Jakarta, Energindo.co.id – Berita impor minyak mentah dari Rusia yang dilakukan Pertamina mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Salah satunya dari akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Fahmy Radhi. Menurutnya sangat wajar dan masuk akal bila Indonesia masih mengimpor minyak di tengah upaya pencapaian swasembada minyak.
Fahmy mengatakan, di tengah pencapaian swasembada minyak, Pertamina dikabarkan impor minyak mentah Rusia sekitar 700 ribu barrel. “Selama Indonesia belum mencapai swasembada minyak, impor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia, sangat wajar dan masuk akal,” kata Fahmy pada Energindo, Sabtu sore (7/2/2026).
Apalagi, imbuhnya, harga minyak Rusia bisa lebih murah karena Rusia masih diembargo dari USA dan Eropa. Jadi sangat tepat keputusan impor minyak Rusia, kata Fahmy.
Namun demikian, perlu diingat tambah Fahmy, minyak Rusia itu harus fit dengan kilang Pertamina. “Kalau tidak fit, Pertamina harus melakukan penyesuaian kilang yang costly sehingga total harga jadi lebih mahal,” tandasnya. Dalam kondisi tersebut, impor minyak Rusia tidak tepat sehingga impor minyak Rusia harus dibatalkan.
Jamak diketahui, minyak mentah asal Rusia ke Indonesia pada akhir 2025 hingga awal 2026.
PT Pertamina menegaskan seluruh aktivitas impor minyak mengikuti ketentuan yang berlaku untuk menjaga pasokan energi nasional. Perusahaan menyebut proses impor berjalan sesuai regulasi.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan koordinasi masih berlangsung dengan subholding untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
“Sebagai penjelasan awal, Pertamina selalu mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam menjalankan operasionalnya, termasuk dalam mekanisme impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional,” ujar Baron, seperti dikutip dari Kontan, pada Rabu (4/2/2026).
Isu ini muncul setelah data pelacakan kapal dari Kpler dan Vortexa, sebagaimana dilansir Reuters.
Data tersebut menunjukkan Indonesia menerima dua kargo minyak Rusia jenis Sakhalin Blend sepanjang Desember 2025 dan Januari 2026.
Setiap kargo diperkirakan berukuran sekitar 700.000 barel. Pembongkaran disebut berlangsung di Pelabuhan Balikpapan dan Cilacap.
Analis Vortexa Emma Li menilai volume tersebut tergolong tidak lazim. Selama ini, Indonesia lebih banyak mengandalkan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Masuknya kargo terjadi saat harga minyak Rusia berada di bawah tekanan. Situasi ini berkaitan dengan potensi penurunan permintaan dari India, salah satu pembeli utama minyak Rusia.
Data pelacakan menunjukkan kapal GT Honor membongkar sekitar 700.000 barel minyak di Balikpapan pada 25 Desember 2025.
Kapal tersebut sebelumnya melakukan ship to ship dengan kapal Galaxy di perairan dekat Hong Kong. Kargo lain dibongkar kapal Integrity Racer di Cilacap pada Januari 2026.
Proses ini dilakukan setelah ship to ship dengan kapal Voyager, juga di perairan Hong Kong. Galaxy dan Voyager tercatat masuk daftar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kedua kapal kerap mengangkut minyak dari proyek Sakhalin 2 Rusia.
Pertamina membantah melakukan impor minyak asal Rusia. Juru bicara Pertamina mengonfirmasi GT Honor memang membongkar muatan di Balikpapan.
Minyak tersebut disebut bukan berasal dari Sakhalin, tanpa penjelasan asal negara. Penjelasan serupa disampaikan terkait Integrity Racer.
Pertamina tidak merinci detail kargo dan kembali menegaskan tidak ada impor minyak Rusia.
Indonesia tidak masuk dalam rezim sanksi Barat terhadap Rusia. Secara kebijakan, tidak ada larangan formal untuk perdagangan minyak.
Meski begitu, perdagangan minyak dari negara yang dikenai sanksi sering melibatkan skema ship to ship dan perubahan dokumen pengapalan.
Pola ini memicu perhatian terkait transparansi impor migas. Isu tersebut menyentuh aspek ketahanan energi nasional.
Publik juga menyoroti akuntabilitas data impor minyak serta posisi geopolitik Indonesia di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.














































































