Sukmajaya, Energindo.co.id – Antrean panjang pengendara kendaraan roda dua dan empat untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) terjadi di beberapa SPBU di Kota Depok Jawa Barat (Jabar). Bahkan ritual antrean berlangsung saban hari dan baru mereda hingga pukul 02.00 pagi. Demikian diungkapkan oleh Arifin, petugas SPBU Pertamina 34.16416 di Jalan Tole Iskandar Sukmajaya Depok pada Rabu pukul 17.00 WIB (14/10/2026)
Saat Energindo menanyakan apakah antrean kendaraan roda dua tersebut terjadi setiap hari, Arifin menjawab, “Antrean sampe jam 02.00 pagi. Setiap hari antreannya Pak.”
Mengapa terjadi antrean? “Harga Pertalite lebih murah dari Pertamax,” jawabnya, singkat.
Diketahui, harga BBM jenis Pertalite (RON 90) Rp10.000 Sedangkan harga BBM jenis Pertamax (RON 92) Rp15.950 Ketentuan ini berlaku di seluruh Indonesia.
Antrean pengendara motor roda dua, ternyata tidak hanya terjadi di Kota Depok. Peristiwa serupa juga terjadi di Bali. Dikutip dari situs baliberkarya.com hingga Rabu (14/10/2016), antrean pengendara bermotor masih terlihat di berbagai SPBU di Bali untuk jenis Pertalite dan Pertamax.
Pada Selasa (13/10/2026), antrean kendaraan di Denpasar, Badung, hingga Gianyar, pengendara mengular sepanjang 700 meter hingga lebih dari satu kilometer di sejumlah SPBU, termasuk di kawasan wisata Kuta dan Seminyak, yang merupakan pusat pariwisata.
Melihat kenyataan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster akhirnya memberlakukan kebijakan work from home (WFH) pada 15–17 Oktober 2026. Keputusan ini diambil setelah kesepakatan awal bersama Pertamina untuk memperlancar distribusi tanpa menerapkan WFH ternyata belum menyelesaikan persoalan di lapangan.
Sehari sebelumnya, Selasa, 13 Oktober 2026, Koster bersama Direktur Utama Pertamina menggelar rapat di Kantor Pertamina Sanggaran, Denpasar. Dalam pertemuan tersebut, keduanya menyepakati percepatan distribusi BBM tanpa kebijakan WFH. Pertamina berkomitmen memperlancar pasokan agar antrean di SPBU segera terurai.
Namun, kondisi di lapangan pada Rabu, 14 Oktober 2026, menunjukkan antrean masih terjadi di Denpasar, Badung, Tabanan, dan sejumlah wilayah lainnya. Situasi itu mendorong Koster mengambil langkah tambahan melalui kebijakan WFH selama tiga hari.
“Karena hari ini masih terjadi antrean panjang di sejumlah SPBU, perlu langkah cepat untuk mengatasi persoalan ini. Atas kesepakatan dengan Direktur Utama Pertamina, kami memberlakukan WFH pada 15 sampai 17 Oktober 2026 untuk mendukung kelancaran distribusi BBM,” kata Gubernur Koster, Rabu 14 Oktober 2026.
Pemerintah Provinsi Bali dan Pertamina menyebut persoalan ini dipicu kombinasi terganggunya distribusi dan lonjakan permintaan.
Gubernur mengatakan stok BBM di depo utama Bali masih tersedia, namun penyaluran ke SPBU terhambat, sementara kepanikan masyarakat membuat banyak warga mengisi bahan bakar secara bersamaan.









































































