Kalau kawan Denny JA belum lama ini didapuk menjadi Komisaris Utama PT Oleh: Cak AT, Kolumnis , maka sungguh ini momentum yang layak disambut gegap gempita. Kita semua, terutama para pemilik puisi-puisi esai, diagram optimisme, dan narasi-narasi kebangkitan berbumbu peradaban, patut optimis dengan energi kita.
Tapi mohon maaf, ๐จ๐๐ฎ๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐จ๐ช๐ ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐ช๐ฃ๐๐ช๐ ๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐๐ฃ๐ฎ๐๐๐ฃ, seperti judul tulisan ini, ๐๐๐๐๐ฃ๐๐๐ฃ๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐ช๐ฃ๐๐๐๐ ๐ฅ๐ช๐๐๐๐ฃ. Maka ketika membaca esai โMake Pertamina Great Againโ yang Bung Denny JA unggah 25 Juli, saya mendadak ingin bertanya โpakai nada setengah bercanda, setengah bertanya sungguhan:
– Apakah yang dimaksud “kemandirian energi” itu cuma berarti mandiri dalam ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฃ๐ถ๐ฎ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ง๐ฐ๐ด๐ช๐ญ?
Atau barangkali:
– Apakah bisa disebut โkemandirianโ kalau ๐ง๐ฐ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ด๐ช ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ถ๐ฎ๐ถ๐ณ ๐ต๐ถ๐ข, ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช, ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ, ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ถ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ข๐ด ๐ฃ๐ถ๐ฎ๐ช?
Dalam esai itu, kawan Denny menyulap nostalgia tentang kejayaan Pertamina era Ibnu Sutowo ke dalam visi revivalis: satu juta barel per hari! Fantastis. Kita seolah diajak naik mesin waktu โbukan ke masa depan, tapi ke masa lalu yang dilapisi irisan-irisan semangat baru.
Betul bahwa produksi migas kita pernah tembus 1,2 juta barel. Tapi jangan lupa, itu zaman ketika energi dunia memang masih dikuasai minyak mentah, dan pemanasan global belum jadi momok. Sekarang? Tahun 2025 ini, bahkan Shell, BP, dan TotalEnergies pun sedang migrasi ke energi terbarukan.
Maka pertanyaannya yang patut kita renungkan: Apakah Indonesia ingin kemandirian energi, atau ingin mandiri dalam menyusul ketertinggalan โdengan bahan bakar abad 20?
Tentu, ada logika di balik ambisi satu juta barel: ๐ฆ๐ฏ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ค๐ฆ๐ฅ ๐ฐ๐ช๐ญ ๐ณ๐ฆ๐ค๐ฐ๐ท๐ฆ๐ณ๐บ, teknologi baru, percepatan perizinan, kerja sama SKK Migas, dan seterusnya.
Baiklah, itu sudah pasti jadi bagian dari tugas BUMN PHE. Tapi kemandirian energi seharusnya bukan semata mandiri menggali dan mengolah.
Karena bagaimana pun, minyak dan gas adalah energi yang menyusut. Hari ini kita temukan ladang baru, besok dia habis. Energi fosil itu ibarat beras dalam karung: kita bisa hemat, bisa beli karung baru, tapi tetap akan habis juga.
Sedangkan energi surya, angin, dan panas bumi, ibarat matahari pagi โselalu datang besok, tak peduli geopolitik dan mafia migas.
Pasalnya, banyak negara lain sudah menyebarang jauh. Mari tengok Norwegia. Hampir seluruh listriknya dari hidro. Costa Rica? 98% dari energi terbarukan. Islandia? ๐๐ฆ๐ฐ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ญ ๐ช๐ด ๐ฌ๐ช๐ฏ๐จ.
Bahkan Tiongkok, negara penguasa batu bara, kini malah jadi produsen terbesar panel surya di dunia.
Lalu kita, bangsa maritim yang katanya surya-nya 12 jam sehari, angin-nya kencang di 17.000 pulau, dan panas buminya memuncak dari Sabang sampai Merauke โmasih sibuk mempercepat izin sumur, baik yang muda maupun yang tua.
Dan, itu semua dibungkus dalam semangat “kemandirian energi”. Bersama itu, kawan Denny menulis tentang festival budaya dalam CSR. Bagus, tentu saja. Tapi maaf, bumi tak bisa disejukkan dengan festival budaya saja. Kita butuh revolusi kebijakan energi, bukan sekadar narasi peradaban.
Tentu, saya tak bermaksud menertawakan. Saya ingin mengingatkan. Justru karena Bung Denny kini di dalam, saya berharap ia bisa mendorong ke arah energi masa depan. Bukan hanya menggali energi yang lama-lama bisa menggali lubang.
Karena kalau hanya mengejar 1 juta barel tanpa satu panel surya pun di halaman kilang โmaka itu bukan “Make Pertamina Great Again,” tapi “Make Pertamina Fossil Forever.”
Kemandirian energi sejati hanya bisa lahir jika negeri ini tak sekadar mandiri mengebor, tapi juga berdaulat dalam membangun masa depan energi bersih.
Kemandirian itu baru tulen jika ia tahan menghadapi badai geopolitik, tahan krisis iklim, dan tahan dari generasi yang kelak bertanya: “Kenapa dulu kita terus menggali, padahal matahari bersinar di atas kepala?”
Kritik ini bukan sinisme. Ini ajakan reflektif. Saya yakin, masih ada jalan. Saya percaya, orang seperti Denny JA, yang bisa menulis ratusan esai filsafat dan puisi esai, pasti bisa juga menulis ulang narasi Pertamina โdengan bab baru tentang transisi energi.
Kalau ingin benar-benar menjadikan Pertamina sebagai gerakan nasional, maka mari mulai dari gerakan ke arah energi berkelanjutan.
Karena gerakan yang hanya memutar sumur tua, cuma akan menghasilkan mimpi lama dengan seragam baru.
—-ooOoo—-
Cak AT = Ahmadie Thaha seorang kolumnis.
#fyp #pengikut #jangkauanluas #semuaorang #AhmadieThaha #CatatanCakAT #MahadTadabburQuran #DennyJA #Pertamina #KomisarisUtamaPHE













































































