Jakarta, Energindo.co.id – Usia 70 tahun Gobel Group bukan waktu yang pendek. Lika-liku perjalanannya beririsan dengan pasang-surut. Ketika pasang tidak mabuk kepayang. Tatkala surut tidak redup. Terus menyala! Demikian ditorehkan Gobel Group dalam menapaki kiprahnya tahun demi tahun. Tentu ada kunci yang digenggam erat oleh pendiri dan generasi penerusnya hingga mencapai 70 tahun.
Menurut Rachmat Gobel, salah seorang putra dari almarhum Haji Thayeb Mohammad Gobel, ayahandanya secara konsisten mengejawantahkan sistem pengkaderan secara istiqomah. Pengkaderan dilakukan sejak dini secara terus-menerus dan berkelanjutan.
Dengan metode ini, diharapkan dapat memupus rasa waswas ambruknya kerajaan bisnis Kelompok National Gobel yang dirintis (alm.) H. Thayeb Mohammad Gobel. Disamping kaderisasi, pendiri perusahaan selalu menekankan agar dalam membesarkan bisnis lebih mengutamakan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai aset perusahaan.
“Itu artinya, para pekerja tidak boleh dianggap seperti mesin produksi, melainkan harus diperlakukan secara manusiawi,” kata Rachmat. Sebagai pekerja, mereka mempunyai macam-macam hak dari perusahaan. Tetapi hak itu baru muncul, setelah mereka melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik. “Jadi tugas dan kewajiban harus dilaksanakan lebih dulu, baru kemudian menuntut haknya,” jelas Rachmat.
Upaya memanusiakan pekerja dengan tidak menganggap pekerja bukan mesin dan pemahaman antara hak dan kewajiban dilakukan ketika proses pengkaderan berlangsung. Pasalnya, titik sentral pengkaderan berpusat pada pengembangan sumber daya manusia dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh alm Thayeb Mohammad Gobel. “Filosofi pohon pisang yang selalu ditanamkan kakek,” kata Muhammad Arief Gobel, salah seorang putera Rachmat Gobel, seperti dikutip dari #swamediainc 13 Juni 2025.
Bagaimana penjelasan filosofi pohon pisang? Menurut Thayeb Mohammad Gobel, seperti dikutip dari Kompas, Jumat 30 September 1994 yang ditulis Julius Pour, pohon pisang itu meski selalu tampak lemah, tetapi setiap kali ditebang akan tumbuh dan terus kembali menghasilkan buah. Mengapa? “Karena pohon pisang menyadari, buah yang dihasilkan bermanfaat untuk manusia.” Hasil pengamatan ini oleh Pak Gobel lantas dipakai untuk dirumuskan sebagai falsafah ketika mendirikan perusahaan elektronika yang kini dikenal masyarakat dengan nama Gobel Group.
Jamak diketahui, almarhum Mohammad Gobel merintis industri perakitan elektronik sejak tahun 1956, dengan produk pertamanya berupa radio transistor dengan merk Cawang. Bahan baku dan suku cadang produksi radio tersebut diimpor dari Matsushita, industri elektronik yang terbesar di Jepang pada saat itu. Kemudian pada tahun 1970 Matsushita secara resmi mengikat kerja sama secara permanen dengan PT National Gobel, sehingga berstatusnya menjadi perusahaan patungan.
Implementasi falsafah pohon pisang
Falsafah pohon pisang ini diturunkan menjadi tujuh prinsip perusahaan. Tujuh prinsip, yaitu: Pertama, berbakti kepada negara melalui industri. Apapun yang dilakukan harus berpedoman pada bahwa apapun yang dilakukan untuk negara. Kedua, membuka lapangan kerja. Ketiga, berlaku jujur dan adil. Keempat, utamakan kerjasama dan keselarasan. Kelima, utamakan ramah tamah dan satria. Keenam, utamakan bersyukur dan berterima kasih Ketujuh, menyesuaikan dengan kemajuan zaman.
“Tujuh prinsip yang harus disebut oleh karyawan setiap hari sebelum mulai bekerja,” kata Arief. Setiap pagi digelar senam dan apel pagi. Dalam momen tersebut disampaikan pula cara berpikir, nilai-nilai, apa yang kurang dari dan apa yang harus diperbaiki dari perusahaan.
Arief sebagai generasi ketiga Gobel Group menyadari tantangan di tengah tuntutan perubahan zaman tidak mudah. Kendati demikian, transformasi menjadi keniscayaan. Bila tidak mampu beradaptasi bakal digilas. Setiap perubahan pasti ada tantangan. Perubahan dari konvensional ke digitalisasi bukan semata dari manual ke otomatis. Tapi juga menyangkut perilaku dan pemikiran yang harus diubah juga.
“Menurut saya yang susah itu mengubah kebiasaan. Kebiasaan selama 6 dekade untuk diubah menjadi sesuai dengan tuntutan zaman tidak mudah. Apalagi bagi para senior,” ujarnya seraya mengimbuhkan dirinya baru masuk secara official 5-6 tahun lalu. Memulai dari belajar menjual/sales kemudian ke jenjang berikutnya sebagai Direktur Gobel Group. Prinsipnya, on the job training.
Untuk menjembatani gap antar generasi, pihaknya mencoba mengakomudir semua. “Tetapi untuk menyenangkan semua, jujur tidak bisa. Namun tetap memberikan pemahaman tentang perubahan-perubahan yang terjadi diluar,” ungkapnya. Selain itu mengupayakan agar ada kesamaan pemikiran antara manajemen dengan karyawan untuk memajukan perusahaan dan melangkah bersama.
Diversifikasi, transformasi dan digitalisasi
Di usia 70 tahun, Gobel Group bersama 10.000 karyawannya telah melakukan gebrakan. Diantaranya diversifikasi bisnis catering. Walaupun bisnis utamanya manufactur alat-alat elektronik, seperti lampu dan lain semacamnya. Usaha cateng untuk mensupport bisnis utama, manufactur.
Awal bisnis catering dirintis karena tidak sedikit karyawan membeli jajanan di luar. Bahkan ada yang belum sarapan saat hendak berangkat bekerja. Melihat kondisi demikian, tutur Arief, sang kakek mengajak para istri karyawan untuk membangun kantin, kantin karyawan.
Dalam perkembangannya, terang Arief, dibuatlah satu usaha bidang food service. Seiring perjalanan, usaha food service atau catering ini melayani perusahaan di luar Gobel Group. Selain catering, perusahaan juga merambah bidang usaha logistic dan trading.
Saat ditanya strategi melakukan transformasi, dia menjawab, “Mulai dari SDM.” Walaupun tetap memegang 7 prinsip perusahaan tetapi harus mengkombinasi dengan kemajuan saat ini yang dirumuskan dalam manajemen development program. Hal ini mengingatkan penulis pada “Kaidah” Al Muhafadzah ‘alal Qadimis Shalih wal Akhdu bil Jadid Al Ashlah (menjaga yang lama dan mengembangkan yang baru) yang dipegang kalangan pesantren Nahdhatul Ulama (NU). Melalui kaidah ini tidak heran bila pesantren dapat bertahan dan tetap eksis 100 tahun lebih.
Lebih jauh Arief melanjutkan, upaya kaderisasi dilakukan dengan memilih kader potensial untuk dididik sebagai leader. “Kita mengakselarasi orang-orang pilihan supaya menjadi leader di masa mendatang. Kita kumpulkan dari berbagai perusahaan di satu lokasi untuk ditempa dan kemudian menularkan hasil tempaannya kepada teman-teman lainnya di perusahaan mereka,” paparnya sambil mengungkapkan contoh kecil transformasi yang dilakukan perusahaan.
“Dua tahun lalu Perusahaan belum punya Instragram dan akun-akun lainnya. Sekarang sudah punya dan dikelola secara aktif dan professional. Dampaknya sangat besar. Ada yang mulai notice dan memberi respon baik,” papar Arief.
Selanjutnya dia menuturkan, perusahaan juga membentuk tim digital transformasi. Dia sendiri juga menjadi bagian dari tim tersebut. Walaupun demikian, imbuhnya, upaya transformasi digital tergantung dari pihak perusahaan masing-masing. Karena tingkat kemajuan transformasinya berbeda-beda antara satu perusahaan dengan lainnya.
“Mungkin ada yang sudah tinggi level transformasi digitalnya. Mungkin juga ada Perusahaan yang masih manual. Karena itu, tim transformasi digital membuat standarisasi. Misalnya di satu perusahaan masih menggunakan gelas seperti ini, dan di perusahaan lain masih menggunakan cangkir seperti itu. Karena itu, tim memberikan standarisasi,” jelas Arief sembari penuh harap Gobel Group mampu bertahan hingga usia lebih dari 100 tahun. Semoga!











































































