Oleh Zubairi Hasan, Jurnalis www.energindo.co.id
Senin, 8 Juni 2026, Jam 06.18 WIB, matahari belum bersinar cerah, Subur (63 tahun) sudah bergulat di antara tumpukan sampah, mengayunkan pengait besinya di antara bekas botol dan gelas plastik yang berserakan di TPST Bantargebang. Aroma menyengat masih menyelinap kuat di antara masker penutup mulut dan hidung. Ia tak peduli. Demi keluarga, ia sudah mengikhlaskan jiwa raganya.
Sekitar 15 kilometer dari Bantargebang, di kawasan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA 13), seorang remaja bernama Jumaroh sedang sibuk membaca soal-soal ujian dan menjawabnya dengan cermat. Sebanyak 40 soal pilihan ganda dan 10 soal dalam bentuk esai berusaha dijawab dengan benar. Jumaroh sedang mengikuti ujian akhir tahun (UAS) di SRMA 13 Kota Bekasi.

SRMA 13 berada di Jl. HM Joyomartono 19, Kec. Bekasi Timur. Menempati lahan seluas 15 ribu meter persegi, kawasan ini dilengkapi asrama putra dan putri yang terpisah, ruang makan, tempat ibadah, sarana olah raga, perpustakaan, ruang kelas, dan tentu saja taman yang asri. Pohon mangga yang rimbun menghiasi salah satu tamannya.
SRMA 13 ditandai dengan pintu gerbang besar, di sisi kanan bagian tengah ada tulisan besar berwarna perak menyala “Sekolah Rakyat”. Persis di seberang pintu gerbang itu, Presiden Prabowo melalui sebuah spanduk yang berjuntai karena satu tali pengikatnya lepas berpetuah: “Harapan bukan kenangan masa lalu, tapi harus disiapkan untuk masa depan.”
Subur di Bantargebang menyimpan satu mimpi yang tak pernah berani ia ucapkan keras-keras karena hanya seperti kilatan fatamorgana, tak bisa disentuh. Ia ingin melihat putrinya Jumaroh bersekolah dengan layak, lalu kuliah dengan beasiswa. Tujuannya jelas agar hidupnya tidak seperti bapak-ibunya yang setiap hari harus mencari nafkah di antara tumpukan sampah.
Kini, mimpi itu mulai menemukan titik terang, karena Jumaroh bisa menempuh pendidikan di sekolah rakyat, tepatnya di SRMA 13 Kota Bekasi.
Di bumi Nusantara, ada ribuan kisah serupa. Ada sekitar 42 ribu anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus agar bersekolah, karena mereka ditakdirkan lahir dari keluarga yang sangat tidak mampu. Itu menurut Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dimiliki Kementerian Sosial.
Maka ketika Sekolah Rakyat berdiri, keluarga-keluarga seperti Subur mulai melihat kemungkinan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan.
SRMA 13 Kota Bekasi
Sejak Tahun Ajaran 2025, SRMA 13 Bekasi telah menampung 180 siswa, 7 di antara mereka non-muslim. Mereka berasal dari Kota Bekasi, sementara sisanya dari Kabupaten Bekasi. Mereka tinggal dalam sistem asrama yang menyediakan kebutuhan dasar, mulai dari tempat tinggal, makan, hingga fasilitas pendidikan. Meski berbeda agama dan suku bangsa, mereka hidup rukun dan damai.
Di sebuah ruang berukuran sekitar 1,80 meter x 200 meter, Lastri Fajarwati, Kepala SRMA 13 Bekasi, dengan bangga mengisahkan anak asuhnya yang menjuarai berbagai kejuaraan di tingkat nasional, tingkat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), serta tingkat Kota Bekasi sendiri. Sejumlah piagam penghargaan terpatri di dinding dan medali menggantung di sebelahnya.
Di balik jilbab yang anggun, ia menyebutkan anak asuhnya yang menjadi juara olimpiade sains, matematika, dan bahasa Inggris, juara silat dan taekwondo, juara tari, bahkan juara Musabaqah Tilawatil Qur’an. “Jumaroh meraih medali emas pencak silat tingkat Kota Bekasi,” ucapnya dengan bangga.
Dengan sedikit mata berkaca-kaca, Lastri mengingat bahwa tidak mudah mengasuh anak-anak yang sudah terbiasa bebas. Dulu, mereka biasa bekerja sendiri, lalu punya uang dan beli rokok. Mereka juga biasa bergadang sampai larut malam, lalu bangun sesuka hati. Mereka biasa bermain ponsel dan hidup sesukanya.
Namun kini, mereka sudah biasa hidup tertib. Mereka biasa bangun pagi untuk shalat subuh bagi yang muslim dan melaksanakan kegiatan kerohanian bagi non-muslim. Mereka mulai hidup bersih, rapi, dan tentu saja penuh solidaritas. Ketika ada seorang anak yang karena kelamaan hidup di jalanan kurang bisa membaca, teman-temannya justru menyemangati dan memberi dukungan sehingga anak itu bisa mengejar yang lain.
“Solidaritas anak-anak sangat tinggi,” ungkap Lastri penuh bahagia.
Sebelum mulai kalender akademik, pelajar di SRMA 13 mengikuti masa adaptasi dan matrikulasi sekitar 3 bulan. Di masa ini, pelajar berlatih untuk menjadi manusia yang berkarakter dan berakhlak mulia, pola hidup bersama, latihan mitigasi bencana, serta penyaluran bakat dan minat. Pada fase ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga diikutsertakan.
Di SRMA 13 sudah ada 14 kegiatan ekstrakurikuler yang terbagi dalam beberapa kluster seperti olahraga, seni budaya, Palang Merah Remaja (PMR), Sains dan Teknologi, serta broadcasting media.
“Alhamdulilah anak-anak senang dengan kegiatan ekstra dan memilih sesuai bakat dan minatnya, bahkan dapat meraih prestasi yang membanggakan,” ujar Lastri tersenyum puas.
Yang membuat Lastri dan jajaran pendidik di SRMA 13 bangga adalah perubahan nyata yang mulai terlihat jelas. Ada siswa yang tadinya trauma karena perjalanan hidup masa lalu, kini bisa pulih dan berprestasi. Ada anak yang mempunyai kemampuan akademik, namun keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya minder dan pendiam, namun kini mereka bisa mengekspresikan bakatnya, juga berprestasi.
“Berkat semangat para pendidik di SRMA 13, bakat dan minat para pelajar mulai tergali dan sebagian dari mereka mulai berprestasi, minimal di tingkat Kota Bekasi,” ungkap Lastri bangga.
Membumikan Impian
Secara nasional, perkembangan sekolah rakyat mempertontonksn kabar menggembirakan. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 166 Sekolah Rakyat telah menjalankan tugasnya dan memberi manfaat pada hampir 15 ribu anak-anak keluarga prasejahtera. Ini berarti masih ada sekitar 27 ribu anak-anak keluarga prasejahtera yang belum mendapatkan penanganan komprehensif dari negara.
Presiden Prabowo Subianto mentargetkan pada 2029 nanti mereka semua sudah terurus melalui sekitar 500 sekolah rakyat. Tentu saja, target dan pencapaian kuantitatif harus dibarengi dengan keberhasilan kualitatif.
Penjelasan Lastri Fajarwati menyiratkan bahwa sekolah rakyat juga menghadapi berbagai persoalan. Di antaranya, sistem sekolah berasrama membutuhkan penguatan peran tenaga pendidik. Banyak siswa datang dengan luka psikologis akibat kemiskinan, kekerasan, atau hidup di jalanan yang liar. Mereka membutuhkan pendamping agar mampu menjadi tempat berkeluh kesah secara emosional.
Untuk itu, seperti pesantren yang menjadi tempat tumbuh berkembang Menteri Sosial Saifullah Yusuf, sekolah berasrama sangat membutuhkan guru yang mempunyai jiwa pendidikan (tarbiyah), pengasuhan (hadhanah), suri tauladan (uswah), pengawasan (muraqabah), dan yang terpenting adalah konsistensi (istiqamah/mudawamah).
Memungut Masa Depan
Angin berhembus sepoi-sepoi. Spanduk di seberang pintu gerbang SRMA 13 bergambar Presiden Prabowo terus berjuntai. Tapi pesannya terbaca jelas: “Harapan bangsa Indonesia bukanlah impian semata, tapi harus menjadi kenyataan.”
Saat matahari mulai meninggi, Subur masih menunduk di antara tumpukan sampah Bantargebang. Tangannya yang legam terbakar matahari terus mengais botol plastik bekas. Di kejauhan, di ruang kelas SRMA 13, Jumaroh sedang mengerjakan ujian akhir tahun bersama teman-temannya.
Jarak keduanya cukup dekat, hanya sekitar 20 menit dengan motor. Namun bagi keluarga pemulung itu, perjalanan dari gunung sampah menuju bangku sekolah terasa seperti melintasi satu generasi kehidupan.
Subur masih memungut sampah. Tetapi kini, putrinya Jumaroh sedang merajut masa depan.















































































