Jakarta, Energindo.co.id – Gala Premiere film FOUFO di Epicentrum. Dan yang hadir bukan sekadar kisah alien yang tersesat. Yang hadir adalah Madura itu sendiri: bahasanya, tawanya, tanah dan doanya. Demikian diungkapkan oleh Achsanul Qosasi, tokoh Madura seusai menyaksikan Film FOUFO, Jumat malam (3/7/2026), yang dikutip dari salah satu medsosnya.
FOUFO menaruh bahasa Madura di jantung film nasional. Bukan tempelan, bukan bumbu. Melainkan denyut utama cerita. “Untuk pertama kalinya, anak-anak Madura mendengar bahasa ibunya berbicara dari layar bioskop dengan bangga,” tegas Presiden Madura United, tim sepak bola kebangaan warga Madura.
Film menceritakan kisah Muslim sangat menyentuh. “Seorang anak yang berjuang, menabung, dan bertahan demi memberangkatkan ibunya berhaji. Di situlah Madura yang sesungguhnya: kerja keras, bakti kepada orang tua, dan iman yang tak pernah padam,” ungkap AQ, sapaan akrab Achsanul.
Dia melanjutkan, “Inilah wajah Madura yang selama ini ingin kita perkenalkan. Bukan Madura dalam stereotip, tetapi Madura yang hangat, religius, dan setia”.
Semangat yang sama, imbuh AQ juga ia rawat di lapangan bersama Madura United: loyalitas, kerja keras, pantang menyerah.
AQ tidak lupa mengucapkan berterimakasih kepada Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Rifky Harsya. “Kehadiran Negara sangat memberikan warna berbeda dalam setiap karya kreatif anak bangsa,” ujarnya seraya tidak bisa menyembunyikan rasa salut, terima kasih, penghargaan yang tinggi kepada Bayu Skak, Tretan Muslim, dan seluruh talenta Madura yang lahir dari open casting.
“Kalian membuktikan: dari kampung pun, karya bisa naik ke panggung nasional,” cetus AQ.
Tugas kita, imbuhnya, menjaga agar cerita seperti ini terus lahir: merawat budaya, membuka panggung, membiarkan Madura bersuara dengan kepalanya sendiri.
“Selamat untuk FOUFO. Sampai jumpa di bioskop, 9 Juli. Tertawalah, terharulah, dan banggalah menjadi Madura,” katanya.
Dari Madura, untuk Indonesia.












































































