Jakarta, Energindo.co.id – Upaya untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat sekitar operasi migas terus dilakukan oleh Kangean Energy Indonesia Ltd. (KEI) bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Pada tahun 2025, KEI lewat Program Pengembangan Masyarakat (PPM) mensupport makanan tambahan berbasis lokal kepada 20 anak balita (bayi dibawah lima tahun) selama 120 hari. Program ini dinamakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bergizi dengan kandungan lokal.
“Alhamdulilah, KEI memberikan makanan tambahan berbasis lokal pada balita stunting,” kata Yuliani, bidan di Puskesmas Desa Pagerungan Besar Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep. Lokasi Puskesmas terletak di Jalan Raya Pendidikan No. 11 Pagerungan Besar.
Puskesmas ini baru rampung direnovasi beberapa tahun lalu. Statusnya dulu Puskemas Pembantu (Pustu). Bangunannya masih terlihat baru. Tidak hanya Puskesmas, rumah dinas dokter yang ditugaskan di Puskesmas ini juga dalam tahap perampungan.
Lebih jauh Bidan Yuli mengutarakan, sejak Januari hingga April 2026 ditemukan terdapat 6 balita stunting. Karena itu, pihaknya bersama Puskesmas dan tenaga kesehatan setempat melakukan inovasi seperti mengunjungi balita stunting ke rumah mereka masing-masing. “Kita sambangi dari door to door,”kata Yuli, sapaan akrab Yuliani pada Energindo.co.id Selasa (26/5/2026).
Dia menambahkan, untuk tahun 2026 ini belum ada support dari KEI untuk bidang Kesehatan warga, khususnya balita stunting.
Program tersebut diperuntukan kepada 20 anak yang teridentifikasi mengalami stunting. Mereka akan mendapatkan pendampingan intensif selama 120 hari dengan pemberian makanan tambahan (PMT) bergizi.
“Dalam pendampingan tersebut, anak-anak akan mendapat makanan tambahan dari kader posyandu yang sudah kami latih. Harapannya, gizi mereka bisa meningkat secara signifikan,” kata Yuli, yang sehari-hari menjadi Bidan Koordinator di Puskesmas Pagerungan Besar sekaligus sebagai pendamping stunting pada balita.
Yuli mengutarakan terdapat 20 kader Posyandu yang terlibat langsung sebagai tim pendamping. Mereka didukung oleh tenaga profesional, yakni satu bidan Puskesmas dan seorang penanggung jawab gizi dari Puskesmas Pagerungan Besar.
“Sepanjang pendampingan 120 hari dilaksanakan setiap hari dan giat posyandu 1 minggu sekali, nantinya akan kami cek berat badan, tinggi badan, dan menilai perkembangan status gizi anak,” lanjutnya.
Pihaknya, tambah Yuli, tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada SKK Migas-KEI, karena selalu melibatkan diri dalam kegiatan kesehatan masyarakat di Pagerungan Besar.
“Atas support SKK Migas-KEI untuk penanganan stunting ini kami menyampaikan terima kasih. Semoga kedepan, masyarakat menjadi lebih sehat dari sisi perkembangan gizi dan menjadi anak yang bermanfaat,” paparnya.
Sementara pihak KEI menegaskan, program yang dilaksanakannya tidak hanya fokus pada penanganan 20 anak stunting, tetapi juga menekankan upaya pencegahan. “Kami berharap kader Posyandu terus aktif melaksanakan kegiatan rutin. Pencegahan stunting sama pentingnya dengan penanganan, agar ke depan kasus serupa bisa ditekan sejak dini,” kata Ahmad Baidowi, Comdev Officer KEI.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan program ini dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak di Pagerungan Besar, sekaligus mempercepat pencapaian target penurunan stunting di Kabupaten Sumenep.
Stunting, tinjauan medis
Sebagai catatan, stunting dikenal sebagai pertumbuhan terhambat, adalah kondisi medis yang menandakan kurangnya pertumbuhan fisik dan perkembangan anak secara normal. Kondisi ini menjadi fokus perhatian global karena dampak jangka panjangnya pada kesehatan dan kemampuan anak-anak untuk mencapai potensi penuh mereka.
Stunting adalah kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Sederhananya, stunting merupakan sebutan bagi gangguan pertumbuhan pada anak. Penyebab utama dari stunting adalah kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan anak. Banyak yang tidak menyadari bahwa tinggi pendeknya anak bisa menjadi tanda adanya masalah gizi kronis.
Perlu diingat bahwa anak pendek belum tentu mengalami stunting. Namun anak yang mengidap stunting pasti berperawakan pendek. Anak dengan asupan gizi terbatas sejak kecil dan telah berlangsung lama berisiko mengalami pertumbuhan yang terhambat.
Stunting merupakan masalah kesehatan yang sudah ada sejak lama, seperti gizi buruk, terserang infeksi berkali-kali, kelahiran premature, dan berat badan lahir rendah. Namun, kekurangan gizi menjadi penyebab yang paling banyak.
WHO menyatakan bahwa sekitar 20% kasus stunting terjadi sejak anak berada dalam kandungan. Hal ini dapat terjadi karena makanan yang dikonsumsi ibu hamil kurang bergizi sehingga janin tidak mendapatkan cukup nutrisi. Akibatnya, pertumbuhan janin dalam kandungan mulai mengalami hambatan dan terus berlangsung hingga setelah lahiran.












































































