Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Angin bertiup pelan. Daun-daun nyaris tak bergerak. Ratusan pasang mata menatap ke satu titik. Suasana begitu hening hingga suara napas para penonton nyaris terdengar. Di tengah arena, Syaiful Umam (16 tahun) berlutut. Di depannya tersusun dua lembar selkon. Perlahan ia menundukkan kepala, mengatur napas. Lalu dalam hitungan detik:
Brak!
Debu putih silika beterbangan. Dua lembar selkon itu pecah menjadi empat bagian. Tepuk tangan langsung membahana. Sorak-sorai memenuhi halaman Pondok Pesantren Mahasina, Kota Bekasi, pada Demo Kegiatan untuk Santri Baru akhir Juli 2026.

Persiapan: adu kepala dengan selkon

Debu Silika: Selkon pun ambruk berkeping-keping
Berawal dari JAPFA for Kids
Umam, demikian akrab dipanggil, merupakan salah satu santri yang hobi makan telur. Hampir tidak pernah melewatkan dua butir telur rebus setiap hari. “Bagi saya, telur sudah seperti makanan wajib,” ujarnya sambil tersenyum.
Kecintaan Umam pada telur bermula ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar di Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal. Saat itu, Umam menjadi salah satu anak yang mengikuti program JAPFA for Kids, sebuah program tanggung jawab sosial JAPFA yang berfokus pada peningkatan gizi, kesehatan, dan perubahan perilaku hidup sehat anak-anak sekolah dasar.
Bagi Umam kecil, bunyi bel sekolah selalu diikuti aroma telur rebus yang dibagikan dalam program One Day One Egg. Ia kecipratan telur gratis itu karena sekolahnya tepilih menjadi salah satu sekolah dasar yang berhak mengikuti JAPFA for Kids.
Program itu, salah satunya, berupaya membangun kebiasaan agar pelajar suka makan telur.Anak-anak dikenalkan bahwa telur bukan makanan mewah, melainkan sumber protein berkualitas yang seharusnya hadir setiap hari di meja makan keluarga.
Di Kabupaten Tegal sendiri, program ini terus berkembang. Pada 2025, JAPFA for Kids menjangkau 32 sekolah dasar di Kecamatan Margasari. Sebanyak 19 sekolah menjadi lokasi intervensi gizi bagi sekitar 170 siswa yang terindikasi mengalami malnutrisi.
Kebiasaan yang Terbawa Hingga Pesantren
Empat tahun kemudian, ketika keluarganya pindah ke Pondok Melati, Kota Bekasi, kebiasaan makan telur terus berjalan. Kini, meski tinggal di asrama, Umam tetap mengonsumsi sedikitnya dua butir telur rebus setiap hari.
Baginya, telur telah menjadi bagian dari gaya hidup. Hasilnya tampak nyata. Selain aktif berlatih pencak silat dan meraih kemenangan dalam lomba tingkat Kota Bekasi, Umam juga dikenal sebagai santri berprestasi. Ia telah menghafal tiga juz Al-Qur’an dan sekitar 200 hadis.
Prestasi itu tentu karena kedisiplinan, latihan fisik, lingkungan pendidikan, ketekunan, dan tentu saja dukungan gizi dari telur.
Dalam dunia gizi, telur sering disebut sebagai salah satu sumber protein paling lengkap. Satu butir telur mengandung seluruh asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Telur juga kaya kolin yang berperan penting bagi perkembangan otak dan sistem saraf, vitamin A untuk kesehatan mata, vitamin D untuk tulang, vitamin B12, selenium, riboflavin, serta lutein dan zeaxanthin yang membantu menjaga fungsi penglihatan. Protein berkualitas tinggi membantu pembentukan dan pemeliharaan massa otot, sementara kandungan gizinya mendukung proses belajar, konsentrasi, dan tumbuh kembang anak.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga menyatakan bahwa bagi sebagian besar orang sehat, konsumsi 1–2 butir telur setiap hari aman sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Indonesia dan Tantangan Konsumsi Telur
Konsumsi telur masyarakat Indonesia sebenarnya terus meningkat. Rata-rata masyarakat Indonesia kini mengonsumsi sekitar 20,9 kilogram telur per orang per tahun, atau setara sekitar 330–350 butir per tahun—hampir satu butir setiap hari. Angka ini sudah cukup baik dan mendekati pola konsumsi yang dianjurkan sebagai bagian dari diet seimbang.
Namun tantangan masih ada. Masih terdapat kesenjangan antarwilayah dan kelompok ekonomi yang menyebabkan sebagian anak belum mengonsumsi telur secara rutin. Di sinilah peran berbagai pihak menjadi penting. Sebagai salah satu perusahaan agrifood terbesar di Indonesia, JAPFA memiliki kontribusi penting dalam memperkuat ketersediaan protein hewani nasional.
Melalui sistem produksi yang terintegrasi—mulai dari pembibitan, produksi pakan, peternakan, hingga distribusi—JAPFA membantu menciptakan efisiensi sehingga pasokan telur tetap terjaga dan harga menjadi lebih kompetitif.
Perusahaan juga membangun kemitraan dengan peternak, menyediakan bibit, pakan, pendampingan teknis, biosekuriti, serta akses pasar. Model ini membantu meningkatkan produktivitas peternak sekaligus memperkuat pasokan telur nasional.
Namun JAPFA menyadari bahwa selain pasokan yang banyak, harus ada upaya anak-anak menyukai telur. Mereka harus memahami bahwa telur bukan sekadar lauk, melainkan sumber energi, kecerdasan, dan masa depan. Karena itulah lahir JAPFA for Kids.
Kebiasaan Sebagai Investasi
Ketika tepuk tangan menggema setelah kepala Umam memecahkan dua lembar selkon, orang mungkin hanya melihat kekuatan seorang pesilat muda. Padahal kekuatan itu dibangun bertahun-tahun, sejak seorang anak SD di Margasari dibiasakan makan satu butir telur setiap hari. Dari kebiasaan sederhana itulah lahir tubuh yang lebih kuat, pikiran yang lebih siap belajar, dan mimpi yang terus bertumbuh.










































































