Bojonegoro, Energindo.co.id – Keterbatasan ekonomi tidak membuat patah arang. Justru menjadikan seseorang kreatif dan inovatif hingga berhasil membangun Herbasina. Semula jerih usaha herbalnya ditolak mentah-mentah masyarakat karena daun kelor/ nama ilmiah Moringa Oleifera sebagai bahan dasar produknya diselubungi mitos. Pasalnya, ia dipercaya meluruhkan ilmu hitam dan beragam mitos lain. Namun berkat kegigihan Anita Wahyu Deviani, owner Herbasina Nutrindo, yang memproduksi suplemen herbal daun kelor beromzet hingga puluhan juta rupiah per bulan. Tentu kesuksesan Herbasina tidak dibangun dalam tempo semalam. Proses maupun jalan berliku harus dilewati.
Kisahnya
Berawal dari kegiatan belajar-mengajar. Anita sebagai guru di SMKN Kasiman mengampu mata pelajaran Kimia Industri dan Kewirausahaan. Otomatis dituntut menghadirkan produk sebagai media usaha. Setelah timbang sana, timbang sini, pilihan jatuh pada daun kelor. Tanaman kelor murni organik dipilih karena mudah dipelihara. Tanpa pupuk. Cukup mengandalkan siraman air. Tanaman kelor diambil daunnya. Dijadikan serbuk. Dikemas dalam kapsul.
Semula dijual untuk kalangan terbatas. Hanya keluarga dan kerabat. Jumlah produksi 10 botol. “Alhamadullah kok cocok,” kata Anita pada Energindo.co.id yang bertandang ke toko sekaligus rumah produksinya pada Selasa (22/9/2026) di Jl. Waduk Senorejo Desa Ngradin RT 08 RW 03 Kecamatan Padangan Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.
Luas bangunan yang ditempati berukuran lebih kurang 6×4 meter persegi. Beranda depan dijadikan toko dan etalase yang memajang aneka produk kemasan minuman dan olahan makanan serbuk daun kelor. Halaman belakang dibuat tempat pemrosesan dan pegeringan daun menjadi serbuk. Nampak dua orang karyawan, mengenakan pakaian khusus warna kuning dilengkapi masker sibuk menata daun kelor yang sudah dicuci untuk kemudian dimasukkan dalam mesin pengeringan.
Tidak jauh dari ruang produksi, owner Herbasina menyediakan musholla, tempat wudhu dan dilengkapi kamar kecil. Luas musholla lebih kurang 4×3 meter persegi, dilengkapi sajadah, sarung, mukena, hingga kopiah dan kipas angin serta pengharum ruangan. Seusai menunaikan shalat Dhuhur, Energindo.co.id kembali menemui Anita, melanjutkan perbincangan.

Seiring perjalanan waktu, terjadi pandemi Covid-19 pada 2020. Kapsul kelor hasil produksi Herbasina dicari orang untuk ketahanan tubuh. Karena limit produksinya terbatas, crew Herbasina kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Apalagi situasi pandemi mewajibkan lock down. Pemerintah melarang warga keluar rumah. “Akhirnya kita membuat kapsul kelor di rumah,” ungkap Anita, terkenang masa-masa Pandemi Covid-19.
Kendati kapsul daun kelor Herbasina produksi rumahan tetapi perlu memperoleh legalitas dari BPOM. Namun pengurusan perizinannya tidak semudah membalikan telapak tangan. “Biayanya mahal,” aku alumnus SMAN 2 Bojonegoro ini.
Anita tidak menyerah! Ia memutar otak. Tercetus ide membuat minuman dan makanan dari serbuk daun kelor. “Akhirnya kita membuat wedang celup daun kelor dengan kemasan. Setelah mendapat P-IRT (Produk Industri Rumah Tangga) dari Dinas Kesehatan Bojonegoro. PIRT khusus untuk skala minuman dan makanan. Setelah mengantongi P-IRT kita bisa mengurus sertifikasi halal dan brand,” terang ibu dari Ibnu Sina dan (alm.) Nadiem Kamil ini.
Tidak cukup dengan teh celup kelor, Herbasina berinovasi dengan meluncurkan turunannya: coklat kelor, momie kelor, ice cream kelor, dan sempol kelor agar dapat diterima semua kalangan.
Menjaga kualitas
Produk Herbasina mengutamakan kualitas. Caranya? Daun kelor tidak dikeringkan di atas sinar matahari karena nutrisinya dapat berkurang. Daun kelor dikeringkan melalui mesin pengering. Bila belum memiliki mesin pengering daun kelor bisa diangin-anginkan/ dikipas-kipas dengan pengipas.
Herbasina, lanjut Anita, memanen sendiri daun kelor. “Sekali panen sebanyak 10 kg daun kelor basah. Dari 10 kg daun kelor basah bisa menjadi 1 kg serbuk daun kelor,” ujar sulung dari pasangan suami-istri Suranto dan Lasmini. Dalam sebulan bisa mencapai 300 kg, setelah dikeringkan menjadi 30 kg daun kelor kering. Dari daun kelor kering diolah menjadi serbuk. Kemudian serbuk dikreasikan menjadi Wedang Celup Daun Kelor (masa expired hingga setahun), Momie, Mie Goreng Daun Kelor dan Mori Choco (masa kadaluarsa hingga 6 bulan), sempol, dan Ice Cream Daun Kelor.

Penolakan
Mulanya minuman dan olahan makanan dari daun kelor mendapat penolakan keras warga. Pasalnya, mitos daun kelor dipersepsikan sebagai peluruh ilmu hitam segudang mitos lain. Karenanya masyarakat enggan, bahkan menolak mengonsumsinya.
Sebagai alumnus Kimia FMIPA ITS Surabaya, Anita tentu saja tidak begitu saja percaya. Ia berpedoman pada literasi The World Health Organization (WHO) yang menyebut daun kelor sebagai tanaman ajaib mengandung banyak nutrisi dan superfood. “Kan eman kalau daun kelor hanya dijadikan sayur bening dan pakan kambing,” kilah Anita yang kini mengkaryakan lima orang karyawan.
Dikutip dari publikasi National Library of Medicine National Center for Biotechnology Information yang menyebut Moringa oleifera dikenal sebagai “pohon kehidupan” atau “pohon ajaib,” diklasifikasikan sebagai tanaman herbal penting karena manfaat pengobatan dan non-pengobatannya yang sangat besar. Secara tradisional, tanaman ini digunakan untuk mengobati luka, nyeri, tukak lambung, penyakit hati, penyakit jantung, kanker, dan peradangan.
Tinjauan ini bertujuan untuk menyusun analisis penelitian di seluruh dunia, aktivitas farmakologis, fitokimia, toksikologi, dan pembaruan etnomedisinal Moringa oleifera, serta memberikan wawasan tentang aplikasi komersial dan fitofarmasinya dengan tujuan untuk membantu penelitian lebih lanjut.
Informasi ilmiah tentang tanaman ini diperoleh dari berbagai situs dan mesin pencari seperti Scopus, PubMed, Science Direct, BMC, Google Scholar, dan basis data ilmiah lainnya. Hanya artikel yang tersedia dalam bahasa Inggris yang dirujuk untuk tinjauan ini.
Studi farmakologis mengkonfirmasi potensi hepatoprotektif, kardioprotektif, dan anti-inflamasi dari ekstrak berbagai bagian tanaman. Ditemukan bahwa konstituen bioaktif terdapat di setiap bagian tanaman.
Sejauh ini, lebih dari seratus senyawa dari berbagai bagian Moringa oleifera telah dikarakterisasi, termasuk alkaloid, flavonoid, antrakuinon, vitamin, glikosida, dan terpen.
Selain itu, isolat baru seperti muramoside A&B dan niazimin A&B telah diidentifikasi dalam tanaman ini dan memiliki efek antioksidan, antikanker, antihipertensi, hepatoprotektif, dan nutrisi yang kuat.
Penggunaan tradisional dan non-tradisional Moringa, efek farmakologisnya dan formulasi fitofarmasinya, studi klinis, profil toksisitas, dan berbagai penggunaan lainnya dibahas dalam tinjauan ini. Namun, beberapa penggunaan tradisional masih perlu dieksplorasi secara ilmiah. Oleh karena itu, studi lebih lanjut diusulkan untuk mengeksplorasi pendekatan mekanistik tanaman ini untuk mengidentifikasi dan mengisolasi senyawa aktif atau sinergis di balik potensi terapeutiknya. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/ articles/PMC9916933/
Bila mencermati hal tersebut, masuk akal bila Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menginginkan agar daun kelor dapat ngimbangin seperti ginsengnya Korea. “Daun kelor dibikin penelitian yang serius untuk masuk dunia internasional,” kata Budi dikutip dari situs resmi Kemenkes.
Menurut Budi tumbuhan kelor memiliki daun, biji, dan akar yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Selain itu, daun kelor kaya akan nutrisi, seperti protein, vitamin A, vitamin C, kalsium, dan zat besi.
Khasiat yang dimiliki kelor, lanjut Budi, membuat daun kelor sering digunakan sebagai bahan makanan atau suplemen nutrisi untuk membantu mencegah atau mengatasi berbagai penyakit.
Kendati daun kelor memiliki manfaat segudang, tetapi tetap saja penuh resiko. Istri Tauviq (Guru SDN Padangan III Bojonegoro) ini mengutarakan tantangan terbesar terletak di sektor pemasaran dan bahan baku. Pada musim kemarau, bahan baku daun kelor agak sulit diperoleh.
“Kalau musim penghujan, sebulan sekali pasti panen. “Tanaman Kelor tidak perlu pupuk. Hanya butuh air. Perawatannya tidak rumit. Kelor tanaman yang benar-benar organik. Tidak ada orang yang ngasih pupuk ke tanaman kelor,” ungkap Anita sembari menjelaskanya filosofi Herbasina yang berasal dari dua kata “Herbal” dan “Sina”. Herbal berarti yang berkaitan dengan tanaman. Sedang Sina, nama putri sulung Anita. Secara kebetulan kelahirannya di RS Ibnu Sina Bojonegoro.

Jiwa kewirausahaan
Anita dilahirkan di tengah keluarga sederhana. “Mohon maaf, saya anak tukang becak,” tutur Anita. “Mungkin karena saya kepepet, saya bisa seperti sekarang,” ungkap Anita.
Walau dibesarkan dalam situasi demikian tidak membuat dia minder. Ayah tercintanya selalu membesarkan jiwanya, dengan pesan; “Pokoke Bapak gak kepengin rumah apik, gak pengin opo. Pengenne anak sekolah semu,” kenang Anita, kedua bola matanya berkaca-kaca.
Oleh sang ayah, dirinya diwanti-wanti untuk tidak segera menikah walau telah menyandang gelar sarjana. “Bapak pengen saya bantu-bantu adik agar bisa kuliah semua,” ujarnya, suaranya terdengar pelan.
Kontribusi PEPC Zona 12
“Luar biasa!, cetus perempuan yang pernah bekerja di bagian packaging PT Sinantar Top Sidoarjo, perusahaan snack. Begitu dibina JTB, pemasaran merangkak naik. “Peningkatannya 100% per tahun. Awalnya omzet hanya 20%, 30% hingga 50%. Saat ini omzetnya mencapai puluhan juta rupiah per bulan,” tandasnya. Tatkala PEPC Zona 12 mengadakan event pameran, Herbasina diundang dan difasilitasi. Bahkan dilatih dan didaftarkan mengikuti UMK Academy.
Pada awal Oktober 2026 diikutsertakan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.
“Gak kebayang saya bisa ikut TEI 2026! Kok bisa ya?” cetus Anita, keheranan seraya menggaruk-garukan kepalanya.
Ungkapan Anita diamini oleh Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP Cepu Zona 12, Weanny Hikmat. Menurutnya capaian Herbasina, lolos sebagai peserta di TEI 2026. “Ia UMKM binaan sejak 2024,” kata Weanny, menutup pembicaraannya.




































































