Jakarta, Energindo.co.id – Kebakaran hutan dan lahan tidak saja terjadi di Pulau Kalimantan tetapi menimpa pula di Distrik Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat. Bahkan sejumlah titik api pun mulai terdeteksi di sekitar dan di luar perimeter fasilitas Tangguh LNG Papua Barat sejak Jumat (21/8/2026).
Untuk mengantisipasi agar titik api tidak merambah fasilitas Objek Vital Nasional (Obvitnas) maka Tim Tangguh telah secara aktif merespons situasi kebakaran hutan tersebut dengan melakukan berbagai upaya mitigasi untuk mencegah api semakin mendekati fasilitas kami maupun masyarakat di sekitar area operasi. Demikian penjelasan secara tertulis bp Indonesia yang diterima Energindo.co.id pada Selasa pagi (25/8/2026).
“Kami mendapatkan dukungan yang kuat dari SKK Migas dan Kementerian ESDM, serta bekerja sama secara erat dengan BNPB, pemerintah daerah, aparat terkait, dan masyarakat dalam penanganan situasi ini,” tulis bp Indonesia.
Dikatakan pula, “Keselamatan pekerja, kontraktor, dan masyarakat di sekitar area operasi tetap menjadi prioritas utama kami. Kami terus mengambil seluruh langkah yang berada dalam kapasitas kami untuk melindungi manusia serta menjaga keamanan dan integritas fasilitas Tangguh LNG”.
Seluruh rencana tanggap darurat dan langkah mitigasi yang diperlukan telah disiapkan dan diterapkan untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi situasi. “Kami akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait guna memastikan respons yang cepat, aman, dan terkoordinasi,” tulis bp Indonesia.
Sementara itu, Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Papua Barat mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut mencapai 2.496,39 hektare sepanjang 2026. Kabupaten Fakfak menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar, yakni sekitar 2.171,35 hektare hingga 31 Juli 2026.
Kepala Dishut Papua Barat Jimmy Walter Susanto mengatakan data tersebut mengacu pada aplikasi SiPongi+ (Sistem Pemantauan Karhutla) Kementerian Kehutanan. Berdasarkan data itu, Fakfak masuk dalam kategori wilayah rawan karhutla.
“Kondisi karhutla di Fakfak paling besar dibanding kabupaten lainnya di Papua Barat,” kata Jimmy saat rapat pembentukan satuan tugas (satgas) penanganan karhutla di Manokwari, seperti dilansir Antara, Senin, 24 Agustus 2026.
Selain Fakfak, karhutla juga tercatat terjadi di sejumlah wilayah lain. Data SiPongi+ mencatat luasan karhutla di Teluk Bintuni mencapai 223,51 hektare, Manokwari Selatan 34,35 hektare, Pegunungan Arfak 33,61 hektare, dan Manokwari 33,54 hektare.
Secara keseluruhan, karhutla di Papua Barat pada 2026 terjadi pada beberapa periode. Luasan kebakaran tercatat 55,12 hektare pada Januari, 1,08 hektare pada April, 472,08 hektare pada Juni, dan 1.968,11 hektare pada Juli.
“Tren karhutla 2026 meningkat dari 2025 yaitu seluas 1.228,71 hektare. Hampir 87 persen karhutla Papua Barat berada di Kabupaten Fakfak,” ucap Jimmy.
Perkembangan terbaru menunjukkan penyebaran titik api semakin luas. Berdasarkan hasil pemantauan SiPongi+ per 23 Agustus 2026, terdapat 373 titik api yang tersebar di tujuh kabupaten di Papua Barat. Wilayah yang terpantau memiliki titik api juga mencakup Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Kaimana.
“Data SiPongi+ yang terbaru per 23 Agustus pukul 16.00 WIT, titik api sudah menyebar ke semua kabupaten di Papua Barat,” jelas Jimmy.











































































