Jakarta, Energindo.co.id – Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berjibaku untuk mewujudkan target 1 juta barel minyak per hari pada tahun 2030. Kendati masih membutuhkan proses berliku tetapi apa yang telah diraih saat ini tidak lepas dari perjuangan dan pengorbanan investor dan para pekerja migas.
Strategi yang ditempuh adalah menggenjot pengeboran sumur-sumur tua.
Menurut Kepala SKK Migas Djoko Siswanto setiap kegiatan pengeboran migas merupakan hasil kolaborasi antara keberanian investor dalam menanamkan modal dan dedikasi para pekerja yang menjalankan operasi di lapangan.
“Setiap tetes minyak dan gas yang mengalir keluar dari perut bumi dibayar dengan dua mata uang: modal yang bisa hangus dari investor, dan keringat plus nyawa yang dipertaruhkan pekerja,” tandas Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto pada Energindo, Kamis (4/6/2026).
Keduanya, lanjut Djoksis, sama-sama bertaruh. Bedanya cuma: satu mempertaruhkan angka di laporan keuangan, satu lagi mempertaruhkan detak jantung di lapangan.
Saat ini, salah satu kegiatan pengeboran yang sedang berlangsung dilakukan di Sungai Anggur-3 (SA-3) oleh PT Sele Raya Belida (SRB) di Wilayah Kerja Belida, Sumatera Selatan.
Kisah pekerja migas
Di atas rig yang berdiri kokoh di tengah laut, tengah hutan, atau padang tandus, ada dua cerita pengorbanan yang berjalan beriringan. Pertama, pengorbanan investor. Sebelum mata bor pertama menyentuh tanah, investor sudah menaruh taruhannya di atas ketidakpastian. Miliar rupiah dibakar untuk survei seismik, izin, dan sewa rig. “Tidak ada jaminan. Satu sumur bisa dry hole kosong melompong. Modal hilang, waktu terbuang, saham anjlok,” tutur pekerja migas di SRB.
Resikonya bukan cuma uang. “Ada resiko regulasi yang tiba-tiba berubah, harga minyak dunia yang terjun bebas, atau konflik geopolitik yang bikin proyek mandek,” tulisnya. Investor mengorbankan rasa aman demi potensi imbal hasil yang diharapkan akan didapatkan. Mereka berjudi dengan probabilitas, tidur dengan kalkulasi resiko di kepala.
Cerita kedua, ungkap pekerja migas di SRB, adalah pengorbanan pekerja. Di lantai bor yang tinggi dan di area pemboran, para pekerja migas bekerja 24 jam sehari secara bergilir non-stop. Jauh dari keluarga, di tengah cuaca ekstrem dan deru mesin.
Resikonya nyata dan fisik, diantaranya lanjut pekerja migas di SRB, bekerja pada ketinggian, resiko kejatuhan barang berat, ledakan gas, blowout, gas beracun H2S, pipa bertekanan tinggi yang bisa melecut, sampai terpeleset dari ketinggian. “Satu kesalahan kecil bisa berarti nyawa. Mereka mengorbankan waktu bersama anak-istri, mengorbankan tubuh untuk kelelahan kronis, mengorbankan rasa takut demi memastikan energi tetap mengalir ke rumah-rumah,” tulisnya.
“Kami, investor dan pekerja migas di SRB siap memberikan yang terbaik untuk merah-putih,” tulisnya, mengakhiri kisahnya.















































































