Nobar film Pesta Babi di Pesantren? Kenapa tidak? Buktinya, banyak pesantren yang sudah (dan akan) mengadakan nobar film ini. Di Sumenep Madura, setidaknya yang saya tahu, yang sudah mengadakan nobar yaitu Pesantren Annuqayah Daerah Late Guluk-Guluk dan Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura melalui Sekolah Tingginya (STAINAS).
Jika melihat judulnya orang pesantren mungkin akan resisten. Pesta Babi. Babi dalam agama Islam najis dan haram dimakan. Terus gambar Salib sebagai pengganti kata “T” di judul “PESTA”. Di Grup WA yang saya ikuti ada komentar, “Hati-hati, ada salibnya”.
Saya memahami, wajar komentar di atas muncul karena memang belum menonton filmnya. Dua simbol, babi dan salib, mungkin dianggap cukup untuk mengatakan film ini tidak cocok diputar di pesantren.
Tapi syukurlah, setelah nonton film justru santri mengapresiasi. Dalam pengalaman saya, baru kali ini santri tak beranjak nonton film dokumenter. Pada hal durasinya lumayan. 1 jam 25 menit. Nonton film dokumenter lain, 30 menit saja mereka bosan. Bahkan ada yang angkat kaki.
Kenapa mereka bertahan? Saya awam soal film. Tapi film ini menarik. Memukau. Menyentuh. Dan menginspirasi. Santri seolah diajak langsung ke Papua. Melihat dengan mata telanjang dan merasakan secara empatik masyarakat adat di sana yang mempertahan ruang hidupnya. Selama film itu diputar suara mereka senyap.
Setidaknya santri mengalami 5 hal setelah menonton film ini;
1) Mengenal secara lebih dekat suku lain yang dari sudut bahasa, tradisi, budaya, dan warna kulit berbeda. Pengalaman ini penting bagi santri biar mereka siap hidup berdampingan dengan lain suku dan mengajari mereka untuk tidak bersikap rasis terhadap suku lain. Apalagi Papua dan Madura memiliki kesamaan, sama-sama memperoleh perlakuan rasis dengan labeling yang tidak mengenakkan.
2- Santri mengalami ‘perjumpaan’ dengan suku lain yang memiliki keyakinan agama yang berbeda. Santri muslim, orang Papua (dalam film) Katholik. Tetapi santri dan orang Papua disatukan oleh imagi kebangsaan dan kemanusiaan. Inilah pelajaran sejati makna toleransi. Bukan sekedar menghormat orang beda agama, tapi juga siap berjihad membela orang tertindas meski beda agama. Setidaknya itulah pelajaran yang bisa mereka ambil.
3-Mereka juga belajar soal agraria dan ekologi dan dampak sosial ekologisnya bagi masyarakat. Dampak sosial ekologisnya luar biasa. Masyarakat adat dipaksa oleh kekuasaan dan korporasi mencerabut diri dari lingkungan hutannya. Ruang hidupnya. Bukan sekedar manusianya, juga keanekaragaman hayati dan satwanya. Mungkin juga makhluk ghaibnya.
4-Mereka jadi tahu wajah negaranya. Elitnya. Pemimpinnya. Film ini menjadi bukti bagaimana negara ini dikelola, siapa yang kuasa mengatur, dengan cara apa negara ini diatur, siapa yang untung, dan siapa yang paling buntung.
5- Film ini jadi ruang bagi santri untuk mempertautkan pengalaman kegamaan dan kedaerahan mereka. Teks agama mereka sangat banyak yang menyeru agar berlaku adil terhadap makhluk non-manusia lainnya, termasuk bumi yang kita huni. Sumenep, daerah mereka, juga akan mengalami problem lingkungan yang akan bertambah rumit ke depan. Pesiar habis, tambang fosfat, rencana pembangunan pembangkit listrik, alih fungsi lahan pertanian yang makin massif, ancaman krisis air, dll.
Setidaknya 5 hal di atas bisa menjadi alasan kenapa film Pesta Babi ini penting diputar di pesantren-pesantren. Sudah waktunya pesantren terlibat dalam isu-isu agraria dan ekologi di daerahnya masing-masing, karena peristiwa di Papua bukan tidak mungkin akan terjadi juga di masyarakat sekitar pesantren, dimana negara dan korporasi meleleh air liurnya untuk menyantap tanah dan kekayaan yang dikandungnya.












































































