Jakarta, Energindo.co.id – PT Pertamina (Persero) membagikan berbagai pengalaman dan studi kasus penerapan hydraulic fracturing pada reservoir High Pressure High Temperature (HPHT) di Indonesia, mulai dari reservoir tight sandstone hingga shale play dalam forum yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE) yang berlangsung pada 23–24 Juni 2026 di Jakarta.
Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai Negara di Asia hingga Eropa. Debby Halinda Utaminingdiah S. praktisi teknologi migas Pertamina menjadi salah satu pembicara dalam SPE Workshop: HPHT and Deepwater Wells – Drilling Challenges, Technologies and Applications
Pada sesi tersebut, Debby Halinda membagikan berbagai pengalaman dan studi kasus penerapan hydraulic fracturing pada reservoir High Pressure High Temperature (HPHT) di Indonesia, mulai dari reservoir tight sandstone hingga shale play.
“Reservoir HPHT di Indonesia menghadirkan tantangan yang berkaitan dengan kondisi downhole, pertimbangan geologi, serta integritas sumur. Keberhasilan operasi fracturing membutuhkan desain yang spesifik, peralatan yang andal, dan eksekusi yang terintegrasi untuk memaksimalkan kinerja reservoir secara aman,” ujar Debby dalam paparannya.
Debby juga memaparkan berbagai pengalaman lapangan yang memberikan gambaran mengenai pendekatan teknis dalam meningkatkan produktivitas sumur sekaligus menjaga keselamatan operasi pada lingkungan bertekanan dan bertemperatur tinggi.
Sebagai Production Technologist PT Pertamina (Persero) sekaligus Kepala Divisi Teknikal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Debby menilai pertukaran pengetahuan dan pengalaman praktis menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan sumber daya migas yang semakin kompleks, baik di Indonesia maupun kawasan regional.
Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), Avep Disasmita, menyampaikan bahwa forum SPE menjadi wadah penting untuk memperkuat kolaborasi dan berbagi pengalaman dalam menghadapi tantangan pengembangan lapangan migas masa depan.
“Pengembangan lapangan HPHT dan deepwater membutuhkan sinergi antara inovasi teknologi, kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan standar keselamatan yang tinggi. Melalui forum seperti SPE Workshop ini, pengalaman dan pembelajaran dari berbagai proyek dapat dibagikan untuk memperkuat kapabilitas industri migas nasional sekaligus mendukung ketahanan energi Indonesia,” ujar Avep.
Menurut Avep, keterlibatan para profesional Pertamina dalam forum internasional tersebut menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus mendorong pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor hulu migas.
Pada kesempatan yang sama, Vice President Technology Development PT Pertamina (Persero), Ali Sundja, mengatakan penyelenggaraan SPE Workshop menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan di tengah semakin kompleksnya pengembangan lapangan migas bertekanan dan bertemperatur tinggi (HPHT) serta laut dalam.
“Kami menyambut hangat seluruh peserta dari Indonesia maupun berbagai negara. Kehadiran para profesional dari berbagai latar belakang mencerminkan pentingnya kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dalam menghadapi tantangan pengembangan sumur HPHT dan deepwater yang semakin kompleks,” ujar Ali.
Menurutnya, selama workshop peserta membahas berbagai topik strategis, mulai dari evaluasi bawah permukaan dan desain sumur, pengendalian sumur pada kondisi tekanan yang sempit, teknologi HPHT fracturing, pemanfaatan teknologi digital dan otomasi, hingga strategi pelaksanaan proyek.
“Yang tidak kalah penting, forum ini dirancang agar berlangsung interaktif. Kami mendorong seluruh peserta untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, dan memanfaatkan kesempatan membangun jejaring. Pengembangan sumber daya migas yang semakin menantang hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi, pembelajaran bersama, serta pengembangan teknologi dan talenta yang berkelanjutan,” kata Ali.
Workshop SPE HPHT and Deepwater Wells 2026 menghadirkan para praktisi, operator, akademisi, dan penyedia teknologi dari berbagai negara untuk membahas tantangan serta peluang pengembangan sumur HPHT dan deepwater. Selama dua hari pelaksanaan, peserta bertukar pengalaman, pembelajaran lapangan, dan inovasi teknologi yang dapat diterapkan untuk mendukung pengembangan energi yang aman, efisien, dan berkelanjutan.












































































