Jakarta, Energindo.co.id – Indonesian Petroleum Association (IPA) menginjak usia setengah abad. Organisasi para juragan industri hulu migas ini akan menggelar puncak perayaan hari jadinya ke 50 tahun lewat IPA Convex pada 20-22 Mei 2026 di ICE BSD City Tangerang Selatan Banten).
Dalam misinya, sebagaimana tertera di https://www.ipa.or.id/id/about/mission IPA sebagai representasi dari perusahaan-perusahaan hulu migas bermitra dengan pemangku kepentingan untuk memajukan industri yang berdampak pada kemakmuran bersama, lingkungan dan investasi.
Terkait dampak industri hulu migas pada kemakmuran bersama, A. Rinto Pudyantoro dalam bukunya berjudul “Multiplier Effect Industri Hulu Migas” halaman 134 menyebutkan migas hasil ekstraksi dari cadangan migas merupakan bahan penting yang digunakan untuk industri yang lain. Industri pengguna ini disebut dengan industri turunan industri hulu migas. “Sebagai industri pengguna, maka keberadaannya bergantung dari keberhasilan industri hulu migas. Sampai di posisi ini, nampak bahwa industri hulu migas sangat vital untuk mendukung pertumbuhan industri lain dan pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” tulisnya.
Menurut Rinto, migas tidak hanya menjadi sumber energi utama, tetapi juga bahan baku esensial untuk berbagai produk yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari industri petrokimia, pupuk, plastik, hingga kosmetik dan farmasi, berbagai sektor memanfaatkan hasil olahan migas untuk menciptakan produk bernilai tambah. “Jangan lupa, pada giliran berikutnya, industri turunan dari hulu migas juga memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, dan mendukung keberlanjutan ekonomi di daerah,” tulis Rinto.
Husky-CNOOC Madura Limited
Salah satu perusahaan hulu migas yang beroperasi di Jatim tercatat Husky-CNOOC Madura Limited (HCML). Sebagai anggota IPA, saat ini HCML makin memantabkan operasinya di Blok Selat Madura Jawa Timur (Jatim). Menurut Manager Regional Office and Relation HCML, Hamim Tohari, operasi perusahaan selama ini berfokus pada dua pilar utama industri hulu migas. “HCML berperan sebagai pemasok utama energi bersih berupa gas. Produksi Gas dari lapangannya dimanfaatkan 100 persen untuk kebutuhan pupuk, pembangkit listrik dan industri di Jawa Timur. Ini tentu saja mendukung pertumbuhan ekonomi dan industri di Jawa Timur,” katanya, Selasa (21/4/2026).
Selain aspek produksi, HCML juga mengintegrasikan program pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan operasionalnya. Salah satunya melalui pelibatan kelompok perempuan, khususnya ibu-ibu nelayan, dalam penyediaan katering dan makanan ringan untuk mendukung berbagai aktivitas perusahaan. Kegiatan hulu migas yang dilakukan HCML, lanjut Hamim, turut memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Provinsi ini mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen secara tahunan (year on year) pada kuartal I 2025, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Lapangan usaha pengadaan listrik dan gas menjadi sektor penyumbang tertinggi perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 10,40 persen.
Sektor penyediaan jasa dan barang yang dilakukan HCML juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) tercatat dari Maret-April 2026 sebanyak 30.567 penyedia barang dan jasa telah terdaftar di dalam CIVD (Centralized Integrated Vendor Database). Total transaksi melalui platform IOG e-Commerce (Indonesian Upstream Oil and Gas e-Commerce) telah mencapai sekitar Rp846,6 miliar.
“Angka ini menunjukkan bahwa pemanfaatan CIVD & IOG e-Commerce terus berkembang untuk pengadaan yang lebih cepat, transparan, kompetitif dan efisien, “kata Kooordinator Strategi Rantai Suplai SKK Migas, Finda Nurantyas dalam acara Vendor Day 2026 yang digelar oleh HCML pada 22-23 April 2026 di Surabaya. CIVD memiliki berbagai informasi yang dibutuhkan oleh penyedia barang/jasa, seperti daftar Rencana Pengadaan KKKS, daftar Pengadaan yang sedang berlangsung di KKKS, berita dan regulasi terkini di kegiatan usaha hulu migas.
Lapangan yang berproduksi
Sementara itu, menurut VP Marketing, Legal & Business Support HCML Wahyudin Sunarya pada Energindo, Jumat malam (7/11/2025) di Jakarta, perusahaan telah berproduksi melalui lapangan utamanya, yaitu Lapangan BD, Lapangan MDA, Lapangan MBH, dan Lapangan MAC.
Dia melanjutkan, perusahaan hulu minyak dan gas bumi (migas) yang semula bernama Husky Oil (Madura) Ltd. (HOML) mematok target produksi tahun 2025 sekitar 222 MMSCFD dari tiga lapangan, yaitu BD, 2M (MDA-MBH), dan MAC. Hasil gasnya disalurkan melalui dua jalur utama, yaitu Gas Metering Station (GMS) dan East Java Gas Pipeline (EJGP). “Gas dijual kepada para pembeli (offtaker) utama, termasuk PKG, PGN, dan PLN Utama, serta melalui pembeli lainnya melalui pipa terutama untuk kebutuhan gas di Jawa Timur,” kata Wahyudin.
Gas yang diproduksinya dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, jaringan gas kota, dan bahan baku industri pupuk. “Hasil produksi kondensat dijual kepada Pertamina untuk memenuhi kebutuhan kilang domestik,” kata Wahyudin, sembari mengimbuhkan investasi awal HCML untuk pengembangan seluruh lapangan yang telah berproduksi mencapai kurang lebih sebesar 800an Juta USD.
Lebih jauh Wahyudin menerangkan, Kontrak Kerja Sama Bagi Hasil (PSC) antara pemerintah Indonesia dan HCML ditandatangani pada tahun 2010 dimana pasa saat itu, kewajiban dan aturan mengenai PI 10% sebagaimana dimaksud belum ada/belum diberlakukan.
Sementara terkait Dana Bagi Hasil (DBH) HCML, Wahyudin mengutarakan pembagian DBH dimaksud dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang undangan yang berlaku. “Lokasi sumur produksi HCML, berdasarkan peraturan yang berlaku, termasuk dalam zona wilayah Provinsi Jawa Timur,” katanya singkat.
Jamak diketahui, produksi perdana HCML dimulai dari Lapangan BD pada tahun 2017. Produksi kemudian dilanjutkan oleh Lapangan MDA dan MBH yang mulai berproduksi pada tahun 2022 sebesar 120 MMSCFD melalui fasilitas produksi FPU. “Lapangan MAC merupakan lapangan terakhir yang mulai berproduksi, yaitu pada tahun 2023,” jelas Wahyudin.
Program “Being a Good Neighbour”
Walaupun HCML berentitas bisnis tetapi perusahaan tidak melulu mengejar profit semata, lalu mengabaikan warga daerah sekitar operasi. HCML menunjukkan support dan komitmen kuat terhadap warga sekitar operasi melalui program “Being a Good Neighbour” yang meliputi: Pemeliharaan perahu nelayan (pengecatan kapal); Program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat; Festival Pesisir, yakni hasil kolaborasi HCML–SKK Migas–Pemda Madura untuk memajukan budaya, UMKM, dan pariwisata. Disamping itu, ada program untuk pengurangan karbon berupa penanaman mangrove tahunan dalam rangka World Environment Day.
Support perusahaan terkait UMKM dirasakan oleh Diana Savitri dan Burhan. Pasangan suami-istri di Pulau Mandangin, areal operasi HCML ini penerima manfaat Program Pengembangan Masyarakat (PPM) HCML yang disupport Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melalui pelatihan pengembangan bisnis sambal khas Pulau Mandangin. “Pelatihan manajemen bisnis yang dilakukan HCML tidak hanya membuat kemasan yang bagus tapi kami juga diajari bagaimana mengurus label Halal dan jualan secara online,” kata Diana. Sebelum ada campur tangan HCML, kemasan sambal dilakukan tradisional. Namun berkat pelatihan tersebut, penjualan sambal merk “Sambal Dapur Haidar” ini laris manis hingga dirinya kewalahan melayani permintaan konsumen.
Perhatian perusahaan terhadap pengembangan UMKM tersebut hanya salah satu contoh. Contoh konkret pemberdayaan masyarakat lainnya adalah program pembangunan Gedung Olahraga (GOR) Indoor Harmoni. Menurut Hendrianto, pendamping PPM Kabupaten Sampang Madura fasilitas GOR menjadi wadah kegiatan anak muda yang sering mengisi kegiatan yang kurang bermanfaat seperti kegiatan balap liar, nongkrong maupun untuk mengurangi kriminal.
“Nantinya GOR Indoor ini menjadi pusat kegiatan masyarakat, dan diperluas hingga area depan. GOR ini bisa dimanfaatkan untuk olahraga seperti senam, badminton maupun acara pernikahan atau hajatan warga lainnya.”
Kehadiran GOR indoor yang baru selesai dibangun ini, juga diharapkan mendorong aktifitas dagang warga Pulau Mendangin ini yang sekarang berada di koridor jalan akses desa ke tempat representatif. “Nantinya dipusatkan di sekitar GOR Indoor ini, termasuk area parkir, maupun lapak berjualan.”
Hendrianto menambahkan, bahwa GOR Indoor ini sudah diserahkan pengelolaanya kepada BUMDes. Diharapkan, melalui pengelolaan BUMDes ini GOR Indoor ini mampu memberikan andil untuk menutupi kebutuhan operasional kegiatannya sendiri. ”Sekarang ini, gratis seperti beli shuttlecock badminton-nya saja, lapangan tidak bayar, begitupun kalau ada hajatan, sewa kursinya saja yang ditanggung warga.”
Sementara, Wasin Hausaye, Badan Perwusyawaratan Desa mengatakan, pembangunan GOR Indoor Harmoni ini sudah berlangsung dua tahun. Pembangunan GOR Indoor ini mencapai Rp750 juta dengan dianggarkan secara bertahap. “Anggarannya untuk peralatan nelayan, terus sebagian untuk GOR ini, dan bertahap selama dua tahun, hingga sekarang sudah bisa digunakan. Walau begitu, fasilitas penunjang lainnya masih akan dilengkapi.”
Pembangunan GOR Indoor Harmoni ini, tambah Wasin, juga merupakan bagian mewujudkan tantangan memperbaiki fasilitas masayrakat. Seperti biasanya, masyarakat lebih cenderung kalau dibantu dihabiskan untuk konsumtif. “Masyarakat tentu penginya pasti konsumtif, kalau dibantu,” tambahnya.
Support dan partisipasi aktif masyarakat
Menurut Wahyudin, pada dasarnya tumbuh dari pemahaman bersama bahwa keberadaan industri energi harus membawa manfaat nyata bagi daerah. “Masyarakat menunjukkan dukungan mereka melalui keterlibatan aktif dalam berbagai program sosial dan ekonomi yang dijalankan Perusahaan — mulai dari partisipasi dalam pelatihan keterampilan, penyediaan tenaga kerja lokal, hingga kemitraan usaha kecil. Bentuk dukungan ini bukan hanya wujud penerimaan, tetapi juga cerminan harapan agar kegiatan industri dapat berjalan beriringan dengan kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan,” paparnya.
Lebih dari sekadar dukungan praktis, kata Wahyudin, masyarakat menunjukkan kepercayaan yang tumbuh secara bertahap—hasil dari komunikasi terbuka dan tanggung jawab sosial yang konsisten dari HCML.
“Mereka melihat eksplorasi bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang bersama untuk membangun masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” ucapnya. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya hubungan yang harmonis antara industri dan masyarakat, menuju pengelolaan sumber daya alam yang beretika, inklusif, dan berpandangan jauh ke depan.
Wahyudin menambahkan support Pemerintah Daerah terhadap keberadaan operasi migas sangat terlihat melalui kerja sama Festival Pesisir yang disebut sebagai bentuk kolaborasi sinergis antara HCML, SKK Migas, dan Pemda di wilayah Madura. “Hal ini memperlihatkan dukungan Pemda dalam kegiatan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis komunitas,” katanya.
Oleh sebab itu, pihak Perusahaan berharap adanya dukungan penuh dari seluruh pemangku utama dan seluruh masyarakat kepada HCML dalam kegiatan operasinya. “Apa yang dihasilkan dari kegiatan operasi HCML tersebut merupakan bahan untuk menghasilkan pupuk dan listrik yang merupakan kebutuhan utama petani serta masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.
Lebih lanjut Wahyudin mengutarakan, selaras dengan Visi–Misi dan komitmen HCML, menjadi “good citizen and neighbor to local community”. “Harapan perusahaan adalah terjalinnya kemitraan/ hubungan sinergis yang berkelanjutan untuk memastikan operasi migas yang aman, andal, dan bertanggung jawab, serta dukungan atas ketersediaan gas untuk mendukung ketahanan energi sekaligus pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” tutup Wahyudin.
Sebagai catatan, HCML memulai perjalanannya di Blok Selat Madura sebagai kontraktor Production Sharing Contract (PSC) sejak 20 Oktober 1982. Awalnya beroperasi dengan nama Husky Oil (Madura) Ltd. (HOML), kemudian pada 2012 berganti nama menjadi Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), pasca perubahan kepemilikan dan perpanjangan kontrak PSC kedua hingga 2032. HCML dimiliki oleh tiga entitas, yaitu Husky Oil, CNOOC, dan SMS Development (Samudra).
Apresiasi Bupati Sumenep
Kegiatan hulu migas di Madura, utamanya di wilayah Kabupaten Sumenep memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan masyarat baik melalui Dana Bagi Hasil (DBH) maupun melalui tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR)/ Program Pengembangan Masyarakat (PPM). Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura sebagai salah satu Kabupaten penghasil migas di Jawa Timur membuka pintu seluas-luasnya untuk kegiatan ekplorasi migas di wilayahnya.
“Kontribusi HCML kepada Sumenep sangat besar. Terutama berkenaan dengan pelayanan dasar seperti kesehatan, lingkungan, ekonomi dan sosial budaya,” ungkap Achmad Fauzi Wongsojudo Bupati Sumenep, Sabtu (6/12/2025). Dia melanjutkan, dirinya sebagai bupati harus benar-benar memberikan kepastian dan keamanan agar mereka bisa eksplorasi.
Dia menyebut di wilayah Sumenep ada beberapa Kontraktor KKK yang beroperasi. “Ada Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), Kangean Energi Indonesia (KEI), MedcoEnergi, Energi Mineral Langgeng,” kata Achmad Fauzi, seraya mengimbuhkan HCML potensi produksinya 220 MMSCFD. “Di sana ada 3 sumur. Baru 1 sumur yang didelivery ke pipa melalui bawah laut dan langsung di bawa ke Pasuruan, Sidoarjo, Gresik dan daerah-daerah industri lainnya,” terangnya.
Lebih jauh Achmad Fauzi mengatakan Kabupaten Sumenep sebagai daerah penghasil migas juga merasakan langsung tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) oleh KKKS yang melakukan eksplorasi di wilayahnya. “Saat ini CSR dimanfaatkan untuk pada sektor pemerintah desa, pendidikan, UMKM dan bantuan penddikan, kelompok nelayan termasuk area parwisata di desa wisata sesuai aspirasi masyarakat,” ujar Achmad Fauzi. Kedepan, ia berharap untuk dana CSR dalam bentuk Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), dana yang dikelola intenal perusahaan juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sekitar, seperti dilakukan oleh HCML.












































































