Jakarta, Energindo.co.id – Konflik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan dalam sebuah diskusi akademik yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta, Jumat (10/4/2026). Acara ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda, yakni analis Timur Tengah Fathurrahman Yahya, Didin Didin Nasirudin (sarjana nuklir dan praktisi komunikasi strategis), serta jurnalis Liputan 6, Henry Sianipar.
Diskusi Ilmiah yang bertajuk ‘’Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? sebagai respons atas eskalasi konflik yang terjadi di Kawasan Timur Tengah, utamanya perang AS-Israel vs Iran.
Berkaitan dengan topik diskusi tersebut, secara khusus Energindo.co.id berbincang dengan salah seorang Narasumber, Fathurrahman Yahya, Peneliti Komunikasi Politik dan Diplomasi Sekolah Pascasrjana Universitas Sahid Jakarta pada Senin (13/4/2026).
Sebagai analis geopolitik Timur Tengah, Fathurrahman Yahya-alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, menjelaskan bahwa akar konflik yang terjadi saaat ini, utamanya perang AS-Israel vs Iran tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang, kepentingan politik global, rivalitas kekuatan regional dan ambisi penguasaan terhadap simpul-simpul energi.
“Timur Tengah adalah panggung besar geopolitik dunia karena letaknya strategis dan kaya sumber daya alam-energi. Setiap eskalasi konflik hampir selalu melibatkan aktor eksternal untuk kepentingan strategis, termasuk soal energi,” ujarnya.
Ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan bilateral dan regional, melainkan menjadi ajang tarik-menarik kepentingan kekuatan besar. Ekspansi pengaruh geopolitik Rusia dan China di kawasan, termasuk aliansi strategisnya dengan Iran akan mengancam hegemoni Amerika Serikat yang sudah eksis.
Menurut Fathurrahman Yahya, Timur Tengah menjadi perebutan hegemoni kawasan karena secara geopolitik, Timur Tengah adalah “pivot region” dalam sistem internasional. ‘’Hemat saya, konflik ini sebenarnya bagian dari desain strategis kebijakan geopolitik Amerika Serikat dan Israel untuk mempertahankan dominasinya dan menahan kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional yang belum terlemahkan melalui revolusi Arab Spring 2011. Lebih dari itu, melemahkan kapasitas militer dan nuklir Iran serta mempertahankan arsitektur hegemoni geopolitik Barat-AS’,
Relevansinya, berkaitan dengan dimensi kebijakan energi global, persaingan antar kekuatan besar (AS, China, Rusia) dan dimensi Geopolitik yaitu menghubungan isu enegri, ideologi dan keamanan strategis dalam rangka membangun arsitektur hegemoni keamanan regional Amerika Serikat, berikut penguasaan terhadap sumber-sumber energi, lanjut Fathurrhman Yahya.
Sukses Presiden Trump menumbangkan rezim Nicholas Maduro di Venezuela (3/1/2026) dan berhasil menguasa minyaknya, berarti ia telah mereduksi pengaruh China dan Rusia di Amerika Latin, termasuk suplai energinya. Demikian juag di Iran. Bagaimana Implikasinya bagi Asi dan dunia?
Tidak dipungkiri, konflik Timur Tengah ini sangat berdampak terhadap kawasan Asia, ASEAN termasuk Indonesia. Kawasan Asia diperkirakan menyumbang 60% dari pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2024. Begitu pentingnya peran Asia dalam lanskap ekonomi global. Maka, jika perang ini berlangsung lama, bukan hanya Asia yang terdampak, melainkan dunia juga akan merasakan dampaknya.
Sebelum konflik ini semakin meluas ke Kawasan Teluk, maka Indonesia mesti bergerak cepat melakukan ‘’Bridging Diplomacy ‘’ mendorong negara-negara Teluk yang terlibat dalam konflik agar tidak terprovokasi melakukan tindakan-serangan militer terhadap Iran. Sebaliknya, meyakinkan Iran agar tidak melakukan serangan sporadis terhadap wilayah kedaulatan negara Teluk.
Di sini, Indonesia bisa mengambil posisi sebagai jembatan mediator netral-terbatas. Konflik Timur Tengah bukan sekadar isu regional. Dalam situasi krusial seperti ini, dimana rantai pasok energi dan pangan dari dan ke kawasan akan tergangu, Indonesia perlu memainkan kecerdasan diplomasinya. Sebab, jika konflik meluas menjadi konflik regional, Indonesia berpotensi menanggung dampak lebih besar dibandingkan negara negara ASEAN lainnya. Bukan soal volume perdagangan dan ekonomi, melainkan aspek pergerakan orang dan barang ke kawasan, dimana jumlah WNI hampir mencapai satu juta orang di kawasan Timur Tengah.
Sekali lagi, perang ini berkelindan dengan kepentingan geopolitik, keamanan, ekonomi dan energi. Bagi AS mengontrol energi Iran dan mengendalikan akses selat Homuz yang dilalui 20-30 % perdagangan minyak global adalah kemenangan spektakuler. Kemenangan AS – menguasai energi di Timur Tengah, apalagi ikut mengontrol selat Hormuz, kekalah telak bagi Iran-selanjutya-menggeser pengaruh geopolitik dan strategis Rusia dan China di kawasan.














































































