Sabtu pagi terakhir saya di Jakarta, kota terasa aneh dibanding 5 hari ke belakang. Jalan-jalan yang biasanya penuh kendaraan tampak lengang. Tidak banyak klakson. Tidak banyak orang bergegas. Sejenak kota seperti sedang menarik napas.
Padahal, bukankah Jakarta tanpa macet bukan Jakarta? Bukan karena kemacetan itu patut dirindukan, tetapi karena di baliknya ada denyut kehidupan: orang berangkat bekerja, anak pergi sekolah, pedagang mengantar barang, kurir mengejar waktu, dan begitu banyak manusia yang bergerak karena hidup memang mengharuskan mereka bergerak.
Selama ini kita terlalu sering membaca Jakarta dari kejauhan. Dari angka kemacetan. Dari gedung-gedung tinggi. Dari berita. Dari peta. Dari foto udara. Padahal, sebuah kota baru benar-benar bisa dibaca ketika kita mendekatinya.
Tetapi membaca dari dekat saja juga tidak cukup. Kita perlu dua jarak sekaligus—balkon dan lorong. Balkon untuk melihat keseluruhan. Lorong untuk melihat manusia.
Yang Tidak Terbaca dari Jauh
Suatu kali saya melihat pedagang buah di pinggir jalan. Di papan tertulis besar: Rp10.000 1 kg. Saya menghampiri dan bertanya. Ternyata ada “/2” setelah angka 1, ditulis sangat kecil. Maksudnya bukan Rp10.000 per kilogram, melainkan Rp10.000 untuk setengah kilogram.
Saya tersenyum. Bukan karena merasa tertipu, tetapi karena diingatkan pada sesuatu yang sederhana: apa yang terlihat dari jauh belum tentu sama dengan apa yang kita temukan ketika mendekat.
Di pinggir jalan, saya juga melihat orang-orang menunggu untuk dijemput bekerja. Ada yang duduk berkelompok, membawa peralatan seadanya. Di trotoar lain—ya, mereka hanya butuh trotoar tanpa kios—ada yang membuka jasa perbaikan instan body mobil, siap dikerjakan di tempat.
Dari jauh, semua itu hanya bagian dari pemandangan kota. Dari dekat, mereka adalah manusia dengan cerita, keluarga, kebutuhan, kecemasan, dan harapan. Kota ternyata bukan hanya gedung. Kota adalah manusia yang berada di antara gedung-gedung itu.
Kalibata: Kota Vertikal
Kalibata City bagi saya seperti kota kecil yang ditegakkan secara vertikal. Orang dari berbagai daerah hidup berdampingan dalam bangunan yang sama. Mereka membawa bahasa, kebiasaan, makanan, ingatan kampung halaman, dan cara masing-masing memahami kehidupan.
Lift menjadi tempat pertemuan yang singkat. Koridor menjadi jalan kampung. Warung menjadi ruang sosial. Tetapi ada satu hal yang membuat saya berhenti dan berpikir: masjid dan malnya berada di basement. Tempat ibadah dan tempat belanja, dua hal yang biasanya berdiri megah di permukaan, di sini justru diletakkan di bawah tanah.
Bagi saya, itu semacam pengingat yang jujur. Dalam kota vertikal, ruang tidak lagi tersusun seperti di kampung. Yang di atas adalah tempat manusia tinggal dan bertahan hidup. Yang di bawah adalah tempat manusia menunaikan kewajiban dan sesekali menghibur diri. Tidak ada yang salah dengan susunan itu. Tetapi ia membuat saya melihat kota ini dengan cara yang berbeda.
Seorang penghuni pernah menggambarkannya dengan kalimat yang saya ingat: “Ruang tamu sekaligus jadi ruang makan, ruang belajar, ruang bermain anak, bahkan ruang menyembunyikan kesedihan.”
Kalimat itu membuat saya melihat apartemen bukan lagi sebagai bangunan. Ia adalah rumah. Dan rumah bukan soal luas lantai. Rumah adalah tempat manusia menyimpan kehidupan.
Di salah satu lorong Tower Cendana, saya pernah mendengar seorang anak bertanya kepada ibunya, “Bu, kapan kita pulang kampung?” Ibunya menjawab, “Kalau kontrakan sudah lunas.”
Saya tidak tahu apakah anak itu memahami sepenuhnya makna jawaban itu. Tetapi saya memahami satu hal: Jakarta memiliki begitu banyak orang yang datang mencari kehidupan, lalu harus membayar mahal untuk tetap bertahan di dalamnya. Mereka datang membawa mimpi. Tetapi kota juga membawa tagihan.
Dua Wajah Kota
Semakin lama di Jakarta, saya semakin merasa kota ini memiliki dua wajah. Dari jauh, kita melihat gedung. Dari dekat, kita melihat orang yang bekerja di dalamnya. Dari jauh, kita melihat angka pertumbuhan ekonomi. Dari dekat, kita melihat seorang ibu menghitung uang belanja. Dari jauh, kita melihat kemacetan sebagai persoalan transportasi. Dari dekat, kita melihat seorang ayah yang terlambat pulang dan kehilangan waktu bersama anaknya. Dari jauh, kita melihat apartemen sebagai proyek properti. Dari dekat, kita melihat seorang anak yang ingin pulang kampung.
Mungkin begitulah cara kehidupan bekerja. Apa yang tampak sederhana dari kejauhan sering menjadi rumit ketika kita masuk ke dalamnya. Bahkan ingatan pun demikian. Seorang teman yang lahir dan besar di Jakarta bercerita bahwa kawasan Kalibata City dahulu adalah lokasi sebuah pabrik besar. Ia menyebutnya pabrik batu bata. Belakangan kami tahu yang dimaksud adalah pabrik Bata, produsen sepatu. Batu bata dan Bata memang terdengar dekat, tetapi keduanya punya sejarah berbeda.
Saya justru menyukai kesalahan kecil itu. Sebab ia mengingatkan saya bahwa bahkan kenangan yang lama kita simpan pun harus sesekali dibaca kembali dari dekat.
Balkon Tomang 1994
Saya teringat sebuah sore pada 1994. Waktu itu saya berada di balkon Wisma PUSRI di kawasan Simpang Tomang menemani bibi berobat, bersama seorang kerabat yang masih mahasiswa. Kami berbicara tentang Soeharto, korupsi, nepotisme, kekuasaan, dan masa depan Indonesia.
Saya mengatakan sesuatu yang membuatnya marah. Kurang lebih begini: “Kalau kita berada di posisi beliau, belum tentu kita akan menjadi lebih baik. Bisa jadi kita justru melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih buruk.”
Ia tidak terima. Saya dianggap tidak nasionalis, dianggap membela penguasa. Saya tidak menyalahkannya. Sampai hari ini pun tidak. Ia sedang melihat dunia dari balkon idealismenya. Dan saya, mungkin, sedang melihat dunia dari balkon yang berbeda.
Empat Jam Setelah Bertahun-Tahun
Ada satu pengalaman lain yang membuat saya semakin menyadari betapa terbatasnya cara kita membaca seseorang. Seorang teman sekolah dulu adalah peringkat teratas. Ia kemudian menetap di Jakarta. Kami tidak berjumpa secara fisik dalam waktu yang sangat panjang. Saya hanya sesekali melihat jejaknya di grup percakapan. Dari sana, tanpa sadar saya membangun gambaran tentang dirinya.
Sampai akhirnya pada 2026 kami berjumpa. Hanya sekitar empat jam. Kami makan siang, shalat Ashar, lalu menonton film di Djakarta Theater. Sebentar saja. Tetapi pertemuan singkat itu membuka pintu yang selama bertahun-tahun hanya saya lihat dari luar. Saya baru tahu ia telah mengalami banyak hal yang mengguncang hidupnya, termasuk kerugian besar dalam bisnis yang dijalaninya.
Saya terdiam. Bukan karena ia berbisnis, bukan pula karena seorang ustadz tidak boleh berbisnis. Tetapi karena saya menyadari: selama bertahun-tahun saya merasa mengenalnya, padahal saya hanya membaca apa yang sesekali ia tinggalkan di layar.
Kami berpisah. Ia kembali menjadi dirinya sendiri di tengah Jakarta, dan saya kembali ke jalan saya. Kami tidak menjadi lebih dekat hanya karena empat jam itu. Tetapi saya pulang dengan satu kesadaran baru: manusia terus bergerak, sementara gambaran kita tentang dirinya sering berhenti pada halaman lama.
Idealisme yang Pindah Kamar
Tahun 2012, secara tidak sengaja saya bertemu kembali dengan kerabat yang dulu berbicara bersama saya di balkon Tomang, di sekitar ATM Mandiri dekat TVRI. Kami berbincang. Kemudian ia meminta bantuan agar istrinya bisa menjadi PNS. Ia bahkan menyebut kesediaan menyediakan uang.
Saya terdiam. Saya teringat percakapan kami hampir dua puluh tahun sebelumnya. Saya tidak menanggapi—bukan karena saya merasa lebih bersih, tetapi karena saya memang tidak punya jalan, dan karena saya tidak tahu apa yang terjadi selama dua puluh tahun itu. Mungkin kehidupan telah membawanya memasuki lorong-lorong yang tidak pernah saya lihat.
Di situlah saya berhenti merasa yakin bahwa idealisme selalu mati ketika seseorang memasuki kehidupan nyata. Idealisme tidak selalu mati. Kadang ia hanya pindah kamar—dari balkon ke lorong, dari pidato ke kebutuhan sehari-hari. Seorang mahasiswa bisa berbicara tentang keadilan ketika duduk di balkon. Tetapi ketika menjadi suami, ayah, atau ibu, ia juga harus membayar sekolah anak, kontrakan, listrik, dan kebutuhan dapur.
Persoalannya bukan apakah manusia berubah. Manusia memang berubah. Persoalannya adalah apakah ketika berubah, ia masih mampu membaca dirinya sendiri.
Orang Membaca Kita dari Potongan yang Terlihat
Hal serupa terjadi pada saya sendiri. Setelah tamat dari pesantren, beberapa teman pernah mengira saya anggota DPRD. Padahal saya hanya hampir menjadi anggota DPRD. Ada perbedaan besar antara menjadi dan hampir menjadi. Tetapi bagi orang yang melihat dari jauh, perbedaan itu bisa hilang. Begitu pula ketika keluarga mengira saya tahu jalan menjadi PNS, karena adik perempuan saya seorang PNS. Padahal ia awalnya tenaga honorer sejak 1995, lalu diangkat melalui pendataan tenaga honorer pada 2004. Saya sendiri tidak punya jalan khusus apa pun.
Orang membaca kita dari apa yang mereka lihat. Mereka jarang mengetahui seluruh jalan yang kita tempuh.
Balkon dan Lorong
Di sinilah saya memahami sesuatu yang lebih besar. Manusia punya keterbatasan dalam melihat. Ada orang yang sangat pandai melihat detail, tetapi karena terlalu dekat, ia kehilangan gambaran besar. Ada pula yang pandai melihat keseluruhan, tetapi karena terlalu jauh, ia melewatkan detail kecil yang justru menentukan nasib seseorang.
Kita membutuhkan keduanya. Detail tanpa keseluruhan bisa menyesatkan. Keseluruhan tanpa detail juga bisa menyesatkan. Karena itu, Jakarta harus dibaca dari dekat, tetapi tidak boleh hanya dari dekat. Kita perlu turun ke lorong untuk melihat manusia. Tetapi sesekali kita juga harus kembali ke balkon untuk melihat keseluruhan. Bisa jadi ini yang luput dari cara kita membangun Kota Baru.
Untuk Siapa Semua Ini?
Karena itu, ketika berbicara tentang kemacetan, transportasi, ganjil-genap, ERP, atau ruang terbuka hijau, saya selalu merasa ada satu pertanyaan yang tidak boleh hilang: untuk siapa semua itu pada akhirnya dilakukan?
Angka kemacetan memang penting. Infrastruktur memang penting. Tata ruang memang penting. Tetapi di balik semuanya ada manusia. Kemacetan bukan sekadar jumlah kendaraan—ia adalah waktu manusia yang hilang. Transportasi bukan sekadar jalur dan moda—ia adalah cara seseorang bertemu keluarganya setelah bekerja. Sebuah apartemen bukan sekadar jumlah unit—ia adalah rumah seseorang. Dan sebuah kota bukan sekadar kumpulan gedung—ia adalah tempat manusia mencoba membayangkan masa depannya.
Sabtu pagi itu akan segera berganti dan Jakarta pasti kembali berlari. Klakson akan terdengar. Pedagang membuka lapak. Pekerja berangkat. Anak-anak pergi sekolah. Kota kembali menjadi dirinya sendiri.
Tetapi mungkin setelah melihat Jakarta dari balkon dan memasuki lorong-lorongnya, saya tidak lagi melihat kota ini dengan cara yang sama. Saya juga tidak lagi ingin buru-buru menilai manusia dari satu potongan hidupnya.
Dari jauh, kita membaca Jakarta sebagai kota. Dari dekat, kita membaca manusia. Dan semakin dekat kita membaca manusia, semakin kita dipaksa membaca diri sendiri. Ada hal-hal yang tidak akan pernah terbaca dari kejauhan—termasuk Jakarta, termasuk manusia, termasuk diri kita sendiri.
Dan sungguh, hanya Allah yang Maha Benar-Benar Benar Menbaca lagi Mengetahui.
Maaf, September 2026





































































