Jakarta, Energindo.co.id – Seusai menghadiri acara akad nikah dan resepsi pernikahan keponakan kami yang dilangsungkan di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat pada Minggu (4/1/2026), kami berkeliling mengitari areal masjid. Tidak dinyana, kami melihat sebuah tulisan “Terowongan Silaturahmi”.
Kontan saja, salah seorang dari kami mendekati lokasi tersebut. Telihat ada seorang security. Sedang berjaga. Mengenakan seragam warna kuning. “Pak, bisa masuk,” tanya salah seorang rekan kami.
“Tutup, tutup,” ujarnya sedikit berteriak.
“Kenapa tutup ya?” tanya rekan kami, yang diulangi hingga 3 kali. Namun pihak security terkesan enggan memberikan penjelasan kenapa Terowongan Silaturahmi tersebut ditutup. Terlihat ia pura-pura tidak mendengar atau memang tidak mendengar, lalu masuk ke dalam ruangan. Entahlah.
Belakangan diketahui, setelah tanya-tanya Embah Google. Ternyata Terowongan Silaturahmi ini tidak selalu dibuka untuk publik. Kendati demikian (sebagai saran) alangkah lebih elok bila ada penjelasan/keterangan lisan maupun tertulis dari pengelola perihal dibuka/ ditutup untuk publik Terowongan Silaturahmi ini sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dari pengunjung.
Sebagai pengunjung, tentu hanya bisa berharap agar Terowongan Silaturahmi dapat dibuka untuk publik. Apalagi mengingat tujuan utama pembangunan Terowongan Silaturahmi, seperti dilansir dari laman resmi Kemenag, jembatan tersebut tidak hanya sebagai simbol kerukunan umat, tetapi juga simbol keberlanjutan peradaban. Gereja Katedral mewakili masa lampau dan warisan sejarah Indonesia yang dibagun dengan arsitektur bergaya neo-gotik khas Eropa yang ada sejak 1808.
Sementara itu, Masjid Istiqlal lebih bernuansa modern dan masa kini yang dirancang oleh Frederich Silaban yang beragama Kristen. Meskipun demikian, usulan Lukman belum bisa diwujudkan dan akhirnya lebih sepakat untuk membangun terowongan.
Apabila diartikan dalam makna simbolik, terowongan yang dibangun dengan kata “silaturahmi” mempunyai nilai religiusitas dan lebih mengena daripada jembatan.
Jamak diketahui, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meresmikan Terowongan Silaturahmi Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral di halaman Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Kamis, 12 Desember 2024.
“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim pada sore hari ini, saya resmikan Terowongan Silaturahim Masjid Istiqlal – Gereja Katedral di Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta,” kata Prabowo dalam sambutannya ketika itu.
Kepala negara bergembira dengan peresmian terowongan silaturahmi ini. Menurut Prabowo, peresmian ini merupakan simbol kerukunan antarumat beragama.
Terowongan dengan panjang 28,3 meter, tinggi 3 meter, dan lebar 4,1 meter itu kerap difungsikan di hari-hari besar untuk membantu mobilitas orang-orang yang ingin beribadah, baik di Gereja Katedral maupun di Masjid Istiqlal.
Pembangunan Terowongan Silaturahmi pertama kali diusulkan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, sebagai bagian dari proyek renovasi masjid pada 2020.













































































