Jakarta, Energindo.co.id – Indonesia menyimpan 24 juta hektare ekosistem gambut. Jumlah tersebut menyumbang 20% dari total gambut tropis dunia. Lokasinya tersebar terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Sebaran lebih terbatas juga terdapat di beberapa wilayah lain. Demikian diungkapkan oleh Dr. Dony Rachmanadi, S.Hut., M.Si., Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN dalam acara Melodi Media Lounge Discussion bertajuk “Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi Pencegahannya” pada Selasa (6/10/2026) di Jakarta Pusat.
Menurut Dony, lahan gambut sejatinya menjadi berkah bukan kutukan bagi bangsa. Sebab salah satu yang terungkap, misalnya di lahan gambut tumbuh Kantung Semar. “Tanaman ini dapat diolah sebagai obat herbal yang bisa menyembuhkan penyakit,” ujar Dony.
Lebih dari sekadar itu, Dony menjelaskan gambut menyimpan masa depan alam, iklim, dan kehidupan kita. Terdapat enam nilai penting yang terkandung dalam ekosistem gambut. Pertama, sebagai penyimpan karbon raksasa.
“Menyimpan sekitar 57 miliar ton karbon, membantu mengurangi perubahan iklim global,” tuturnya.
Kedua, sebagai pengatur tata air. Dony menyatakan ekosistem gambut menyimpan dan melepas air bertahap: mencegah banjir saat hujan, menjaga air saat kemarau.
Ketiga, sebagai pelindung pesisir. “Ekosistem gambut bisa menahan intrusi air laut, menstabilkan tanah, dan menjaga keseimbangan ekosistem pesisir,” jelasnya. Keempat, sebagai penjaga keanekaragaman hayati.
“Habitat ribuan spesies: orangutan, bekantan, harimau sumatra, rangkong, dan tumbuhan endemik,” ujar Dony.
Kelima, sebagai penyedia penghidupan.
“Hasil hutan bukan kayu (madu, rotan, jelutung, ikan, sagu) bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan,” tandasnya. Sedang keenam ekosistem gambut memiliki nilai budaya dan pengetahuan lokal.
“Bagian dari identitas dan kearifan masyarakat adat yang hidup selaras dengan gambut,” cetusnya.
Seperti diungkapkan bahwa ekosistem gambut berfungsi sebagai pengatur tata air. Dalam sistem tata air, kata Dony, gambut memiliki kemampuan menyimpan dan melepaskan air secara bertahap. Fungsi ini membuat gambut dapat membantu mengurangi risiko banjir ketika curah hujan tinggi sekaligus menjaga ketersediaan air ketika musim kemarau. Namun, fungsi tersebut dapat terganggu ketika gambut dikeringkan secara berlebihan.
“Ketika gambut dikeringkan, gambut berubah menjadi sumber risiko. Muka air tanah turun, gambut mengering, kemudian risiko kebakaran meningkat. Pada saat yang sama, terjadi subsiden dan emisi karbon,” terang Dony.
Dony menjelaskan, kebakaran gambut memiliki dua karakter utama. Pertama, flaming atau api yang membakar di permukaan. Kedua, smouldering atau pembakaran yang berlangsung di dalam lapisan gambut.
Berbeda dengan api permukaan, smouldering berlangsung pada suhu yang lebih rendah tetapi dapat bertahan dalam waktu lama. Api jenis ini juga sulit dideteksi karena dapat menyebar di bawah permukaan gambut. Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut sulit dipadamkan. Panas yang dihasilkan dari proses pembakaran dapat tetap bertahan ketika panas yang dilepaskan ke lingkungan relatif lebih kecil.
“Karena itu, kebakaran gambut adalah masalah hidrologi sebelum menjadi masalah api,” tegas Dony.
Dalam kesempatan yang sama, Julinton Sianturi, S.Pd., M.Si., Ph.D., peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN mengatakan atas dasar hasil penelitiannya diperoleh kesimpulan bahwa singkong APP, lebih efektif untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan gambut. Pasalnya, pati singkong dapat lebih cepat menyerap bara api yang tersimpan di dalam lahan gambut dan mempersempit/ menutup sebaran titik-titik api. Sedangkan air hanya bisa menguap di atas bara api yang mencapai hingga lebih kurang 500 derajat celcius.
Lebih jauh Julinton menguraikan Singkong-APP, formulasi yang berbasis pati singkong, ammonium polyphosphate (APP), alkyl polyglucoside (APG), dan air.
Formulasi tersebut, lanjutnya, dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pemadaman sekaligus menekan pembakaran residual yang dapat terus berlangsung di dalam material gambut. Pada pengujian awal, Singkong-APP membutuhkan sekitar 65 liter formulasi, dibandingkan 120 liter air. Setelah 60 menit pengamatan, tidak ditemukan api maupun asap pada perlakuan Singkong-APP. Sementara itu, pada perlakuan menggunakan air masih ditemukan enam titik api atau asap dan bara api masih ditemukan setelah 12 jam.
“Singkong-APP dirancang tidak hanya untuk pendinginan. Sistem singkong–APP mendorong pembentukan lapisan char yang berfungsi sebagai barrier termal, sehingga dapat menghambat perpindahan panas dan membantu menekan pembakaran lanjutan,” ujar Julinton.









































































