Jakarta, Energindo.co.id – Bumi Aceh kembali bergejolak. Kali ini bukan konflik bersenjata. Melainkan energi gas bumi. Pengeboran sumur eksplorasi RAYEU D-1 dipatok menyemburkan gas sebesar 11 juta SCFD (Standard Cubic Feet per Day) dan kondensate 300 BOPD (Barrel of Oil per Day).
“Alhamdulilah, Aceh mulai bergejolak lagi. KKKS PT. PGE telah melakukan tajak pengeboran sumur eksplorasi pertama tahun 2026 di Aceh,” ungkap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto pada Menko Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, yang juga diterima Energindo.co.id Minggu (1/11/2026) pukul 12.46 WIB.
KKKS PT Pema Global Energi (PGE) bersama dengan BPMA (Badan Pengelola Migas Aceh) lanjut Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto, telah melakukan tajak sumur eksplorasi RAYEU D-1 pada 31 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB.
Sumur ini, imbuh Djoksis, dibor secara berarah (directional) menggunakan rig BMA-16 berkapasitas 1.500 HP yang dioperasikan oleh PT Bina Mitra Artha (BMA), menuju target kedalaman akhir di 6.953 ftMD (6.894 ftTVD).
“Lokasi pengeboran ini terletak di desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya – Kabupaten Aceh Utara yang merupakan salah satu lapangan Wilayah Kerja Blok “B”, Provinsi Aceh.
“Pengeboran sumur RAYEU D-1 ini ditujukan untuk mengonfirmasi hasil seismik 3 (tiga) dimensi yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu serta berupaya mengembangkan potensi hidrokarbon pada prospek Rayeu D, dengan objektif utama dan sekunder berada pada reservoir batupasir Formasi Lower Seurula (lapisan LS dan LS-2),” papar eks Plt. Dirjen Migas. Dari sumur ini, PGE menargetkan produksi gas sebesar 11 juta SCFD dan condensate 300 BOPD.
Menurut Djoksis, pengembangan struktur Lower Seurula memegang peranan krusial dalam mendukung keberlanjutan produksi hidrokarbon di Blok “B”.
“Berdasarkan Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui senilai USD 17.528.076, operasi ini diestimasikan akan memakan waktu total selama 50 hari rig dengan total 74 hari operasi,” tandasnya. Estimasi waktu tersebut mencakup keseluruhan fase dari mulai pengeboran, komplesi, hingga tahapan pembersihan dan uji sumur (well testing).
Lebih jauh Djoksis mengutarakan seluruh rangkaian operasi dilaksanakan dengan berpegang teguh pada pedoman manajemen keselamatan yang telah ditetapkan untuk menyelenggarakan kegiatan pengeboran yang aman dan efektif secara biaya (cost-effective).














































































