Jakarta, Energindo.co.id – Peneliti itu bukan sesuatu yang aneh tetapi peneliti adalah ganda bangsa di masa depan. Tanpa ada penelitian kekayaan hayati yang kita miliki tidak bakal bisa terungkap dengan baik. Demikian diungkapkan oleh Prof Drs Jatna Supriatna M.Sc. Ph.D, penerima Sarwono Award 2026.
Sementara itu, Prof Dr Gono Semiadi, pemberi Orasi Ilmiah Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026, mengatakan bahwa tugas utama peneliti sering disebut sebagai pengisi gab dari suatu permasalahan. Tapi dalam perspektif hari ini, selain mengisi gab juga bagaimana peneliti itu dapat berkontribusi dalam bernegosiasi secara policy di tingkat global sehingga kepentingan-kepentingan Indonesia dapat terakomodir dengan forum-forum global. Kedua tokoh tersebut menyampaikan pendapatnya seusai penganugerahan Sarwono Award 2026 dan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026 pada Senin (24/8/2026) di Auditorium Gd. BJ. Habibie, Jakarta.
Sementara itu, Kepala BRIN, Arif Satria, mengungkapkan bahwa BRIN bekerja sama dengan LPDP memandang perlu memberikan penghargaan tertinggi secara berkelanjutan kepada individu, baik dari internal maupun eksternal BRIN. Penghargaan tersebut diwujudkan melalui pemberian anugerah serta ruang terhormat bagi para ilmuwan untuk menyampaikan orasi ilmiah.
“Penghargaan ini diberikan kepada sosok-sosok ilmuwan yang telah memiliki reputasi nasional dan internasional, serta memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Diketahui, sebagai bentuk apresiasi kepada para ilmuwan, pakar, atau praktisi yang telah memberikan sumbangan nyata dan bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia menyelenggarakan Penganugerahan Talenta Unggul Sarwono Award dan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture Tahun 2026.
Penerima Sarwono Award Tahun 2026 adalah Jatna Suprijatna, Profesor Biologi Konservasi Universitas Indonesia. Sedangkan Orasi Ilmiah Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture Tahun 2026 disampaikan oleh Gono Semiadi, peneliti BRIN yang selama empat dekade menekuni penelitian satwa liar dan konservasi keanekaragaman hayati.
Profil Jatna
Penerima Sarwono Award 2026 adalah Jatna Suprijatna, Profesor Biologi Konservasi – Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI). Ia merupakan seorang peneliti, pengamat, dan aktivis lingkungan hidup dan konservasi.
Jatna memulai karier sebagai peneliti LIPI dan kemudian menjadi dosen serta profesor di UI. Ia selalu terlibat dalam kegiatan mengajar mahasiswa dan menginspirasi banyak pihak untuk bekerja di bidang konservasi.
Dari tahun 1995 hingga 2010, ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif dan kemudian Wakil Presiden Conservation International di Indonesia. Pada 2010, ia mendirikan Research Center for Climate Change University of Indonesia (RCCC-UI) untuk menanggapi isu perubahan iklim yang semakin berkembang. Pada 2020, ia mendirikan SDG Hub di FMIPA UI sebagai bagian dari upaya mendorong perguruan tinggi berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Di tingkat internasional, sejak 2019, ia menjadi anggota Board of the National University of Singapore – Center for Nature-Based Climate Solutions, serta menjadi Co-chair Southeast Asia Primate Specialist Group, International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Ia telah mempublikasikan lebih dari 240 artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi, termasuk Science, Nature, Current Biology, Conservation Biology, Scientific Reports, Global Ecology and Conservation, Sustainability, Discover Sustainability, dan lain-lain, serta 30 buku tentang lingkungan dan konservasi.
Jatna juga menjadi editor untuk beberapa jurnal ilmiah dari organisasi internasional, termasuk Tropical Conservation Science, Wildlife Policy and Law, Parks dari IUCN, Asian Primate Journal dari IUCN, dan Biosphere Conservation. Terbaru, ia menjadi anggota dewan editor dari Journal of Climate Resilience and Sustainability dari Royal Meteorological Society, Inggris.
Profil Gono
Sedangkan orasi ilmiah Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026 disampaikan oleh Gono Semiadi, Profesor Riset di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN. Karier penelitian dimulai dari kedekatannya dengan alam sejak mahasiswa. Aktif dalam dunia organisasi Pecinta Alam dan dunia Konservasi Gua.
Karier sebagai peneliti dimulai langsung sejak lulus perguruan tinggi, ditempatkan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIPI mulai 1985, berpindah ke Pusat Penelitian Biologi LIPI, dan dilanjutkan ke BRIN pada 2022, dengan penempatan awal di Pusat Riset Ekologi dan Etnobotani, kemudian ke Pusat Riset Zoologi Terapan, dan terakhir berlabuh di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi hingga kini.
Dalam rentang panjang itu, penelitian tidak berhenti di laboratorium. Ia sempat memimpin Laboratorium Reproduksi Satwa, Puslit Biologi LIPI, terlibat membantu sebagai sub kurator kelompok mamalia besar di Museum Zoologicum Bogoriense LIPI, serta mengembangkan kajian pengelolaan satwa liar, reproduksi, domestikasi, konservasi spesies, dan pemanfaatan berkelanjutan.
Perjalanan lapangan membawanya ke berbagai bentang alam Indonesia, termasuk mengoordinasikan Ekspedisi LENGGURU Papua, sebagai liaison officer pada project Global Species Management Plan (GSMP)-Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), serta berbagai survei keanekaragaman hayati di kawasan hutan, karst, wilayah konsesi hutan, habitat satwa terancam dan kawasan pertambangan di Jawa, Maluku, Sulawesi, hingga Sabah-Malaysia.
Pengalaman lapangan dan penelitiannya berkembang menjadi peran yang semakin kuat dalam menghubungkan antara sains dan kebijakan. Ia terlibat dalam penilaian status keterancaman berbagai satwa mamalia bersama IUCN Red List, membina pengelolaan populasi satwa di kawasan konservasi, melakukan penilaian pengelolaan kebun binatang, menulis dokumen tentang pengembangan strategi konservasi, serta melakukan berbagai kerja sama penelitian tingkat nasional dan internasional.
Ia juga menjadi Koordinator Indonesian Scientific Authority CITES di tahun 2018-2019 dan Manajer Kebijakan pada Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekragaman Hayati-BRIN (SKIKH) dari 2020 hingga 2025. Jejak internasionalnya kemudian semakin menonjol dengan penempatan pada forum global Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) dibawah PBB, dengan menjadi koordinator National Focal Point Indonesia dari 2018–2025.
Sejak 2025 hingga kini, ia menjadi anggota Informal Advisory Group on Technical and Scientific Cooperation pada Convention on Biological Diversity (CBD) dibawah PBB, serta di tahun 2026 hingga kini juga menjadi anggota Multidisciplinary Expert Panel IPBES.
Dalam karier penelitinya selama 40 tahun, ia telah terlibat dalam penerbitan tiga karya buku internasional tentang rusa, trenggiling, dan babi, serta lima karya buku nasional, 69 karya tulis ilmiah global, dan 37 karya tulis ilmiah nasional. Salah satu masterpiece dari kolaborasi publikasi karya ilmiahnya adalah satu teori dalam perhitungan modeling spasial yang hingga saat ini masih menjadi rujukan sejak pertama kali terbit di tahun 2013 dan telah disitasi sebanyak 1565 kali.
Perjalanan kariernya memperlihatkan satu garis yang konsisten, yakni dari memahami satwa di lapangan, membangun bukti melalui penelitian, mengembangkan metode dan jejaring, hingga membawa sains ke ruang kebijakan nasional dan global.
Sebagai catatan, Sarwono Award merupakan penghargaan a lifetime achievement yang diberikan kepada individu yang memiliki prestasi dan kontribusi luar biasa melalui penelitian, pengembangan, dan/atau penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat kontinu, serta memiliki kepakaran dalam satu bidang yang digeluti secara terus menerus. Tahun ini, Sarwono Award mengambil tema di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
Adapun Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture merupakan orasi ilmiah yang disampaikan oleh individu, tokoh, ilmuwan, dan/atau pakar yang telah banyak memberikan inspirasi dan pemikirannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026 difokuskan pada ilmu konservasi keanekaragaman hayati.










































































