Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Tanggal Desember 2025, Astra Auto Fest (AAF) di gelar, di Astra Biz Center, BSD, Tangerang, Banten. Di sebuah pojokan, sebuah keramaian terjadi. Sebagian pengunjung ternyata sedang menikmati baso aci dari mangkuknya. Mereka melupakan sejenak hiruk-pikuk kendaraan lengkap dengan spice girl yang sedang dipamerkan.
“Enak, kuahnya gurih,” ungkap Laksmi dan Antonio, salah satu pasangan muda yang berniat memiliki kendaraan pertamanya. Mereka mencicipi baso aci yang kenyal namun tidak keras. Baso dagingnya terasa kres ketika digigit. Kuahnya gurih dan hangat.
*** *** ***
Di balik semangkuk baso aci itu ada cerita tentang seorang anak muda Andika Irfan Rizaldi yang pernah bekerja di perusahaan packaging, mencoba usaha spare part sepeda motor, lalu memilih masuk ke dunia kuliner.
Andika memulai Baso Aci Maszeh pada Juni 2023. Saat itu, ia belum memiliki gambaran sejauh apa usaha tersebut akan berjalan. Yang ia punya adalah ketertarikan. “Setelah saya mempelajari dunia F&B, tepatnya di bidang kuliner baso aci dan makanan pedas, saya mulai tertarik,” kata Andika.
Maka ia mencoba. Omzet awalnya sekitar Rp5 juta per bulan. Angka itu mungkin terdengar kecil. Tetapi bagi orang yang baru memulai usaha, angka tersebut bukan sekadar nominal. Di dalamnya ada biaya bahan baku, kemasan, operasional, dan harapan agar besok masih ada pelanggan yang datang.
Dari sana Andika belajar bahwa menjual makanan tidak cukup hanya dengan membuat rasa yang enak. Ada banyak hal lain yang harus dipikirkan, mulai dari pemasaran, mempertahankan pelanggan, mengelola tenaga kerja, serta bagaimana usaha tetap hidup ketika pemiliknya sedang tidak berada di tempat.
*** *** ***
Salah satu titik penting perjalanan Andika datang melalui seorang teman. Ia diajak mengikuti pelatihan dan kemudian diperkenalkan kepada pembimbing Yayasan Dharma Bhakti Astra. Pada Desember 2024, Andika mengikuti pelatihan packaging di Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Bagi pembeli, kemasan mungkin hanya pembungkus makanan. Seperti pepatah, habis manis sepah dibuang. Setelah isinya habis, kemasan masu ke tong sampah.

Tetapi bagi pelaku UMKM, kemasan adalah bagian dari cara sebuah produk berbicara. Sebelum pelanggan mencicipi kuah, mereka melihat kemasannya terlebih dahulu. Dari mata yang melihat kemasan, turun ke hati yang menggerakan untuk membeli.
Masih melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra, Andika terus mengikuti berbagai pelatihan dan pembinaan lainnya. Andika terkesan dengan keramahan dan kebaikan para pembimbing sehingga membuatnya bersemangat untuk mengikuti setiap tahapan bimbingan dan pembinaan.
*** *** ***
Perlahan, Baso Aci Maszeh bergerak. Andika menyebut omzetnya meningkat tajam, 2 kali lipat, dan terus bergerak menuju tiga dan empat kali lipatnya. Jumlah tenaga kerja pun bertambah menjadi lima orang. Menu yang dijual juga berkembang. Tidak hanya baso aci, tetapi ada aneka bakso, mi, kwetiau, hingga ketan susu.
Ya, hanya Lima orang. Angka itu mungkin belum besar. Tetapi bagi Andika, lima orang tersebut menunjukkan bahwa usahanya sudah bukan hanya tentang dirinya. Ada orang lain yang memperoleh penghasilan untuk membantu ekonomi keluarganya.
Kemudian datang kesempatan yang berbeda. Baso Aci Maszeh hadir dalam Astra Auto Fest 2025, yang berlangsung pada 5–7 Desember 2025 di Astra Biz Center, BSD, Tangerang, Banten.
AAF 2025 merupakan penyelenggaraan kelima dan melibatkan berbagai unit bisnis Astra. Selain kendaraan dan layanan otomotif, kegiatan itu juga memberi ruang bagi UMKM binaan Astra untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.
Di antara kendaraan yang berkilau dan aktivitas otomotif, Andika membawa sesuatu yang jauh lebih sederhana. Semangkuk baso aci. Di sana, produknya bertemu dengan konsumen yang belum tentu mengenalnya.
Mereka datang mencicipi, menilai, lalu berbicara. Andika tidak menghitung satu per satu orang yang memberikan komentar. Namun, ia mengatakan hampir semua pelanggan memberikan tanggapan positif. Ia memperkirakan sekitar 90 persen pelanggan merasa puas.
Salah satu komentar yang paling diingatnya: “Enak, kuahnya gurih. Baso dagingnya juga kres dan baso acinya kenyal, tidak keras.”
Ungkapan itu mungkin hanya pujian biasa. Bagi Andika dan timnya, kalimat itu bisa menjadi bahan bakar untuk melanjutkan usaha. Sebab seorang penjual makanan pada akhirnya memang menunggu momen ketika pelanggan menyuap makanan buatannya, lalu mengangguk puas.
Beberapa bulan beikutnya, Andika kembali mengikuti UMKM BISA 2026, sebagai bagian dari rangkaian pengembangan kapasitas UMKM binaan Astra bersama Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra. Program itu mengajarkan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis, daya saing, branding, packaging, dan keberlanjutan usaha.
Bagi Andika, semua pengalaman itu memberikan pelajaran penting dalam pengembangan usaha. Sebab ketika usaha mulai tumbuh, pertanyaannya berikutnya adalah bagaimana mempertahankan pelanggan dan membawa usaha ini lebih jauh?
Andika mulai memikirkan waralaba. Namun ia tidak mau tergesa-gesa. “Untuk tahun ini kita jalan satu di pusat. Kemungkinan sih ada, tapi saya harus banyak belajar terlebih dahulu,” katanya.
Ada kehati-hatian dalam kalimat itu. Ia ingin besar. Tetapi tidak ingin sekadar terlihat besar. Baginya, membuka waralaba bukan hanya memperbanyak papan nama. Rasa harus tetap sama. Pelayanan harus terjaga. Sistem harus siap. Orang-orang harus mampu menjalankannya.
**** *** ***
Baso Aci Maszeh memang belum menjadi jaringan restoran besar. Tetapi Andika telah membuktikan bahwa sebuah usaha bisa tumbuh dari keberanian untuk mencoba, kemauan untuk belajar, dan kesediaan untuk berjalan setahap demi setahap. Dari satu mangkuk, ia menemukan pelanggan. Dari pelanggan, ia menemukan keyakinan. Dan dari proses panjang itu, sebuah mimpi mulai menemukan jalannya.
Untuk sementara, Andika masih akan menjalani hari-harinya seperti biasa: membuat baso aci, melayani pelanggan, dan terus belajar mengembangkan usaha. Mimpi tentang waralaba boleh saja disimpan lebih dulu. Sebab, seperti ungkapan yang ia pegang, pelan-pelan asal klakon. Yang penting, usaha terus berjalan dan tujuan perlahan tercapai.










































































