Oleh Zubairi Hasan, Peserta Pelatihan
Zuber, begitu nama panggilannya. Usianya 54 tahun. Setamat kuliah pada 1999, ia sempat menjadi wartawan selama sekitar dua tahun. Salah satu penugasan yang paling membekas adalah ketika ia harus hidup bersama sebuah komunitas yang disebut sebagai komunitas nabi palsu di Cikunir, Bekasi, selama sekitar sepekan. Ia tinggal bersama mereka, mengamati kehidupan sehari-hari, mencatat berbagai penyimpangan yang ditemukan, lalu menuliskannya untuk sebuah tabloid di Jakarta.
Tulisan itu kemudian membawanya ke sejumlah pertemuan dengan intelijen Kejaksaan Negeri dan Kepolisian Republik Indonesia Kabupaten Bekasi. Kehidupan komunitas yang sebelumnya tertutup perlahan menjadi terang. Aparat memiliki gambaran yang lebih utuh untuk menentukan langkah berikutnya: membawa persoalan itu ke ranah hukum atau memilih pendekatan pembinaan.
Tampaknya pilihan kedua menjadi jalan yang ditempuh. Anggota komunitas tersebut masih berjumlah puluhan orang. Mereka pun menyatakan keinginan untuk “bertobat”.
Setiap kali dipanggil untuk “bersaksi dan menjelaskan”, Zuber memperoleh sangu yang lumayan. Jumlahnya berkali-kali lipat dari uang transportasi yang diberikan tabloid tempatnya bekerja. Karena itu, Zuber selalu merahasiakan pertemuan-pertemuan tersebut dengan pihak redaksi. Culas!
Tahun 2001, ia berhenti menjadi wartawan. Waktu berjalan begitu cepat. Sekitar 25 tahun kemudian, tiba-tiba muncul kerinduan untuk kembali menjadi wartawan.
Ia menghubungi sejumlah kolega lama. Gayung bersambut. Ia mendapatkan kartu pers sebagai penulis freelance untuk sebuah media di Jakarta dan sebuah media berbasis di Batam.
Ternyata dunia jurnalistik sudah berubah jauh dibandingkan seperempat abad lalu. Pembedanya bernama AI. Akal imitasi. Artificial Intelligence. Bahkan Donald Trump pernah menggunakan istilah yang lebih tinggi lagi: “Super Intelligence”.
Zuber yang dulu cukup akrab dengan komputer jadul, telepon, kamera dengan roll film, dan tumpukan kertas kini harus berkenalan dengan sesuatu yang jauh lebih asing: mesin yang bisa diajak berpikir bersama.
Untungnya, kesempatan datang dari Alunjiva Indonesia. Zuber berkesempatan mengikuti pelatihan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Program AI for Journalism: Penguatan Jurnalisme melalui Pemanfaatan Kecerdasan Buatan yang Bertanggung Jawab merupakan kolaborasi Alunjiva Indonesia dan Digital Access Programme–British Embassy Jakarta.
Program yang dimulai pada 28 Agustus 2026 itu diikuti 487 jurnalis muda dari berbagai wilayah Indonesia. Materinya mencakup penggunaan AI, jurnalisme data, verifikasi dan fact-checking, etika, privasi, serta tata kelola AI.
Bagi seorang yang kembali ke dunia jurnalistik setelah seperempat abad meninggalkannya, pelatihan itu terasa seperti memasuki ruang kerja yang pernah dikenal, lalu mendapati hampir seluruh perabotnya sudah berganti.
Dalam hitungan detik, AI dapat membantu mentranskripsikan wawancara, merangkum dokumen panjang, mencari pola dalam data, menerjemahkan teks, hingga memberikan sejumlah gagasan untuk sebuah tulisan. Bagi jurnalis yang bekerja dengan tuntutan kecepatan, kemampuan seperti itu tentu menarik.
Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: sejauh mana AI boleh dipercaya?
Di situlah pelatihan ini menjadi penting. Jurnalis diajak mengenal AI sekaligus memahami keterbatasan dan risikonya. Teknologi boleh membantu pekerjaan jurnalistik menjadi lebih cepat, namun verifikasi, etika, dan tanggung jawab kepada pembaca tetap berada di tangan manusia.
Pelatihan itu pula yang membuat Zuber mulai percaya diri kembali terjun ke dunia jurnalistik, meski langkahnya masih tertatih-tatih dan sangat pelan. Alon-alon, yang penting klakon.
Kini, setelah mulai mendalami AI, muncul pikiran lain di kepala Zuber. Rasanya terlalu kecil jika kemampuan AI hanya dimanfaatkan untuk jurnalistik.
Lalu untuk apa? Setiap orang tentu memiliki jawaban masing-masing. Zuber pun sudah mempunyai beberapa gagasan. Hanya saja, untuk sementara, ia memilih menyimpannya rapat-rapat.
Tenang. Jangan khawatir, ia masih akan menggunakan AI secara bertanggung jawab, sesuai pesan para guru di pelatihan Alunjiva Indoensia.
“Untuk hal yang positif. Bukan untuk hal negatif, seperti melahirkan nabi palsu,” kata Zuber kepada dirinya sendiri, sambil tertawa kecil.
Mungkin inilah cara seorang mantan wartawan yang kembali setelah 25 tahun menyambut zaman baru: belajar lagi, berjalan pelan-pelan, dan sesekali menertawakan dirinya sendiri.








































































