Jakarta, Energindo.co.id – Penguasaan dan pengelolaan ladang minyak oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) ternyata tidak hanya dilakukan di Venezuela dengan modus penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. Pemerintah AS juga telah menguasai sumur-sumur minyak yang berada di Timur Tengah dan Iraq. Bahkan, negara-negara penghasil minyak, termasuk Indonesia, berpotensi diVenezuelakan oleh AS. Demikian diungkapkan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Fahmy Radhi.
“AS sudah melakukan penguasaan ladang minyak di Timur Tengah. Modus yang dilakukan di Venezuela sebelumnya dilakukan di Iraq,” kata Fahmy pada Energindo, Senin (5/1/2026). Pemerintah AS mengontrol langsung minyak Iraq dan Venezuela.
“Kalau China sebagai pembeli minyak terbesar dari Venezuela bertindak secara militer, potensi harga minyak akan meningkat. Kalau eskalasi perang meluas, harga minyak dunia akan naik hingga di atas $ 100 per barrel,” terang Fahmy.
Menurut Fahmy, AS dan Rusia tidak menghendaki harga minyak dunia di atas $ 100 per barrel karena merugikan industri kedua negara. Pada saat itulah, lanjut Fahmy, AS akan membuka perundingan dengan China dan Rusia.
Tidak hanya akademisi, Pemerintah Indonesia pun, melalui Kementerian Luar Negeri, merespons dinamika yang melibatkan AS dan Venezuela.
Menurut Kemlu RI, Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan, yang berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional serta dapat mengganggu stabilitas dan perdamaian kawasan, serta melemahkan prinsip kedaulatan dan diplomasi.
“Penting bagi komunitas internasional untuk menghormati hak dan kehendak rakyat Venezuela dalam menjalankan kedaulatan mereka serta menentukan sendiri arah dan masa depan bangsa mereka,” tulis @Kemlu_RI.
Lebih lanjut, Kemlu RI menyatakan, Indonesia menyerukan kepada semua pihak agar mengedepankan dialog dan menahan diri, serta mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB dan hukum humaniter internasional, khususnya perlindungan terhadap warga sipil, yang keselamatan dan kondisinya harus tetap menjadi prioritas utama.
Jamak diketahui, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS akan mengelola dan menjual minyak Venezuela untuk membiayai operasional negara tersebut.
Trump mengklaim rencana itu dilakukan karena AS akan mengeluarkan biaya apa pun untuk mengelola Venezuela.
Rencana tersebut disampaikan Trump setelah pasukan elite AS menangkap Maduro dan istrinya dalam sebuah operasi militer pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.
Sebagai catatan, Venezuela negara kaya minyak mentah. Organisasi Negara-negara Penghasil Minyak (OPEC) mendata, Venezuela adalah pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Jumlahnya adalah seperlima minyak di Bumi atau 330 miliar barel.














































































