Foto: Singapore Airlines (SQ)
Singapore Airlines (SQ) memiliki peran penting untuk menghubungkan Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Di Singapura, warga negara dari manca negara berkumpul, lalu terbang ke Indonesia melalui Jakarta, Bali, Surabaya, dan Medan.
Posisi Singapura sebagai pusat transit internasional sangat strategis, karena berada di tengah-tengah Asia Tenggara. Untuk itu, masyarakat dunia dari berbagai benua perlu mampir ke negara tersebut, sebelum melanjutkan perjalanannya ke negara lain, termasuk ke Indonesia.
Menghantarkan Turis
Pada tahun 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah turis mancanegara yang masuk ke wilayah Indonesia mencapai 15,39 juta orang. Berdasarkan titik pemberangkatan, paling banyak para turis masuk ke wilayah Nusantara melalui Malaysia dengan porsi mencapai 17,3%, disusul Singapura sebanyak 14,5%, dan Australia sebanyak 11%.
Dengan hitungan itu, berarti turis yang masuk ke Indonesia melalui hub Singapura berjumlah 2,3 juta orang. Sayang tak ada data publik perihal berapa di antara mereka yang masuk ke Indonesia melalui SQ. Jika diandaikan 10 persen saja, maka SQ membawa turis lebih dari 230 ribu orang pertahun.
Sementara itu, masih menurut BPS, rata-rata turis yang berkunjung ke Indonesia berbelanja Rp 22 juta per-orang. Ini berarti SQ berkonstribusi pada perekonomian Indonesia sekitar Rpp 46 triliun setiap tahun.
Wisatawan asal Singapura sendiri dikenal sangat antusias untuk membeli produk kerajinan dan barang lokal dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hasil penelitian perusahaan jasa pengiriman Ninja Xpress dan CPXI Asia menegaskan bahwa turis asal Singapura merupakan pangsa pasar terbesar produk Indonesia, karena kedekatan geografis, kultur, dan minat yang tinggi terhadap keaslian budaya serta kualitas kerajinan tangan masyarakat Indonesia.
“lebih dari 40% pembeli di Singapura dan Malaysia tertarik untuk membeli produk dari Indonesia. Ini adalah peluang besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperluas pasar dan meningkatkan penjualan,” tulis Ninja Express melalui laman resminya.
Ini menegaskan bahwa turis dari Singapura sangat penting bagi perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia.
Membawa Limbah
Menariknya, saat terbang dari Indonesia untuk kembali ke Singapura, SQ membeli dan membawa limbah berupa minyak jelantah. Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan 2 atau 3 kali, sehingga harus dibuang. Dunia internasional menyebutnya sebagai Used Cooking Oil (UCO).
Namun SQ sangat berbaik hati, dengan membeli limbah tersebut, lalu membawanya ke Singapura. Untuk apa? Ya, SQ berkomitmen untuk mendukung energi hijau. Karena itu, limbah minyak jelantah tadi diolah menjadi sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan campuran untuk avtur.
Informasi di atas disampaikan oleh salah seorang pejabat penting di Indonesia yang mengelola anggaran Rp 335 Triliun pertahun, yaitu Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana. Ia menjelaskan bahwa minyak jelantah tidak dibuang, akan tetapi ditampung, kemudian dibeli oleh Singapore Airline (SQ) untuk diolah menjadi bio energi di Singapura,” ujar Dadan dalam sebuah konferensi yang juga dihadiri jurnalis www.energindo.co.id di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Jakarta, 20/11/2025.
SQ, lanjut Dadan, memberikan harga terbaik, yaitu dua kali lipat dari harga pasaran. Sebagai informasi, PT Petamina membeli minyak jelantah dari masyarakat dengan harga Rp 5 ribu atau Rp 6 Ribu perliter. Namun menurut Dadan tadi, SQ membeli minyak jelantah dengan harga dua kali lipatnya, atau Rp 10 ribu-Rp 12 ribu perliter.
“Ini merupakan peluang ekonomi menarik, karena setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengkonsumsi sekitar 800 perliter minyak goreng per bulan, dan 70 persen di antaranya berubah menjadi minyak jelantah,” ungkapnya penuh semangat.
Mari kita berhitung nilai ekonomis dari minyak jelantah yang ada di SPPG. Nilai 70 persen dari 800 liter adalah 560 liter perbulan atau 6.720 liter per-tahun. Jumlah SPPG di Indonesia mencapai 30 ribu unit, sehingga minyak jelantah yang bisa dikumpulkan adalah 231.600.000 liter. Jika setiap liter minyak jelantah bernilai Rp 10 ribu, maka akan terkumpul uang senilai Rp 2,3 Trilun lebih. Tepatnya adalah Rp 2.310.600.000.000 (Dua Triliun Tigaratus Sepuluh Miliar Enam Ratus Juta Rupiah). Luar biasa bukan?
Ringkasnya, kebijakan SQ untuk membeli minyak jelantah dari Indonesia telah memberikan keuntungan yang banyak. Indonesia mendapatkan keuntungan ekonomis dan keuntungan lain yang tidak ternilai harganya berupa keselamatan lingkungan dari kerusakan jika limbah minyak jelantah di buang begitu saja.
Energi Hijau
Industri penerbangan internasional kini berlomba-lomba untuk menggunakan bahan bakar ramah lingkungan atau sustainable aviation fuel (SAF). Minyak jelantah termasuk komoditi yang favorit untuk diolah menjadi SAF.
Secara ekonomis, harga avtur dari minyak jelantah masih relatif mahal, yakni sekitar 2 atau 3 kali lipat dari harga avtur berbasis fosil. Namun secara teknis, transformasi minyak jelantah menjadi avtur lebih mudah dengan persediaan melimpah.
Studi The International Council on Clean Transportation (ICCT) yang berbasis di Jakarta menjelaskan keunggulan penggunaan minyak jelantah untuk SAF. “SAF yang terbuat dari minyak jelantah (used cooking oil/UCO) memiliki biaya produksi rata-rata paling rendah dibandingkan dengan SAF jenis lainnya, menjadikannya sebagai opsi jangka pendek yang menarik,” ungkap ICCT melalui laman resminya.
Secara umum, penggunaan avtur berbasis SAF dapat mengurangi emisi dalam jumlah besar. Pada 2050, Asosiasi Perhubungan Udara Internasional (IATA) menargetkan nol karbon dari industri penerbangan. Penggunaan SAF dapat mengurangi sekitar 65 persen emisi karbon.
“We estimate that SAF could contribute around 65% of the reduction in emissions needed by aviation to reach net zero CO2 emissions by 2050. This will require a massive increase in production in order to meet demand,” demikian tulis IATA dalam laman resminya.
Menyadari target pengurangan emisi, SQ berupaya untuk mengurangi penggunaan avtur berbasis fosil dan menggantinya dengan avtur berbasis SAF. Dalam situasi seperti inilah, minyak jelantah dari Indonesia menjadi limbah yang penuh berkah.
Jika minyak jelantah dibuang maka akan merusak lingkungan, namun jika terus dipakai akan memicu kerusakan pada tubuh manusia. Bukankah hal itu seperti buah simalakama: dimakan ayah mati, dibuang ibu mati? Oh tidak. Ternyata masih ada solusi ketiga, yaitu dijual dan diangkut ke Singapura melalui SQ. Jadi, ke Indonesia SQ menghantarkan turis yang membawa rezeki melimpah, namun kembali ke Singapura membawa limbah minyak jelantah. Mantap!













































































