Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id dan Guru di PP Mahasina, Kota Bekasi
Sore hari, Rabu, 26/5/2026, sekitar seribu lebih santri Pondok Pesantren Mahasina, Pondok Gede, Kota Bekasi “berada” di tanah suci. Tak ada hamparan pasir. Tak ada bukit batu. Tak ada lautan manusia berpakaian serba putih.Walakin, siapa pun yang berada di sana akan merasakan sesuatu yang serupa dengan getaran hati jamaah haji.
Di tiga layar raksasa yang dipasang di sudut-sudut pesantren, jutaan manusia sedang berkumpul di Padang Arafah. Kain ihram yang putih menyatu dengan hamparan padang pasir yang seolah tak bertepi. Dari Bekasi, para santri menyaksikan siaran langsung wukuf, puncak ibadah haji, serta merasakan getarannya.
Program itu terselenggara berkat kolaborasi Badan Pengelola Keuangan Haji Republik Indonesia (BPKH-RI) bersama Harian Republika. Keluarga besar santri dan bahkan seluruh masyarakat Indonesia dapat juga menyaksikan momentum di atas melalui live streaming.
Jarak delapan ribu kilometer tiba-tiba kehilangan jauhnya. Teknologi berhasil menampilkan audio-visual suasana haji secara real time, lalu doa santri dan masyarakat muslim menautkan hati yang terpisah.
Seperti apa yang terjadi di Arafah, sejumlah santri mengangkat kedua tangannya, memejamkan mata lalu berdoa: “Ya Allah, sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi kami sejak kecil.”
Tak jauh darinya, santri lain berdoa agar ayah dan ibunya diberi kesehatan sehingga dapat memenuhi panggilan Allah ke Baitullah. Yang lain lagi, dengan kepolosan yang mengundang senyum, memohon agar rezeki orang tuanya bertambah sehingga uang saku di pesantren juga ikut naik.
Doa-doa itu tentu sangat sederhana, namun justru sangat indah, karena memperlihatkan cinta dan kasih sayang santri pada orang tua dan keluarga.
*** *** ***
Pada musim haji 2026 lalu, sekitar dua juta jamaah berhimpun di Padang Arafah. Di antara mereka terdapat sekitar 221 ribu saudara kita semua, jamaah asal Indonesia. Mereka datang dari berbagai penjuru Nusantara, membawa bahasa, logat, warna kulit, dan kisah hidup yang berbeda. Di hadapan Allah, seluruh identitas dunia dilepaskan. Tak ada jabatan, kekayaan, atau asal muasal daerah. Yang muncul hanyalah dua lembar kain ihram, doa, dan penghambaan kepada Allah. Di sana, persaudaraan menemukan bentuk yang paling nyata.
Tiga layar besar di PP Mahasina terus bergerak menggambarkan suasana syahdu di Mekkah. Seluruh santri berasyik-maksyuk dengan tontonan itu. Ada santri yang memandang tanpa kedipan mata, sebagian lainnya terus menggerakkan tasbih digitalnya.
Para santri sudah pasti merasa begitu dekat dengan rumah Allah. Salat berjemaah lima kali setiap hari menautkan hati mereka dengan Ka’bah. Dapat dikatakan, hati para santri sudah tiba di sana lebih dahulu. Dari seribuan santri, hanya beberapa saja yang sudah menautkan jiwa raganya di rumah Allah melalui ibadah umrah. Sisanya, baru menautkan jiwanya saja, sementara raganya belum mendapatkan kesempatan untuk datang langsung ke Baitullah.
*** *** ***
Dalam acara bertajuk “Panggilan dari Arafah” ini, BPKH-RI menyelipkan pesan yang jelas, yaitu agar remaja dan pemuda-pemudi mulai merencanakan untuk menunaikan ibadah haji sejak dini.
Acara yang dipandu oleh influencer Sahil Mulachela ini berlangsung dalam suasana yang hangat. Dari Kota Bekasi, ia mulai percakapan interaktif dengan Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah.
“Berhaji saat masih muda dan sehat sangat penting agar ibadah dapat dilakukan secara maksimal. Ayo rencanakan berhaji sejak muda,” ungkapnya setelah dalam sebuah tenda, karena suhu di Mekkah mencapai empat puluh derajat celcius.
Kalimat itu cukup sederhana sehingga mudah dipahami. Tapi seperti batu kecil yang dijatuhkan ke permukaan danau, riaknya menyebar ke mana-mana. Menusuk ke dalam kalbu sanubari para santri dan mungkin juga pada pemirsa yang menonton acara itu secara online.
Selama ini banyak orang menganggap haji adalah impian yang baru layak dipikirkan ketika usia senja. Setelah anak-anak selesai sekolah. Setelah rumah lunas. Setelah pekerjaan selesai. Padahal antrean haji di Indonesia telah mencapai puluhan tahun.
Jika mimpi itu baru dimulai ketika rambut mulai memutih, sudah pasti kesempatan untuk berhaji datang ketika tenaga telah jauh berkurang.
Di sini, BPKH mencoba menggeser cara pandang masyarakat. Haji merupakan impian yang harus mulai dibangun ketika masih muda, sehat, dan produktif. Sebab waktu tunggu haji terus memanjang, sedangkan usia tak pernah bisa dinegoisasikan.
“Bukalah tabungan haji meski hanya dengan saldo awal Rp100 ribu,” ajak Nyai Hj. Badriyah Fayumi, Pengasuh PP Mahasina.
Seratus ribu rupiah mungkin hanya cukup untuk sekali makan di pusat perbelanjaan. Namun di tangan seorang santri, nominal sekecil itu berubah menjadi sebuah ikrar untuk memulai perjalanan panjang menuju Baitullah.
“Kalaupun kita belum sempat berhaji, niat yang dibuktikan dengan kesungguhan menabung itu, Insya Allah, telah menjadi amal ibadah haji,” lannjutnya.
Kalimat itu membuat santri merenung bahwa Allah menilai kesungguhan dari niat, usaha, proses, dan kesungguhan, bukan sekadar dari hasil akhir.
Sore itu para santri juga diajak memasuki ruang yang mungkin terasa asing bagi sebagian mereka: literasi keuangan syariah. Anggota Badan Pelaksana BPKH Acep Riana Jayaprawira menjelaskan bagaimana dana haji dikelola secara profesional dan penuh kehati-hatian. Dana yang dipercayakan jutaan calon jamaah dikembangkan melalui instrumen syariah agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat.
Masih menurut Acep, dana haji yang dikelola BPKH sudah mencapai Rp183 triliun, dengan nilai manfaat sekitar Rp13 triliun. “Dana haji yang dikelola BPKH terus meningkat dari tahun ke tahun,” ungkapnya. Jelas, angka-angka itu merupakan salah satu pelajaran penting tentang amanah, tentang kepercayaan, dan tentang doa-doa dari umat Islam untuk segera berdiri di depan Ka’bah.
Para santri yang sehari-hari menghafal al-Qur’an dan Hadis, sore itu belajar bahwa mengelola keuangan umat dengan jujur dan amanah juga merupakan salah satu ajaran penting, bahkan juga terpenting, dalam Islam.
*** *** ***
Menjelang akhir acara, Pengasuh PP Mahasina KH. Abu Bakar Rahziz, yang akrab dipanggil Abah, berdiri menyampaikan pesan singkat. Beliau mengucapkan terima kasih kepada BPKH dan Harian Republika yang telah mempercayakan PP Mahasina menjadi bagian dari program yang begitu bermakna.
Beliau mendoakan agar keluarga besar pesantren dan seluruh umat Islam selalu sehat, mendapatkan keberkahan rezeki, dan suatu hari dipanggil menjadi tamu Allah. Beliau juga mendoakan agar BPKH terus berkembang sehingga manfaatnya semakin luas dirasakan umat Islam Indonesia.
Ketika azan Magrib berkumandang, langit Kota Bekasi mulai berubah jingga. Gelas-gelas es kuwut tersaji di atas meja. Rasa manisnya menyegarkan tenggorokan yang sejak pagi berpuasa Arafah.Tak lama kemudian, ikan nila pecak, tempe bacem, mentimun segar, kerupuk, dan potongan semangka merah menjadi santapan berbuka.
Semuanya terasa begitu nikmat. Mungkin bukan semata karena lapar. Melainkan karena sore itu setiap orang baru saja melakukan perjalanan batin yang panjang. Perjalanan yang tidak ditempuh dengan pesawat. Tidak pula dengan kapal. Tetapi dengan iman.
*** *** ***
Dari sebuah pesantren yang teduh di Kota Bekasi, para santri memang belum mengenakan kain ihram. Mereka juga belum mengelilingi Ka’bah ataupun berdiri di Padang Arafah. Namun sore itu mereka telah melakukan sesuatu yangs sangat dibutuhkan sebelum memulai amal kebajikan: menanamkan niat.
Ya, perjalanan besar selalu bermula dari niat yang dijaga, ikhtiar yang dirawat, serta keyakinan bahwa suatu hari Allah akan memanggil nama mereka untuk menjadi tamu-Nya.











































































