Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Saatnya memanfaatkan anugerah dari alam secara berkelanjutan untuk kemajuan pertanian….
Malam terasa dingin. angin berhembus pelan di sekitar Masjid Al-Izzah, kompleks Pondok Pesantren Al Ihsan Baron, Nganjuk, Jawa Timur. Di dalam masjid, para santri larut membaca al-Qur’an. Muhammad Hanif ikut duduk di antara mereka.
Ketika santri membaca Surah Al-A’raf ayat 57 “Allah meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya”, pikirannya bertanya-tanya: Mengapa angin yang begitu melimpah itu hanya lewat begitu saja? Bisakah ia diubah menjadi sesuatu yang berguna bagi petani?
Nganjuk dikenal sebagai salah satu sentra bawang merah di Jawa Timur. Di lahan pertanian, persoalan hama menjadi bagian dari ongkos produksi yang harus ditanggung petani.
Tahun 2022, Kementerian Pendidikan Nasional memberikan bantuan dana kepada sekolah/pondok pesantren yang siswanya mempunyai ide untuk memanfaatkan energi alam di sekitarnya. Hanif memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan angan-angannya. Dengan mentor dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ia sudah bisa melihat dan mewujudkan bahwa angin berguna, minimal untuk listrik.

M. Hanif Menjelaskan sistem kerja Terangin
Ketika kuliah di ITS, Surabaya, di tahun 2023, ia terus mengembangkan tekadnya untuk memanfaatkan angin, dengan melakukan berbagai macam riset, lalu mengikutsertakannya dalam berbagai kompetisi di dalam negeri, seperti Business Competition Innovation Challenge yang diadakan oleh The Habibie Centre. Namun semuanya masih belum menggembirakan.
Di tahun 2024, Hanif dan kawan-kawan mulai menemukan secercah harapan. PT Terangin Terang Sedunia (Terangin) dikibarkan untuk memanfaatkan angin pada pertanian. Terobosannya, energi yang dihasilkan turbin angin dapat digunakan untuk menyalakan lampu perangkap hama, sebagaimana juga dapat diarahkan untuk menggerakkan pompa irigasi, aerator kolam, hingga berbagai peralatan pertanian.
*** *** ***
Angin Advisory, perusahaan konsultan serta penasihat pembangunan (development advisory firm) pertama di Asia Tenggara yang fokus pada pengembangan ekosistem startup, UMKM, investasi berdampak (impact investment), serta kewirausahaan sosial di Indonesia mengakui novelti dari Terangin. Untuk itu, ia memberikan bantuan pendanaan guna melakukan sejumlah pilot proyek secara langsung.

Cahaya perangkap hama
Pasarnya sebenarnya terbuka lebar. Namun pemain yang mengembangkan energi angin skala kecil untuk pertanian di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk turbin angin, ketinggian tower menjadi penting karena kondisi angin berubah menurut ketinggian. Semakin tinggi tower, biaya konstruksinya pun dapat meningkat.
“Harga tower yang mahal inilah yang menjadi inti persoalan dalam memanfaatkan angin,” ungkap Hanif.
Karena itu, Tim Terangin berusaha untuk membuat harga tower semurah mungkin. Untuk menghasilkan itu, ia hanya tidur 4 jam per hari. Bekerja siang malam tanpa henti. Banyak keluarga dekat yang menyuruhnya berhenti berobsesi pada angin atau matahari dan menyarankannya untuk mencari pekerjaan yang lebih pasti.
“Udah, cari kerjaan lain yang lebih pasti aja,” ungkap seorang kerabat.
Satu tower roboh, ia membuat lagi. Roboh lagi. Bentuknya diubah, hasilnya tetap sama. Demikian berulang-ulang hingga 32 kali. Setiap kegagalan menghabiskan waktu, tenaga, dan uang. Namun dalam uji coba ke 33, ia sedikit bernafas lega, karena berhasil mendapatkan “setelan” yang mantap dengan harga murah, yakni sekitar Rp4 jutaan. Padahal di pasaran, tower itu dijual dengan harga Rp20 juta.
Ternyata, setelah diwujudkan di lapangan, persoalannya jauh lebih kompleks. Hanif mengenang sejumlah peristiwa yang cukup menyesakkan dada. Ia pernah ditelpon tengah malam karena ada kerusakan di lapanagan. Ketika dicek di lapangan pada keesokan harinya, ternyata kabar tersebut tidak benar, padahal telah mengorbankan waktu kuliah.
Namun ada laporan kerusakan yang benar-benar terjadi. Belum genap dua hari terpasang di lahan petani Rejoso, Nganjuk, baling-baling itu patah. Telepon dari petani datang. Hanif kembali ke lahan. Teknologi yang di atas kertas tampak menjanjikan ternyata harus berhadapan dengan angin, hujan, kabel, tanah, dan kenyataan di lapangan.
Di sanalah Hanif belajar bahwa membuat teknologi bekerja di laboratorium berbeda dengan membuatnya bertahan di sawah petani.

Petani menyambut gembira
“Dulu pada masa awal-awal terangin didirikan, kami selalu gagal dalam membangun menara yang kokoh. Kami mencoba, tapi selalu roboh. Saat itu, kami sudah akan menyerah, namun teman-teman menyemangati. Kini, kami memiliki metode yang tepat, sehingga tidak pernah lagi ingin berhenti. Keuntungan finansial lumayan dan prospeknya sangat menjanjikan” ungkapnya penuh optimisme.
*** *** ***
Ketika daya guna produk mulai stabil dengan harga terjangkau dan pesanan sudah mulai berdatangan, muncul persoalan baru. Terangin kesulitan memproduksi pesanan dengan cepat. Persoalan dengan warga sekitar yang terganggu karena kebisingan suara mesin juga menambah runyam persoalan.
Untuk itu, pada 2025 Muhammad Hanif mengikusertakan Terangin dalam Pertamuda Seed & Scale yang diselenggarakan PT Pertamina (Persero). Harapannya satu: mendapatkan suntikan pendanaan.
Dari ribuan pendaftar, Terangin berhasil masuk tiga besar kategori Energy Future, setelah melewati 12 tahapan eliminasi dari sekitar 3.000 pendaftar. Hanif merasa tidak kaget dengan pencapaian itu karena produknya sudah teruji di lapangan, meski dalam skala terbatas.

Terangin dalam penilaian
Berkat Pertamuda, Terangin dapat membuat program Panca Tera: Lima Menara Cahaya, di mana Terangin memasang lima sistem anti-hama pada lahan seluas lima hektare. Program tersebut melibatkan dua kelompok tani dan sekitar 120 penerima manfaat.
Hasilnya ajaib, Salman, salah satu dari petani itu mengaku bahwa proyek tersebut diperkirakan mampu mengurangi biaya produksi petani hingga Rp180 juta.
Perinciannya, dari 5 titik lahan itu dapat dihemat Rp36 juta, karena berkat Terangin mereka dapat mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk, namun dibarengi dengan peningkatan produksi sekitar 25 persen.
“Selain itu, masih ada keuntungan jangka panjang yang belum dihitung, yaitu peningkatan kesuburan tanah secara alami, karena pengurangan penggunaan pestisida dan pupuk kima,” ungkapnya Salman, petani dari Kelompok Tani Asri Lestari penuh semangat.
Selama ini Hanif tahu bagaimana membuat teknologi bekerja. Pertamuda mengajarinya pertanyaan yang berbeda: bagaimana membuat teknologi itu bertahan sebagai bisnis sekaligus tetap menguntungkan petani.
“Berkat Pertamuda, saya mengerti bagaimana cara mengembangkan Terangin yang menguntungkan petani dan Terangin sendiri secara bersamaan,” ujarnya bangga.
Manfaat lain dari Pertamuda bagi Terangin adalah Hanif merancang sistem kerja sama yang berkelanjutan. Mentor Pertamuda Eric Harianto kemudian mengajarkan satu hal yang sebelumnya jarang dipikirkan Hanif: teknologi harus mempunyai umur panjang sebagai bisnis.
“Biasakan berpikir untuk jangka panjang, agar kita memproduksi teknologi yang mempunyai masa pakai lama,” begitu pesan Eric yang selalu diingat oleh Hanif.
*** *** ***
Dari Pertamuda, Terangin masuk dalam delegasi startup yang berhak mengikuti Startup Grind Global Conference 2026 di Silicon Valley pada 28–29 April 2026.
Di sana, peta pikirannya berubah. Jika di Nganjuk pertanyaannya adalah apakah teknologi bisa bekerja untuk petani, di Silicon Valley pertanyaannya menjadi lebih besar: Seberapa jauh teknologi itu bisa berjalan? Apakah produk tersebut dapat digunakan di negara lain? Bagaimana sebuah startup kecil dari Surabaya masuk ke rantai bisnis global?
Dalam sebuah percakapan yang dipublikasikan Colton Kaplan, Hanif menjelaskan bahwa Terangin membutuhkan mitra distribusi dan ekspor, lokasi proyek percontohan di negara lain, serta mitra strategis untuk membawa bisnis tersebut ke skala global.
Beberapa waktu kemudian, Terangin kembali memasuki arena internasional. Kali ini di San Diego, California. Pada 1–2 Mei 2026, University of San Diego menyelenggarakan Fowler Global Social Innovation Challenge (FGSIC) 2026. Terangin menjadi salah satu finalis yang membawa gagasan tentang microgrid energi terbarukan bagi petani perdesaan. University of San Diego mencatat Terangin sebagai salah satu finalis dalam kompetisi tersebut.
Pada penilaian akhir, Terangin masuk jajaran Top 6 dan finis di posisi keempat. Mereka bersaing dengan puluhan peserta dari berbagai negara. Terangin menyisihkan 43 semifinalis dari 34 universitas di 10 negara. Terangin juga memperoleh pendanaan sebesar US$3.000 untuk mendukung pengembangan bisnis selanjutnya.
“Alhamdulillah mendapatkan apresiasi dari masyarakat dunia. Meski para juri menyebut namanya dengan TERA-GIN, sehingga terasa seperti produk gingseng, bukan teknologi terkait angin” kenang Hanif dengan sedikit selera humor. Mungkin, untuk bisa menyebut Terangin dengan benar, para juri internasional itu perlu dikerok emak-emak sampai merah.
Apapun yang terjadi, di panggung internasional itu, hasil kreasi anak Nganjuk telah diterjemahkan menjadi bahasa yang dipahami dunia: renewable energy, sustainable agriculture, social innovation, dan rural development.
*** *** ***
Dulu, ketika masih mondok di Baron, Nganjuk, Hanif hanya melihat angin sebagai sesuatu yang datang dan pergi begitu saja.
Kini, melalui Terangin, Hanif mengembangkan startup pertanian berbasis energi angin yang menghasilkan lampu-lampu perangkap hama. Selain itu, turbin angin yang ia kembangkan juga dapat memenuhi kebutuhan pertanian lain, seperti sistem irigasi, aerasi akuakultur, dan peralatan pertanian modern lainnya.
Angin tetap tidak terlihat. Tetapi di sejumlah lahan pertanian Nganjuk, hembusannya kini meninggalkan jejak: lampu yang menyala, hama yang berkurang, dan petani yang berharap panennya lebih baik.
Dari dalam masjid pesantren, pertanyaan seorang santri kepada angin itu akhirnya menempuh perjalanan jauh—dari Nganjuk menuju pentas dunia.







































































