Jakarta, Energindo.co.id – Kompetensi anak bangsa sejatinya tidak dapat dipandang sebelah mata. Pasalnya, mereka mampu mengoptimalkan produksi gas bumi sebesar 11.5 MMSCFD (821%) dari target sebesar 1.4 MMSCFD dari Wilayah Kerja (WK) Natuna Sea Block A. WK tersebut sebelumnya dikelola oleh Harbour Energy sebagai operator. Saat ini operatornya diambil-alih oleh Prime Oil Indonesia Natuna, Perusahaan Oil and Gas dalam negeri (lokal).
Demikian diungkapkan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto pada Menko Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, yang juga diterima Energindo.co.id Jumat (6/11/2026) pukul 22.01 WIB.
“Dengan semangat dan kompetensi anak negeri, optimalisasi produksi terus didorong dan membuahkan hasil yang luar biasa melalui keberhasilan pekerjaan Workover sumur NGA-1 dengan hasil laju produksi gas melebihi target (821%),” kata Djoksis, sapaan akrab Djoko Siswanto.
Pekerjaan Workover berupa kerja ulang pindah lapisan di mana kegiatan operasional dimulai pada 24 Oktober 2026. Setelah dilakukan kegiatan perforasi dan run PLT, ungkap mantan Plt. Dirjen Migas ini, tercatat pada 3 November 2026 hasil gas sebesar 11.5 MMSCFD (821%) dari target sebesar 1.4 MMSCFD dari Formasi UA Aa-12 (5055 – 5070 ftMD), UA Aa-11 (5276 – 5358 ftMD), MA Cb-6 (6160-6180 ftMD), MA Cb-1 (6853-6859 ftMD), dan MA Ca-3a (7558-7580 ftMD). Pada saat yang sama, sumur dapat langsung diproduksikan (PoP).
“Secara operasional, sumur ini dikerjakan secara rigless (thru rubing perforation) dengan durasi pekerjaan hingga saat ini selama 12 hari dan akan dilanjutkan R/D equipment hingga besok dari total rencana selama 17 hari (lebih cepat),” papar Djoksis. Estimasi biaya (based on field estimate cost) yang sudah dikeluarkan sebesar USD 100.861 atau setara dengan 68.12% dari rencana anggaran sebesar USD 148.059 (lebih rendah).
Sebagai informasi, tambah Djoksis, sumur NGA‑1 mulai berproduksi pada November 2014 dengan laju awal 22.5 MMSCFD. Sebelum dilakukan workover, sumur dalam kondisi ceased to flow sejak Oktober 2023, dengan produksi terakhir berasal dari lapisan UA Aa‑11 dan UA Aa‑12.
“Peningkatan laju alir produksi ini menjadi bukti eksistensi dan komitmen perusahaan oil and gas lokal tidak kalah dan berhasil menambah produksi gas nasional,” tandas Djoksis.














































































