“Kaum pergerakan harus mengubah strategi perjuangannya, tanpa harus meninggalkan substansi ajaran Bung Karno,” demikian ungkap Wakil Ketua MPR-RI, Ir. Bambang Wuryanto, dalam diskusi menjelang Konferensi Daerah V Persatuan Alumni Gerakan Mahasisna Nasional Indonesia (PA-GMNI) Jakarta Raya, di Jakarta, Sabtu, 6/12/2025.
Selanjutnya, tokoh kaum marhaen yang akrab dipanggil Bung Pacul ini menjelaskan bahwa perubahan di Indonesia dari Presiden Soekarno ke Rezim Soeharto tidak lepas dari pengaruh kapitalisme global. Terbukti, setelah peralihan itu, Pemerintah Indonesia langsung membagi-bagi konsesi kepada kaum kapitalis barat, mulai dari tambang dan hutan di Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan Sumatera. “PT Freeport lahir pada masa-masa ini,” ungkapnya penuh prihatin.
Namun untuk melawan kapitalisme bukan pekerjaan mudah dan singkat. Dibutuhkan strategi baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. “Tanpa perubahan strategi, maka rakyat kecil akan selalu menderita di bawah penindasan kapitalisme dan kaum kapitalis,” ungkapnya penuh semangat.
Menurut politisi dari PDI-Perjuangan ini, konfigurasi sosial masyarakat saat ini telah menempatkan kaum kapitalis sebagai komponen paling berpengaruh, baik di Indonesia maupun di dunia internasional. Di bawahnya ada kaum politisi yang memegang jabatan tertentu karena faktor politis. Di bawah kaum politisi ada birokrat yang memegang jabatan di pemerintahan, baik jabatan sipil, kepolisian, maupun kemiliteran. Di bawahnya lagi ada kaum profesional yang memperoleh penghasilan dengan “menjual” waktu dan keahlian. Di bawahnya lagi ada karyawan yang “menjual” waktu dan tenaganya untuk mendapatkan penghasilan. Masuk dalam barisan ini adalah kaum buruh dan kaum tani yang tidak mempunyai tanah sendiri. Di bawahnya lagi ada kaum lumpen yaitu kaum fakir miskin dan anak terlantar yang menurut UUD 1945 harus dipelihara oleh negara.
Bung Pacul menegaskan bahwa kaum marhaen yang ingin memperjuangkan nasib rakyat yang berada di bawah, terutama kaum lumpen, buruh, tani, dan karyawan adalah ia harus mandiri secara ekonomi terlebih dahulu. “Jangan berpikir melawan kapitalisme yang menggurita jika seorang aktivis masih tidak mampu berdikari secara ekonomi,” ungkap politisi yang lahir pada tahun 1956 ini.
Menurut catatan jurnalis www.energindo.co.id , dalam soal marhaenisme dan kapitalisme ada pertanyaan menarik: apakah seorang marhaen bisa menjadi seorang kapitalis? Dalam bahasa lain, ketika seorang marhaen menjadi kapitalis, apakah ia tidak akan melupakan nilai-nilai marhaenismenya?
Penelitian seorang Indonesianis dari Jepang,Takashi Shiraishi, dalam bukunya An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926 menyimpulkan bahwa di Solo di masa itu kita tidak bisa melihat seseorang dari organisasi politik semata. Simpatisan Partai Sosialis tidak bisa disebut sebagai seorang sosialis yang anti kapitalis. Begitu juga pendukung Partai Komunis tidak bisa disebut sebagai komunis yang pasti anti Islam. Takashi mengisahkan bahwa di Solo di masa itu muncul kisah unik seperti Haji Misbach yang menjadi komunis di satu sisi, namun pada saat bersamaan menjadi muslim yang taat. Haji Misbach kira-kira berpendapat: “Saya menjadi komunis sejati karena saya seorang Islamis yang taat. Seorang tidak bisa menjadi muslim yang baik, tanpa menjadi seorang komunis.”
Dalam tradisi Islam, banyak sahabat Nabi Muhammad yang kaya raya, namun tetap merakyat dan membela kaum miskin. Masuk dalam golongan ini adalah sahabat Nabi Abu Bakar, Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan lain sebagainya.
Dengan ilustrasi di atas, dan berkaca pada kisah Haji Misbach di Solo di tahun 1920-an, seharusnya mudah bagi kaum marhaen untuk menjadi kaum kapitalis, tanpa harus melupakan nilai marhaenismenya. Jika dibalik, tidak ada masalah bagi kaum kapitalis yang lahir dari kaum marhaen untuk tetap menjadi seorang kapitalis, tanpa meninggalkan perjuangan marhaenismenya.
Betulkah begitu? Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang paling tahu jawabannya…..!














































































