In Memoriam Raja Harald V: “Ketika Kebijaksanaan Tidak Memerlukan Kemegahan”
Norwegia merasakan suasana duka. Pada Jumat, 28 Agustus 2026, Raja Harald V berpulang dengan tenang di Oslo University Hospital pada usia 89 tahun.
la tidak hanya meninggalkan keluarga kerajaan, tetapi juga sebuah bangsa yang selama lebih dari tiga dekade menjadikannya simbol persatuan, perdamaian, ketenangan, kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan.
Dilaporkan Aftenposten, surat kabar terkemuka Norwegia (28/8/2026), ribuan warga beruduyun-duyun mendatangani halaman Istana di Oslo sembari membawa bunga sebagai ungkapan kesedihan atas kepergian sang raja yang bersahaja.
Saat prosesi pemakaman pun, Rabu (9/9/2026) lalu, ribuan warga ikut memberikan penghormatan terakhir kepada raja.
Kepergian Raja Harald menarik perhatian dunia bukan semata-mata karena ia adalah seorang raja. la seorang raja yang dicintai rakyatnya karena pengabdian hidupnya didedikasikan semua untuk Norwegia-“Alt for Norge”.
Harald V naik takhta pada tahun 1991, menggantikan ayahnya, Raja Olav V. Selama lebih dari tiga puluh lima tahun, ia menjalankan peran sebagai kepala negara konstitusional dalam sebuah demokrasi parlementer.
Moto Kerajaan ‘Alt for Norge yang diwariskan dari ayah dan kakeknya, ia pertahankan sebagai semboyan pengabdiannya untuk kemakmuran Norwegia dan kesejahteraan warganya.
Ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar mahkota: cara raja Harald menjalankan kekuasaan hingga Norwegia mencapai kemakmurannya.
Norwegia adalah salah satu negara makmur di dunia. Kekayaan minyak dan gas, tata kelola pemerintahan yang relatif kuat, sistem kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan, serta budaya demokrasi telah menjadikan negeri Skandinavia ini sebagai salah satu contoh-pembelajaran keberhasilan pembangunan modern.
Dalam pemeringkatan skor Indeks Kemakmuran atau Prosperity Index 2026, dari 171 negara di seluruh dunia, Norwegia dinilai paling makmur berada di urutan pertama.
Penilaian Prosperity Index 2026 mencakup kesejahteraan individu (warganya), pendapatan, pendidikan, dan kesehatan.
Menariknya, kemakmuran Norwegia tidak selalu ditampilkan melalui kemewahan. Demikian pula dengan rajanya.
Peran Raja bagi keberhasilan pembangunan Norwegia sangat penting, karena titah dan kebijaksanaannya menjadi landasan kebijakan pemerintah Norwegia.
Raja yang Tidak Berjarak dengan Rakyatnya
Raja Harald dikenal sebagai sosok yang relatif sederhana, hangat, dan dekat dengan masyarakat. la tidak berusaha menjadikan kerajaan sebagai panggung kemegahan pribadi. Justru dalam kesederhanaan itulah wibawanya tumbuh.
Norwegia sebagai negara yang makmur tetap menjunjung tinggi kesederhanaan, serta keteladanan Raja Harald V sebagai pemimpin yang bijaksana dan selalu dekat dengan rakyatnya.
Dalam sistem politik Norwegia, raja memang tidak memegang kekuasaan pemerintahan sehari-hari. Tetapi posisi simboliknya sangat penting.
Di sinilah kebijaksanaan Harald terlihat. la memahami bahwa dalam negara demokratis, seorang raja tidak harus menjadi penguasa yang dominan. Raja justru dapat menjadi penjaga persatuan, simbol kesinambungan, dan figur yang berdiri di atas kepentingan politik sehari-hari.
Ketika Norwegia mengalami tragedi bom Oslo dan teror Anders Behring Breivik di pulau Utøya pada 22 Juli 2011, Raja Harald menunjukkan wajah kerajaan yang berbeda. la berbicara mengenai pentingnya keterbukaan, demokrasi, dan kehidupan bersama dalam masyarakat yang plural.
Dalam masa sulit, ia hadir sebagai figur yang berusaha merangkul, bukan memecah.
Barangkali inilah salah satu pelajaran terpenting dari kepemimpinannya: semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk merendahkan hati.
Saat penulis meliput persidangan Anders Behring Breivik di Gedung Pengadilan (Tinghus) Oslo, 2012 lalu, seorang imigran asal Pakistan yang berjualan di dekat Gedung Pengadilan memiliki kesan sangat hormat kepada raja Harald.
Menurutnya, ia sangat sederhana, bijaksana, adil dan menghargai perbedaan, termasuk menghargai para imigran.
Norwegia memberi pelajaran menarik kepada dunia. Sebuah negara memiliki sumber daya alam yang sangat besar, tetapi tetap membangun budaya sosial yang menekankan kesetaraan dan tanggung jawab bersama.
Hasil kekayaan alamnya (gas dan minyak) dialokasikan untuk pembangunan negara dan kesejahteraan warganya.
Negara yang memiliki minyak, gas, mineral, atau hasil hutan dapat mengalami korupsi, ketimpangan, konflik kepentingan, bahkan ketergantungan ekonomi jika kekayaan tersebut tidak dikelola dengan baik.
Norwegia memilih jalan yang berbeda. Negara tersebut membangun mekanisme pengelolaan kekayaan minyak untuk kepentingan jangka panjang.
Sebagian besar pendapatan dari sektor minyak tidak dihabiskan sekaligus, tetapi ditempatkan dalam dana kekayaan negara yang kemudian dikenal sebagai Government Pension Fund Global.
Norwegia mempertahankan kebijakan tarif pajak 78% bagi Perusahaan minyak yang melakukan eksplorasi di negaranya. Dalam hal ini, negara lebih diuntungkan daripada korporasi.
Pendapatan besar yang dihasilkan dari pajak tersebut ditabung ke Dana Kekayaan Negara “Statens Pensjonsfond” (Sovereign Wealth Fund) yang dikelola negara.
Aset yang dikelola kini mencapai 2.2 triliun US Dolar. Artinya, setiap warga negara Norwegia (5.5 juta jiwa lebih) berhak mendapat klaim sebesar 364.000. US Dolar.
Disinyalir, belum pernah ada negara dalam sejarah yang mampu mengakumulasi kekayaan seperti Norwegia dan berhasil menghindari dampak negatif misalnya pelanggaran korupsi. (statisticsoftheworld.com/30/5/2026).
Dalam konteks inilah sosok Raja Harald menjadi menarik, karena semboyan ” Alt For Norge” diterjemahkan dalam kebijakan nyata, termasuk dalam menjaga kekayaan negara untuk kemakmuran warga negara.
Kekayaan negara tidak semata-mata dipandang sebagai milik mereka yang sedang berkuasa, tetapi sebagai amanah yang harus memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
la hidup dalam lingkungan kerajaan, tetapi tidak menjadikan kehidupan kerajaan sebagai jarak yang tak terjangkau oleh rakyatnya.
Setiap tanggal 17 Mei, Norwegia memperingati hari lahirnya Konstiusi. Warga Norwegia dari berbagai wilayah merayakannya dengan suasana senang dan gembira.
Raja Harald dan keluarga berada di atas Balkon Istana sembari melambaikan tangan kepada warganya yang melakukan pawai di halaman Istana. la dikenal menyukai kehidupan di alam terbuka dan kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Norwegia.
Norwegia seakan mengajarkan bahwa kemakmuran tidak identik dengan kemewahan, dan kewibawaan tidak selalu membutuhkan jarak.
Bijaksana sebagai Seorang Raja
Raja Harald V memahami posisi simboliknya. la tidak harus menjadi orang paling berkuasa untuk menjadi orang yang dihormati. la dikenal sebagai raja yang tidak gemar membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Dalam monarki konstitusional seperti Norwegia, peran seorang raja justru sering kali berada pada wilayah yang lebih subtil: mendengarkan, memberi keteladanan, menjaga tradisi, dan menjadi simbol persatuan ketika masyarakat menghadapi perbedaan.
Itulah mengapa kehilangan seorang raja seperti Harald bukan hanya soal pergantian kepala negara. Ia merupakan sebuah karakter kepemimpinan-bersahaja yang ditiru para menterinya.
Kepemimpinan yang memahami bahwa negara bukan milik penguasa dan rakyat bukan objek kekuasaan.
Kepergian Harald V juga menjadi momentum untuk melihat kembali apa yang membuat Norwegia berbeda. Harald V meninggalkan takhta dalam kesunyian tanpa pertunjukan kekuasaan yang berlebihan.
Norwegia bukan negara yang sempurna. la juga menghadapi persoalan sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan. Tetapi pengalaman negara itu menunjukkan bahwa kemakmuran dapat berjalan berdampingan dengan demokrasi, kesederhanaan, dan kepedulian sosial.
Dalam setiap penyerahan Hadian Nobel Perdamaian (Nobel Peace Prize) yang berlangsung setiap tanggal 10 Desember, Raja Harald selalu hadir bersama keluarga di City Hall Oslo. Kehadirannya ditunjukkan dengan aura yang berwibawa dan sikapnya yang bijaksana.
Pengabdian yang telah diberikan dengah sahaja selama puluhan tahun, dikenang bukan hanya karena mahkota yang pernah ia kenakan, tetapi karena ketenangan, kesederhanaan, dan kebijaksanaan yang ia wariskan.
Berdasarkan konstitusi Norwegia, mahkota Norwegia kini beralih kepada putranya, Haakon Magnus (53 tahun) atau Haakon VIII. la menggunakan nama Haakon VIII untuk menghormati kakek buyutnya yaitu Raja Haakon VII.
Harald telah pergi. Tetapi sebuah teladan tetap ditinggalkannya: bahwa menjadi besar tidak harus terlihat megah; bahwa menjadi raja tidak harus bermewah-mewahan menciptakan jarak, berjauhan dengan rakyat kebanyakan.
Kesederhanaan dan kebijaksanaan sang raja, akan membekas dalam memori warga Norwegia yang makmur dan sejahtera itu.
Selamat jalan, Raja Harald V





































































