Jakarta, Energindo.co.id – Harga minyak mentah berjangka jatuh. Bursa saham Asia ikut melemah. Pasar merespons gejolak politik di Venezuela dan ketidakpastian arah cadangan minyak negara tersebut.
Tekanan utama muncul setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump menyebut Venezuela akan “menjual” hingga 50 juta barel minyak dengan harga pasar.
Pernyataan itu muncul setelah penggulingan dan penangkapan pemimpin Venezuela. Pasar langsung mencemaskan tambahan pasokan minyak global dan dampaknya terhadap stabilitas geopolitik.
Pasar saham Asia bergerak negatif. Saham Jepang memimpin pelemahan. Harga emas dan sejumlah logam industri bertahan dekat level tertinggi. Yen menguat karena investor beralih ke aset aman.
Ketegangan geopolitik meluas dari Amerika Selatan hingga Asia Timur. Pelaku pasar juga menunggu data ekonomi Amerika Serikat untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. “Hasil yang paling mungkin adalah dorongan bagi ekonomi global karena tambahan pasokan minyak,” kata Kepala Eksekutif Moomoo Australia dan Selandia Baru Michael McCarthy, Rabu (7/1/2026).














































































