Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Angin laut Pandeglang berembus kencang, membawa aroma garam yang pekat. Di antara deburan ombak yang menghantam batu karang, Miranti (63 tahun) melangkah perlahan. Kakinya yang legam tanpa alas sudah akrab dengan tajamnya pasir pantai. Di tangannya, sebuah parang panjang digenggam erat.
Sat set sot. Dengan cekatan, ia menebas pangkal daun pandan laut yang sudah menua. Bagi sebagian orang, tanaman berdaun panjang ini hanyalah semak berduri yang mengganggu. Namun bagi Miranti, setiap helainya adalah penyambung napas dapur kehidupan.
Setelah dipikul ke rumah, Miranti harus melakukan proses nderei—membuang duri di tepi dan tulang daun menggunakan seutas benang atau pisau kecil. Daun itu kemudian direbus berjam-jam untuk membuang getah, direndam semalaman agar warnanya putih bersih, lalu dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering, daun diserut menggunakan bambu hingga lemas dan disayat tipis-tipis menjadi lembaran siap anyam.
Satu ikat berisi 100 lembar daun pandan kering bisa dijual dengan harga sekitar Rp26.500 hingga Rp34.500. Sehari, Miranti sekurang-kurangnya menghasilkan 7 ikat atau 700 lembar daun pandan. Hasilnya cukup memadai untuk menyambung hidup sendiri dan sekali-sekali membeli makanan atau pakaian untuk cucu-cucunya.
*** *** ***
Dari pesisir Pandeglang, sebagian lembaran pandan kering itu mendarat di workshop Keke Craft, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Di tempat ini, Juarsih, sang pendiri, mengubah pandan laut yang semula dipandang sebelah mata menjadi produk fesyen bernilai tinggi yang ramah lingkungan (eco-friendly).
Keke Craft yang berdiri sejak 2016 sadar bahwa pandan laut berasal dari masyarakat pinggir pantai yang panas dan gersang. Untuk meningkatkan kesejahteraan mereka serta memberikan jaminan penghasilan, Keke Craft berusaha menjaga hubungan kerja sama jangka panjang.
“Diharapkan mereka juga mendapatkan manfaat dari berkembangnya Keke Craft,” ungkap Juarsih penuh semangat.
Anyaman pandan tradisional yang kaku itu bisa disulap menjadi tas jinjing modern, tote bag kasual, hingga pouch yang modis. Ia memadukan anyaman pandan laut tersebut dengan sentuhan eksklusif kain tenun Nusantara, batik tulis, hingga aksen kulit sapi asli. Produk Keke Craft seperti Agda dan Amelie menjadi bukti nyata bagaimana bahan alam pesisir bisa tampil sangat elegan.
“Pandan merupakan bahan lokal yang ramah lingkungan dan memiliki potensi ekonomi tinggi jika diolah menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya penuh semangat.
Namun, memulai bisnis kriya tidaklah mudah. Pada masa-masa awal, Keke Craft bergerak lambat. Akses pasar yang terbatas membuat omzet usaha ini mandek di angka Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan. Angka itu sering kali membuat pelaku UMKM berpikir untuk menyerah.
“Awal mula merintis usaha terasa sangat berat. Antara pemasukan dan pengeluaran sering tidak seimbang,” ungkapnya lirih mengenang masa lalunya.
*** *** ***
Titik balik datang ketika Keke Craft masuk dalam radar pembinaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), awal tahun 2025. Yayasan Astra tidak sekadar memberikan bantuan modal, tetapi melakukan pembinaan dan bimbingan untuk mengembangkan standarisasi manajemen produksi, meningkatkan kualitas produk, hingga memperluas jaringan pasar.
Sebelum mengikuti pembinaan Yayasan Astra, pencatatan produksi dan pengelolaan pemasaran Keke Craft masih dilakukan secara sederhana. Setelah mengikuti pendampingan, Juarsih mulai membenahi pencatatan, standar produksi, hingga strategi pemasaran. Perubahan itu ikut tercermin pada omzet usaha yang naik menjadi sekitar Rp30 juta per bulan. Produk Keke Craft terendah dijual dengan harga Rp65 ribu dan tertinggi Rp350.000 untuk produk seperti Totebag Tas Anyaman Pandan kombinasi Tenun Nusantara.
“Kami lebih tertib dalam manajemen, produksi, branding, pemasaran, dan kualitas,” ungkap perempuan kelahiran Tuban, Jawa Timur.
Namun masih ada yang lebih penting lagi, yaitu pendampingan dan networking dari Yayasan Astra yang meningkatkan rasa percaya diri untuk merambah pasar yang lebih luas. “Kami tidak mendapatkan ilmu terkait produksi, melainkan juga bagaimana mengembangkan usaha secara profesional dan membuka akses pasar yang lebih luas,” ungkapnya bangga.
Status sebagai UMKM binaan Astra membuka gerbang sinergi usaha dengan perusahaan besar. Keke Craft mulai mendapatkan pesanan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Pegadaian untuk pembuatan suvenir perusahaan (corporate gift), seminar kit, dan hampers eksklusif. Kini, pihaknya tidak lagi hanya menjual produk eceran kepada masyarakat umum, tetapi telah bertransformasi menjadi mitra strategis korporasi swasta dan instansi pemerintah.
Perkembangan Keke Craft tampaknya sesuai dengan falsafah Yayasan Astra agar pelaku usaha dapat maju dan berkembang secara mandiri. Ketua Pengurus Yayasan Astra Rahmat Samulo menegaskan bahwa lembaganya berusaha memberikan pendampingan dan pembinaan agar pelaku usaha dapat berkembang dengan kaki sendiri secara berkesinambungan. “Kita berusaha memberikan pancing, agar pelaku usaha dapat menangkap ikan secara mandiri,” ungkapnya kepada wartawan secara doorstop, termasuk awak media www.energindo.co.id, Selasa, 4 Agustus 2026, di sela-sela Pameran Otomotif GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang.
*** *** ***
Lompatan terbesar Keke Craft terjadi ketika produk anyaman pandan ini mulai melanglang buana ke panggung internasional. Melalui kurasi ketat, produk Keke Craft berhasil menembus pasar pameran di Arab Saudi dan Malaysia, bahkan sempat memukau panggung Asia Fashion Show.
Kini, pasar Keke Craft tak lagi terbatas pada konsumen lokal. Produknya mulai diminati pembeli dari luar negeri yang tertarik pada konsep berkelanjutan dan keunikan kriya Nusantara
Dari setiap produk premium Keke Craft yang terjual, ada rantai kesejahteraan yang terus berputar. Ada nama Juarsih yang terus berinovasi, ada para pengrajin lokal Tangerang yang dapurnya tetap mengepul, dan jauh di ujung pesisir Pandeglang, ada nenek Miranti yang tersenyum lega karena pandan laut yang ia cari dengan peluh kini dihargai pantas oleh dunia.
*** *** ***
Ke depan, bersama Yayasan Astra, Keke Craft berupaya meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar corporate gift, dan menembus pasar luar negeri, sehingga produk lokal Indonesia bisa dikenal dunia, meski hanya bermodalkan tumbuhan liar di pinggir pantai.
Pandan laut itu memang tumbuh di antara karang yang keras dan deburan ombak yang menghempas. Namun lewat ketekunan serta ilmu dan kreativitas, ia berhasil bertransformasi dari tanaman berduri di tepi pantai menjadi simbol kemewahan etnik yang mendunia.










































































