lynas merupakan satu-satunya pabrik komersial di luar china, sebagaimana diuraikan di atas, satu satunya opsi adalah membangun pabrik pengolahan monasit (hasil samping produksi timah) menjadi oksida unsur tanah jarang individu berbasis teknologi proses yang dikembangkan di dalam negeri dengan kolaborasi internasional.
PT TIMAH Tbk merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang telah memulai tahapan industrialisasi unsur tanah jarang di Indonesia yang diawali dengan pembangunan pilot plant di Tanjung Ular Bangka yang mengolah monasit menjadi senyawa hidroksida campuran unsur tanah jarang dengan dukungan teknologi proses yang dikembangkan di BATAN. Bahan baku yang dipergunakan adalah mineral monasit yang mengandung Uranium dan Thorium, sehingga selain unsur tanah jarang berpotensi hasilkan uranium dan thorium sebagai by product ( Uranium dan Thorium merupakan bahan bakar pembangkit daya nuklir). Dari sisi kualitas produk pilot plant tsb sudah memadai untuk memasok permintaan pasar, tetapi dari sisi proses masih belum mencapai recovery unsur tanah jarang yang memenuhi syarat keekonomian.
Tinjauan keekonomian dilakukan pada hasil eksperimen pilot plant di BATAN dan pustekmira, serta process recovery fasilitas produksi Lynas di Malaysis. Tinjauan tersebut ditindaklanjuti oleh tim industrialisasi unsur tanah jarang PT TIMAH Tbk melalui kunjungan studi banding process flow pembuatan mixed senyawa unsur tanah jarang di pabrik skala komersial untuk mengetahui apakah ada perbedaan dengan process flow yang sudah dikembangkan dalam penelitian di lembaga riset Indonesia. Atas dasar studi banding tersebut dirancang process flow perbaikan dan duji secara eksperimen pada skala laboratorium dan disusun Term Of Reference untuk refurbishment, peningkatan recovery unsur tanah jarang pada proses produksi senyawa campuran unsur tanah jarang dan bahkan menambah fasilitas ekstraksi sehingga menghasilkan produk berupa oksida unsur tanah jarang (individu, bukan campuran), terutama oksida Neodymium (Nd2O3).
Dapat disimpulkan bahwa PT TIMAH adalah BUMN yang sebenarnya paling siap di Indonesia untuk merintis pembangunan instalasi proses berskala komersial yang menghasilkan unsur tanah jarang dari mineral monasit (mengandung Uranium dan Thorium), jika dapat dipastikan ketersediaan 6000 ton monasit per tahun. Monasit sejumlah itu diperkirakan dapat dihasilkan jika seluruh sisa produksi timah dari seluruh smelter timah di provinsi Bangk-Belitung dapat dikelola oleh pemerintah.

















































































