“Dalam kondisi seperti ini, semua kalangan harus hemat energi. Masyarakat, terutama aparatus negara, harus membiasakan diri menggunakan transportasi umum. Kalau keuangan Pemerintah dan Pertamina jebol, nanti kita semua yang rugi,” demikian ungkap Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro dalam Diskusi Energy & Mining Editor Society (E2S) bertajuk “Menjaga Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Harga Minyak Global, di Jakarta 9/4/2026.
Selanjutnya alumnus Institut Tekhnologi Bandung (ITB) yang juga pernah menjadi Tenaga Ahli di lingkungan DPR-RI ini menjelaskan bahwa masyarakat jangan sampai terlena dengan ketiadaan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tanah air, lalu menganggap tidak ada persoalan. Kenyataannya, keuangan Pemerintah untuk menopang kenaikan harga minyak di pasar internasional kembang kempis.
Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 adalah sebesar US$ 70/barel. Namun, saat ini harga minyak berada pada rentang US$ 100/barel – US$ 115/barel. Pada level harga rata-rata US$ 100 per barel ini, deviasi terhadap asumsi APBN sudah mencapai 43% dan memicu fenomena fiscal space errosion (pengikisan ruang fiskal) yang signifikan.
“Beberapa info dan studi, dengan harga seperti sekarang ini, keuangan Pertamina untuk penyediaan BBM hanya cukup sampai akhir Juni saja,” ungkap Komaidi mewanti-wanti.
Pernyaatan serupa juga diungkapkan oleh nara sumber lainnya, yakni Muhammad Kholid Syeirazi (Anggota Dewan Energi Nasional). Menurutnya di Indonesia ada 157 kendaraan dan semuanya menelan subsidi dalam jumlah yang sangat besar, yakni Rp 57 Triliuan pada 2025. Subsidi untuk LPG juga sangat besar. Belum subsidi lainnya. “Semuanya harus disikapi dengan bijaksana, bahwa kita semua hemat,” ungkapnya tegas.
Sementara itu, nara sumber lainnya Dipo Satria Ramli, Ekonom dari Universitas Indonesia menjelaskan bahwa ruang fiskal Pemerintah semakin terbatas. Defisit per Maret 2026 mencapai 0,92%, hampir sepertiga jatah defisit tahunan sebesar 3 persen sebagaimana dibolehkan oleh Undang-Undang. Di sisi lainnya, belanja negara melompat 31,4% year on year, jauh melampaui pertumbuhan pendapatan yang hanya 10,5% yoy. “Kondisi itu membuat Indonesia rentan untuk terpeleset ke dalam krisis ekonomi,” ungkapnya mewanti-wanti.
Sebagai info tambahan, meski telah terjadi gencatan senjata, namun narasi panas masih sering terjadi di antara berbagai pihak yang bertikai. Bahkan kini Iran telah menutup kembali Selat Hormuz setelah Israil melakukan serangan ke Libanon dan menewaskan 180 lebih.
Selain itu, saat Iran membuka kembali Selat Hormuz selama beberapa hari, penurunan harga minyak dunia bergerak lambat dan tidak secepat kenaikannya.
Kesimpulannya, kondisi energi di dalam dan di luar negeri sedang tidak baik-baik saja. Maka mari kita berhemat energi!














































































